Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia telah menerbitkan Izin Pakai Darurat

oleh -226 views

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia telah menerbitkan Izin Pakai Darurat untuk pemberian vaksin COVID-19 Sinovac bagi lansia yang berusia di atas 60 tahun. Pemberian vaksin COVID-19 Sinovac pada lansia pun telah dimulai hari ini (8/02/2021). Meski demikian, BPOM mengingatkan akan penyuntikan vaksin bagi lansia yang berusia di atas 70 tahun.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pun mengatakan kelompok lansia menjadi populasi yang sangat rentan sehingga perlu adanya vaksinasi untuk menekan angka kematian. Selain itu, salah satu alasan para nakes yang belum mendapatkan vaksin COVID-19 adalah karena faktor usia lanjut.

Bupati Pesawaran

“Tenaga kesehatan yang di atas 60 tahun itu ada 11.600-an, mereka belum bisa disuntik karena emergency use authorization itu rentangnya 18-59 tahun,” kata Menkes Budi Gunadi Sadikin.

Pemberian vaksin COVID-19 Sinovac agak sedikit berbeda dengan kelompok usia di bawahnya. Vaksin disuntikkan ke dalam otot intramuskular sebanyak 0,5 ml dalam dua dosis untuk selang waktu 28 hari.

Disetujuinya pemberian vaksin COVID-19 Sinovac bagi lansia karena imunogenitas Sinovac pada lansia yang mencapai 97,96%. Selain itu, vaksin asal China ini juga mampu menekan dampak buruk pada lansia.

Pada hasil uji klinis yang dilakukan pada 22 Mei hingga 15 Juni 2020 menyebut vaksin COVID-19 Sinovac cukup aman dan stabil bagi lansia. Hasil efikasi vaksin disebut berkurang karena lansia memiliki kekebalan tubuh yang rendah, namun tubuh masih dapat mentoleransi dengan baik.

Efek samping yang ditimbulkan dari vaksin Sinovac ini masih berkisar reaksi ringan hingga sedang dengan rata-rata reaksi muncul pada 7 hari hari setelah vaksin. Paling sering yang terjadi adalah rasa nyeri di daerah suntikan dan demam. Namun akan pulih dalam 48 jam.

728×90 Leaderbord

Meski dinilai cukup aman, Kepala BPOM Penny M Lukito pemberian vaksin COVID-19 pada lansia harus dilakukan secara hati-hati. Pasalnya, kelompok usia ini dinilai cenderung memiliki berbagai penyakit penyerta atau komorbid yang harus diperhatikan dalam.

“Oleh karena itu, proses skrining menjadi sangat kritikal sebelum dokter memutuskan untuk memberikan persetujuan vaksinasi,” kata Penny.