Delapan belas orang dipastikan tewas dan setidaknya 200 orang lainnya hilang

oleh -611 views

Delapan belas orang dipastikan tewas pada Senin (8/2/2021), setelah serangan banjir bandang yang menghancurkan di India. Bencana tersebut diduga disebabkan oleh pecahan gletser.

Tembok air dan puing-puing yang dihasilkan meluncur ke lembah sempit di utara Himalaya India pada Minggu (7/2/2021) pagi waktu setempat. Arus air yang besar menghancurkan jembatan, jalan, dan menabrak dua pembangkit listrik tenaga air.

Bupati Pesawaran

“Ada awan debu saat air mengalir. Tanah bergetar seperti gempa,” Om Agarwal, penduduk setempat kepada televisi India, Senin (8/2).

Pemerintah negara bagian Uttarakhand mengatakan pada Senin, sebanyak 18 korban tewas telah ditemukan. Menteri Kepala Trivendra Singh Rawat mengatakan sedikitnya 200 orang masih belum ditemukan.

Kebanyakan dari mereka yang hilang sedang bekerja di dua pembangkit listrik tersebut. Beberapa orang terjebak di dua terowongan yang terputus oleh banjir dan lumpur, serta bebatuan.

“Jika kejadian ini terjadi pada malam hari, setelah jam kerja, situasinya tidak akan seburuk ini, ketika buruh dan pekerja di dalam dan di sekitar lokasi kerja akan berada di rumah,” kata Rawat kepada wartawan.

Dua belas orang diselamatkan dari salah satu terowongan pada Minggu, tetapi 25-35 orang lainnya masih terjebak di terowongan kedua, pejabat negara tanggap bencana Piyoosh Rautela mengatakan kepada AFP.

728×90 Leaderbord

Dengan tersapu bersihnya jalan utama, tim penyelamat paramiliter harus menuruni lereng bukit dengan tali untuk mencapai jalan masuk. Pekerja darurat menggunakan alat berat untuk memindahkan berton-ton batu.

“Kira-kira 80 meter (m) di dalam terowongan dibersihkan dan dapat diakses. Tampaknya itu sekitar 100 meter puing-puing di dalam terowongan masih harus dibersihkan,” ujar petugas bencana Vivek Kumar Pandey.

Ratusan petugas penyelamat melanjutkan operasi pencarian pada Senin pagi, bersama tim tanggap bencana nasional dan tim negara bagian, tim penyelam angkatan darat dan angkatan laut.

Puluhan pengguna media sosial mengabadikan bencana tersebut, dengan rekaman yang menunjukkan air mengalir melalui jalan sempit lembah dengan kekuatan arus yang deras.

“Kami berada 300 meter di dalam terowongan sedang bekerja. Tiba-tiba terdengar siulan dan teriakan menyuruh kami pergi keluar. Kami mulai kehabisan tenaga tetapi air menyembur masuk. Itu seperti adegan dari film Hollywood. Kami pikir kami tidak akan berhasil,” tutur korban selamat Rajesh Kumar (28) kepada AFP.

Pihak berwenang awalnya mengatakan penyebabnya adalah potongan gletser yang pecah menjadi sungai, tetapi pemicunya mungkin malah merupakan fenomena yang disebut banjir semburan danau glasial (GLOF).

Fenomena ini terjadi jika batas-batas danau glasial, terbentuk saat gletser tertarik, diterobos dan melepaskan sejumlah besar air di hilir. Mungkin saja hal ini disebabkan oleh longsoran salju. Insiden itu mungkin juga dipicu oleh kantong air di dalam gletser yang meledak.

Gletser di kawasan itu telah menyusut dengan cepat dalam beberapa tahun terakhir karena pemanasan global. Tetapi para ahli mengatakan, pembangunan pembangkit listrik tenaga air juga bisa menjadi faktor penyebabnya.

Banjir pada 2013 menewaskan 6.000 orang dan menyebabkan seruan untuk meninjau proyek di Uttarakhand, negara bagian berpenduduk 10 juta orang yang berbatasan dengan Tibet dan Nepal.

Vimlendhu Jha, pendiri Swechha, sebuah lembaga lingkungan non-profit, mengatakan bencana itu adalah pengingat suram dari efek perubahan iklim. “Pembangunan jalan, rel kereta api, dan pembangkit listrik yang serampangan di daerah yang secara ekologis sensitif,” kata dia.

Sebuah studi besar pada 2019 mengatakan, dua pertiga dari gletser Himalaya atau Kutub Ketiga bumi, dapat mencair pada 2100 jika emisi global tidak berkurang tajam.

Gletser di wilayah tersebut merupakan sumber air penting bagi ratusan juta orang, memberi makan banyak orang di sistem sungai terpenting di dunia.