Berhenti Menyalahkan Diri atas Semua yang Terjadi

0 86

Masing-masing dari kita memiliki cara dan perjuangan sendiri dalam usaha untuk mencintai diri sendiri. Kita pun memiliki sudut pandang sendiri mengenai definisi dari mencintai diri sendiri sebagai proses untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Usia 20-an yang berada di fase dewasa membuat siapa saja mendapatkan pertanyaan yang beragam dan seringkali mengusik pikiran. Diawali kapan lulus kuliah? Kapan kerja? Kapan nikah? Serta kapan yang lainnya. Suatu hari aku menemukan sebuah pertanyaan yang membuat hati tenang, sesuatu yang baru aku dengar selama hidupku.

“Kapan bahagia?”

Pertanyaan singkat tapi melekat. Seolah pertanyaan itu ditujukan untuk semua orang yang membacanya. Apakah kita bahagia dengan apa yang sudah kita miliki, lakukan, bahkan yang sedang kita perjuangkan?

Mulai sejak saat membaca dua kata itu, aku menanyakan kepada diri apakah sudah bahagia? Dampaknya sangat terasa, aku benar-benar mengenali siapa diriku dan apa tujuanku.

Tadinya aku sering kepo mengenai kehidupan teman-teman di media sosial, merasa bahwa mereka yang hidupnya enak sangatlah bahagia. Tapi seperti sudah terencana, satu per satu aku menemukan berita yang membuka mata hati. Hingga aku mendapatkan kesimpulan bahwa bahagia tidak ditentukan seberapa banyak harta yang kita miliki, berapa tempat yang sudah kita kunjungi, dan berapa banyak prestasi yang sudah kita ukir.

Kebahagiaan lebih dari itu. Kebahagiaan hadir pada diri masing-masing dengan persepsi yang berbeda. Coba kita bertanya kepada anak yang berusia di bawah sepuluh tahun, paling-paling mereka menjawab merasa bahagia karena mendapatkan uang jajan setiap hari, mendapatkan mainan baru, dan dapat nilai seratus.

Alasan seseorang bahagia sejalan dengan usia yang ada. Aku bahagia ketika mampu menyelesaikan apa yang sedang aku kerjakan. Seseorang bahagia karena dapat menikah di usia yang sesuai dengan impiannya.Selvy Arianti 

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Chat DJ