CEO Facebook Mark Zuckerberg mengatakan unggahan Presiden Donald Trump yang mengatakan “ketika penjarahan dimulai, penembakan dimulai”

0 70

UEFA berencana untuk menyelesaikan kompetisi Liga Champions dan Liga Europa musim ini dengan memainkan semua putaran dari perempat final

CEO Facebook Mark Zuckerberg mengatakan unggahan Presiden Donald Trump yang mengatakan “ketika penjarahan dimulai, penembakan dimulai” tidak melanggar peraturan Facebook terkait ujaran kebencian. Meskipun Zuckerberg tidak mendukung pernyataan Trump, tetapi Facebook tidak akan mencabut unggahan kontroversial tersebut.

“Secara pribadi, saya memiliki reaksi negatif terhadap pernyataan yang memecah belah dan memanaskan suasana. Tetapi saya juga memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin sebuah institusi yang mendukung kebebasan berpendapat,” kata Zuckerberg.

“Saya tidak setuju dengan ucapan presiden tentang ini, tetapi saya percaya, masyarakat luas seharusnya bisa melihat sendiri karena pada akhirnya, orang-orang yang berkuasa hanya bisa dimintai pertanggungjawaban jika ucapan mereka bisa kita awasi secara terbuka,” lanjutnya.

Sebelumnya Zuckerberg mengatakan tidak akan menyensor pidato politik di platformnya karena merupakan ranah yang sensitif. Panduan sensor Facebook hanya untuk unggahan yang bisa melukai diri sendiri atau orang lain.

Salah seorang pengguna Facebook berkomentar dengan mengutip pernyataan terkenal dari Spider-Man, “Mark, Anda adalah orang yang pintar tetapi tidak melakukan hal yang benar. Dengan kekuatan yang besar, maka Anda memiliki tanggung jawab yang besar (With great power come great responsibility)”.

Di tengah-tengah “perang” Trump dengan media sosial yang dia anggap membatasi kebebasan berpendapat, Trump kembali mengeluarkan pernyataan kontroversial di Facebook dan Twitter.

Pada hari Kamis, Trump memberikan respon atas kerusuhan di Minneapolis akibat tewasnya seorang pria kulit hitam bernama George Floyd di tangan Kepolisian Minneapolis. Kota Minneapolis di negara bagian Minnesota, Amerika Serikat, dilanda kerusuhan hingga hari keempat, Jumat (29/5/2020).

Melalui Twitter dan Facebook, Trump mengatakan, “Para PREMAN ini tidak menghormati mendiang George Floyd, dan saya tidak akan membiarkannya terjadi. Saya baru saja bicara dengan Gubernur Tim Walz dan menyampaikan padanya militer akan selalu bersamanya. Jika ada masalah, kami akan merebut kendali, dan ketika penjarahan dimulai, penembakan dimulai. Terima kasih!”

George Floyd (46) tewas karena lehernya ditindih dengan lutut oleh seorang polisi hingga tidak bisa bernapas selama beberapa menit. Floyd ditangkap karena diduga membayar kasir dengan uang palsu US$ 20.

Dalam video, tiga orang polisi menindih George Floyd, 46, yang tengkurap di atas aspal dengan tangan diborgol sambil berulangkali mengeluh: “Saya tidak bisa bernapas Bung, tolong biarkan saya berdiri.”

Penangkapan yang tidak berperikemanusiaan karena mengabaikan permintaan tolong Floyd membuat geram warga AS, terutama kulit hitam yang sering menjadi sasaran kebrutalan polisi dan racial profiling (menjadi target polisi karena warna kulit).

Sejumlah tokoh masyarakat, mulai dari influencer di media sosial hingga atlet mengecam tindakan polisi. Bintang NBA LeBron James memprotes lewat Instagram dengan mengenakan kaus bertuliskan “I Cant Breathe”. Hingga saat ini tagar #GeorgeFloyd di Instagram sudah memiliki lebih dari 400.000 posts, sementara #blacklives matter lebih dari 9 juta posts.

Sikap Twitter
Berbeda dengan Facebook, Twitter menutupi tweet Trump dengan sebuah peringatan. “Cuitan ini melanggar aturan Twitter soal mengagungkan kekerasan. Namun, Twitter memutuskan cuitan ini mungkin mewakili kepentingan publik sehingga tetap bisa diakses,” bunyi pemberitahuan tersebut.

Dalam pernyataan terpisah, Twitter menjelaskan bahwa keputusan itu diambil “berdasarkan konteks historis kalimat terakhir dalam kaitannya dengan tindak kekerasan dan risiko bisa memicu tindakan serupa di era sekarang.”

Sikap Twitter atas unggahan politik di platformnya lebih tegas daripada Facebook. Selain melarang iklan politik, Twitter juga berani melabeli tweet Trump dengan peringatan “cek fakta dulu”. Hal ini membuat Trump geram hingga dirinya mengeluarkan perintah eksekutif untuk menjatuhkan perusahaan media sosial yang “menyensor” kebebasan berpendapat.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Chat DJ