Bank Indonesia (BI) memperkirakan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) hanya akan satu kali menurunkan suku bunga acuannya (Fed Funds Rate/FFR) pada 2024

Bank Indonesia (BI) memperkirakan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) hanya akan satu kali menurunkan suku bunga acuannya (Fed Funds Rate/FFR) pada 2024

Ekonomi49 Dilihat

Bank Indonesia (BI) memperkirakan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) hanya akan satu kali menurunkan suku bunga acuannya (Fed Funds Rate/FFR) pada 2024. Namun, BI terus mencermati kebijakan The Fed dan dinamika yang terjadi di perekonomian global.

“Kami membuat skenario baseline-nya FFR turun hanya 1 kali tahun ini sebesar 25 basis poin,” ucap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan Mei 2024 di gedung Thamrin BI pada Rabu (22/5/2024).

Perry mengungkapkan, BI terus melakukan kajian terhadap risiko terkait arah penurunan FFR dan dinamika ketegangan geopolitik global. Alasannya dapat mendorong berlanjutnya ketidakpastian pasar keuangan global, meningkatnya tekanan inflasi, dan menurunnya prospek pertumbuhan ekonomi dunia.

Kondisi tersebut, menurut dia, harus direspons dengan kebijakan yang kuat untuk memitigasi dampak negatif dari rambatan ketidakpastian global terhadap perekonomian negara-negara berkembang,termasuk Indonesia.

“Tetap tingginya inflasi dan kuatnya pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat mendorong spekulasi penurunan FFR yang lebih kecil dan lebih lama dari perkiraan, sejalan pula dengan pernyataan para pejabat Federal Reserve System,” ungkap Perry.

Besarnya kebutuhan utang Amerika mengakibatkan terus meningkatnya yield US Treasury dan penguatan dolar Amerika Serikat semakin tinggi secara global. Semakin kuatnya dolar AS juga didorong oleh melemahnya sejumlah mata uang dunia seperti Yen Jepang dan Yuan Tiongkok.

Sementara itu, ketidakpastian pasar keuangan global semakin buruk akibat eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. “Akibatnya, investor global memindahkan portofolionya ke aset yang lebih aman, khususnya mata uang dolar AS dan emas sehingga menyebabkan pelarian modal ke luar dan pelemahan nilai tukar di negara berkembang semakin besar,” terang Perry.