Ada banyak selebriti yang mengaku mengidap penyakit lupus. Sebenarnya penyakit lupus itu apa?

Tips442 Dilihat

Ada banyak selebriti yang mengaku mengidap penyakit lupus. Sebenarnya penyakit lupus itu apa?

Isyana Sarasvati, Selena Gomez, Toni Braxton, Nick Cannon, hingga Ega Olivia merupakan beberapa selebriti yang mengungkap menderita penyakit lupus. Penyakit satu ini tidak bisa disembuhkan dan dapat menyerang semua orang dari berbagai kalangan usia.

Lalu penderitanya, atau yang biasa disebut odapus, harus berbuat apa jika didiagnosis menderita penyakit ini? Di bawah ini akan dijelaskan secara lengkap tentang penyakit lupus, dari pengertian, gejala, penyebab, sampai pengobatannya.

Pengertian Penyakit Lupus
Menurut situs Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Lupus Eritematosus Sistemik (Systemic Lupus Erythematosus/SLE) atau yang lebih dikenal sebagai penyakit Lupus, merupakan penyakit autoimun reumatik kronis, dapat mengenai banyak organ tubuh dengan tampilan klinis yang sangat beragam.

Lantaran tampilannya antara satu penderita dan penderita lain berbeda-beda, ditambah tampilannya menyerupai penyakit lain, maka penyakit lupus sering juga disebut penyakit seribu wajah.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), penyakit lupus adalah penyakit kulit yang berupa borok (terutama pada kulit wajah).

Sementara menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), SLE atau penyakit lupus adalah penyakit autoimun di mana sistem kekebalan menyerang jaringannya sendiri, sehingga menyebabkan peradangan luas dan kerusakan jaringan pada organ yang terkena.

Penyebab Penyakit Lupus
Penyebab penyakit lupus sebenarnya tidak diketahui, tetapi diyakini hal itu berkaitan dengan faktor genetik, hormon, dan lingkungan.

Gejala Penyakit Lupus
Ada beberapa tanda yang menunjukkan gejala penyakit lupus. Berikut beberapa gejala penyakit lupus yang biasa muncul pada odapus:

  • Muncul ruam pada kulit, baik di wajah maupun anggota tubuh lain
  • Tubuh mudah lelah
  • Muncul rasa nyeri atau bengkak di area sendi
  • Sulit bernafas
  • Rambut rontok
  • Luka, biasanya di mulut atau hidung, yang tidak sembuh-sembuh
  • Demam
  • Kejang-kejang
  • Sensitif terhadap sinar matahari
  • Mengalami flare

Jenis Penyakit Lupus
Penyakit lupus terbagi lagi jadi beberapa jenis yang lebih spesifik. Berikut ini jenis-jenis penyakit lupus:

1. Systemic Lupus Erythematosus (SLE)
Ini merupakan penyakit lupus paling umum ditemukan. SLE dapat menyerang berbagai organ tubuh, di antaranya ginjal, sendi, kulit, sistem saraf, hingga jantung.

2. Lupus Neonatus
Kalau jenis yang satu ini justru paling jarang terjadi. Itu karena penyakit ini menyerang bayi yang baru lahir. Lupus neonatus terjadi ketika bayi secara pasif memperoleh auto-antibodi dari ibu dengan SLE.

3. Lupus Kulit
Cutaneous lupus (lupus kulit) adalah lupus yang mempengaruhi kulit dalam bentuk ruam atau lesi. Lupus jenis ini dapat terjadi pada bagian tubuh manapun, namun biasanya muncul pada bagian kulit yang terpapar sinar matahari.

4. Lupus Induksi Obat
Jenis penyakit lupus ini mirip dengan SLE. Tetapi terjadinya akibat reaksi berlebihan terhadap obat-obatan tertentu. Gejala biasanya terjadi 3-6 bulan setelah mulai pengobatan, dan biasanya hilang setelah obat dihentikan.

Pengobatan Penyakit Lupus
Penyakit autoimun satu ini tidak dapat disembuhkan. Lalu tingkat bahayanya pun berbeda-beda, dapat berkisar dari ringan hingga yang mengancam jiwa. Oleh sebab itu, lupus sebaiknya ditangani oleh dokter atau tim dokter yang ahli dalam merawat pasien SLE.

Biasanya dokter akan meresepkan obat-obatan untuk mengurangi gejala SLE yang muncul dan mencegahnya jadi tambah parah. Adapun obat-obatan yang biasa diberikan antara lain obat imunosupresan yang menghambat aktivitas sistem kekebalan tubuh atau kortikosteroid yang bekerja mencegah terjadinya peradangan.

Lalu jangan lupa untuk menerapkan pola hidup sehat dengan makan-makanan yang bergizi, rutin olahraga, tidak merokok, dan belajar untuk mengelola stres karena stres dapat memperburuk kondisi SLE.

Semakin cepat terdiagnosis, maka odapus akan mendapatkan perawatan medis yang tepat, perawatan pencegahan, dan edukasi yang dapat meningkatkan fungsi dan kualitas hidup secara signifikan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *