Aktor senior, Mark Sungkar, merasa kasus dugaan korupsi yang kini dihadapinya terkesan dipaksakan

oleh -590 views

Aktor senior, Mark Sungkar, merasa kasus dugaan korupsi yang kini dihadapinya terkesan dipaksakan.

Kasus dugaan korupsi Dana Kegiatan Pelatnas Triathlon yang menyeretnya hingga kini masih terus disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Dalam sidang yang dijalani ayah kandung Shireen Sungkar itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan saksi ahli dan juga mendengar keterangan saksi ahli hukum tata negara yang diajukan tim kuasa hukum Mark Sungkar.

Dalam kesaksiannya, saksi dari Mark Sungkar yakni Muhammad Rullyandi menyebutkan bahwa Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) seharusnya melaporkan ke penegak hukum jika ada yang bertentangan dengan pengelolaan keuangan negara, namun untuk kasus ini ternyata tak ada laporan apapun kepada negara.

“Bilamana ada temuan unsur yang bertentangan dengan negara terkait pengelolaan keuangan negara, seharusnya BPK yang melapor ke penegak hukum. Nah hari ini saya melihat BPK itu seperti membuat satu kesimpulannya sendiri, sehingga itu menyalahi undang-undang (UU). Dan ini bertentangan dengan peraturan BPK sendiri terkait sistem pengelolaan keuangan negara. Ini diperlukan kepastian hukum, dan ini tidak terjadi. Dan saya hadir sebagai saksi mesti meyakini hakim bahwa dalam kasus ini ada kekeliruan,” ungkap Rullyandi dalam persidangan yang digelar kemarin.

Senada dengan Rully, Mark Sungkar yang merupakan mantan ketua umum Pengurus Pusat Federasi Triathlon Indonesia (PPFTI) menyatakan saksi ahli dari pihak JPU sangat mengapresiasi dirinya dalam menghadapi kasus ini. Bahkan secara pribadi sempat disebutkan dirinya hanya sebagai korban dari kasus tersebut.

“Beliau secara pribadi sempat mengatakan kepada saya, kalau saya hanya sebagai korban. Kan disebutkan bahwa beliau mengatakan dasarnya bantuan itu untuk try intry out. Kalau itu dijadikan dasar, tentu menjadi tidak jelas. Kalau try in bertanding di dalam negeri dan try out bertanding di luar negeri, bantuan untuk itu, sedangkan uangnya itu tidak ada. Jadi yang dirugikan siapa?” ucap Mark Sungkar.

“Untuk meningkatkan prestasi persiapan atlet Asian Games, tetapi uangnya nol. Padahal kontraknya ada. Yang melanggar perjanjian bukan kami. Cabang Olahraga (Cabor) ini hanya korban dari oknum Kempora yang harusnya diusut,” lanjutnya.

Sehingga dalam kesimpulannya, pria kelahiran Surakarta, 22 Oktober 1948 itu berpendapat bahwa ada kemungkinan kesalahan manajemen pelaporan yang dilakukan oleh oknum tertentu. Mark menilai bahwa kasus yang dihadapinya terlalu dipaksakan.

“Kami melihat kasus ini dipaksakan. Dan alhamdulillah anak-anak selalu mendukung sepenuhnya. Mereka hanya mengingatkan, kalau mau tempur kita tempur, karena kami tahu bahwa kami tidak salah. Harapan kita, Allah membuka hati Hakim untuk benar-benar melihat kebenaran,” tandas Mark.

No More Posts Available.

No more pages to load.