Bekerja dengan Hati, Bawa Mardiah Melaju Ikut Seleksi PSM Berprestasi Tingkat Nasional

oleh -3 views

 

dnewsmedcenter – Menjalani tugas sebagai Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) tentunya memiliki suka duka yang dihadapi. Mardiah, PSM yang berasal dari Kelurahan Cipedak, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan menerjemahkan dua hal tersebut menjadi motivasi dalam menjalani tugasnya. “Kalau saya, semuanya dibawa enjoy dan dinikmati. Kalau nemu susahnya, itu tantangan. Dengan adanya susah, itu kita jadi bisa berbuat lebih banyak. Makanya saya tanamkan di hati saya, gak ada duka. Adanya suka,” ungkap Mardiah, (Jumat 13 September 2019).

“Jadi bagi saya susahnya itu gak ada. Ketika orang lain bisa tersenyum, hilang tuh semuanya dukanya. Susahnya itu ketika melihat orang lain susah dan sedih. Saya selalu mikir, apa yang bisa saya perbuat. Jadi kalau ada yang nanya suka duka, ya banyak sukanya. Dukanya saya jadikan motivasi,” tambahnya.

Mardiah menjalani tugasnya sebagai PSM sejak 1989. Kala itu ia bercita-cita ingin menjadi manusia berguna bagi nusa dan bangsa. Namun, Mardiah menyadari tidak banyak peluang baginya, mengingat latar belakang pendidikannya hanya sampai bangku SMP.

“Ya waktu itu saya berpikir, bagaimana bisa berguna kalau pendidikan saya saja rendah. Ekonomi saya sangat terbatas. Rumah masih reot. Akhirnya waktu itu saya melihat ada Posyandu. Saya menawarkan diri untuk bantu-bantu di sana. Terus berikutnya jika ada posyandu, saya diinfokan. Terus kemudian saya ditawari menjadi simpatisan pekerja sosial,” ungkapnya.

Selama dirinya menjadi PSM banyak terobosan yang dilakukan, salah satunya adalah Koin Peduli. Mardiah terinsipiransi, ketika melihat uang jatuh di jalan atau dimanapun, untuk dikumpulkan dan digunakan pada hal-hal yang bermanfaat. Kemudian ide tersebut disosialisasikannya kepada masyarakat dalam kegiatan Jumat Bersih. Hingga saat ini, gagasan Koin Peduli tersebut masih berjalan dan memberikan banyak manfaat, terlebih ketika ada orang yang sedang sakit. “Awalnya sih idenya sepele ya, tapi ternyata kalau dikumpulkan bisa banyak dan bermanfaat. Kalau tidak digunakan, disimpan sebagai simpanan kelompok. Nanti kalau ada yang butuh silahkan digunakan,” terang Mardiah.

Tak hanya itu, Mardiah juga membuat Kelompok Peduli Gizi, dimana bersinergi dengan pihak kelurahan dan kecamatan setempat. Kegiatan ini mengajarkan kepada para Ibu untuk menjaga kesehatan bagi keluarga. “Ada dokter atau dari pihak kelurahan dan kecamatan yang hadir mengisi kegiatan ini. Antusias Ibu-ibunya juga terlihat, karena ini merupakan materi penting dalam menjaga kesehatan keluarga,” ungkapnya.

728×90 Leaderbord

Hal lain yang dilakukan Mardiah adalah menghidupkan kegiatan Ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) dengan aktivitas yang produktif dan bermanfaat, seperti bergabung dalam KUBE tertentu, berperan dalam menjaga lingkungan yakni dengan mengumpulkan biji buah-buahan untuk ditanam kembali. Selain itu, Ibu-ibu juga diajak untuk aktif pada kelompok tani, dimana hasil dari tani berupa singkong, dapat diolah menjadi keripik dan dijual kembali. “Saya bentuk kelompok tani dan ada kegiatan pasca panennya. Nah, pemanfaatan daripada pasca panen tersebut berupa olahan singkong dan dipasarkan melalui KUBE. Nah hasil dari KUBE tersebut saya bisa menfaatkan lagi untuk mengentaskan permasalahan kemiskinan,” jelas Mardiah.

Mengingat besarnya pengaruh PSM bagi masyarakat, Mardiah pun berharap PSM di Indonesia dapat memanfaatkan potensi yang ada dan mengoptimalkan layanan program pemerintah dengan baik. “Harapan saya teruslah belajar, gali potensi diri. Manfaatkan potensi yang ada, sampaikan informasi dengan benar. Manfaatkan layanan program pemerintah dengan baik. Jangan pernah bosan menolong orang. Karena untuk menjadi PSM, harus punya jiwa sosial dan bekerja dari hati,” tutupnya.(mar)