Bocornya tiket pemesanan hotel dari salah satu platform perjalanan wisata dan menjadi viral di dunia maya

oleh -523 views

Bocornya tiket pemesanan hotel dari salah satu platform perjalanan wisata dan menjadi viral di dunia maya, memantik pro dan kontra di kalangan warganet.

Pasalnya, bocornya data pribadi membuat publik ketar-ketir. Amankah pemesanan tiket pesawat dan hotel via aplikasi perjalanan wisata? Mengingat, data dan rekam jejak transaksi seolah dengan mudah dipublikasikan tanpa izin pemilik akun.

Bupati Pesawaran

Menanggapi hal ini, pengamat sekuriti dan finansial Vaksincom, Alfons Tanujaya menyampaikan, di era digital tentunya transaksi via aplikasi tak terhindarkan karena membuat hidup jadi lebih efisien.

“Terkait keamanan akun aplikasi, ada tiga pihak yang patut disorot. Pertama, penyedia aplikasi. Mereka wajib mengamankan data. Data adalah amanat bukan berkat. Amanat harus dijaga sebaik-baiknya,” urai Alfons .

Kedua, lanjut Alfons, pemerintah. Mereka harus menerapkan satu standar dalam mengelola sekaligus mengamankan data pengguna. “Saat ini menurut saya, belum ada badan khusus yang mengelola data pribadi untuk kemudian menjadi wasit. Ia punya kewenangan untuk menerapkan sanksi jika terjadi pelanggaran. Tata kelolanya menggunakan ISO: 270001 agar lebih terstruktur dan jelas,” imbuhnya.

Ketiga, pengguna. Mereka yang terpenting karena kerap jadi korban dengan kerugian terbesar. Nama akun dan kata sandi kerap bocor. Riwayat transaksi dan data penting lainnya lantas dipublikasikan pihak yang tidak bertanggung jawab.

“Karenanya, inisiatif mengamankan data diri juga perlu tumbuh dari pihak konsumen. Itu bisa dimulai dengan mengindahkan dua hal sebelum mengunduh aplikasi layanan ke perangkat gawai atau gadget,” kata Alfons mengingatkan.

Pertama, pilih aplikasi yang punya layanan bagus dan menerapkan setidaknya two factors authentication atau autentikasi dua faktor. “Jangan merasa aman dengan user name dan password semata. Autentikasi dua faktor adalah perlindungan standar yang memberi keamanan tambahan andai nama pengguna dan kata sandi bocor. Kedua, perhatikan rekam jejak aplikasi tersebut,” tegasnya.

Alfons membagikan tiga tips agar pengguna dapat bertransaksi dengan aman dan nyaman lewat aplikasi. Pertama, pastikan aplikasi ini memiliki setidaknya autentikasi dua faktor. Dengan ini, data pengguna menjadi lebih sulit diretas.

“Mengapa penting melindungi data diri? Di era digital, data diri yang tersimpan di jalur digital lebih berharga daripada minyak bumi. Akses ini mudah dicuri jika hanya mengandalkan user name dan password,” cetus Alfons.

Kedua, mengganti password secara berkala boleh tapi jangan terlalu sering. Terlalu sering ganti password berpotensi bikin bingung dan akhirnya malah lupa. “Lakukan setahun sekali sebagai penyegaran tak masalah,” tambahnya.

Ketiga, tidak mungkin pengguna hanya mengunduh satu aplikasi di ponsel. Artinya, makin banyak aplikasi makin banyak nama dan kata sandi yang mesti dihafal.

“Gunakan password manager yang memungkinkan anda punya password master untuk memayungi nama dan kata sandi. Di sanalah, beragam kata sandi ciptaan anda bersemayam dengan aman,” katanya menyarankan.

Alfons sendiri percaya platform perjalanan wisata menyimpan data pribadi konsumen dengan aman. “Mengingat, bocornya data pribadi pengguna bisa mengguncang kepercayaan publik terhadap sebuah aplikasi. Untuk memulihkan kepercayaan ini butuh waktu lama. Sudah ada beberapa contoh kasus sebelumnya. Saya yakin pihak sana memegang teguh asas ini,” pungkasnya.

 

No More Posts Available.

No more pages to load.