Denmark akhirnya memutuskan untuk menghentikan secara keseluruhan pemberian vaksin Covid-19 buatan Oxford-AstraZeneca

oleh -466 views

Denmark akhirnya memutuskan untuk menghentikan secara keseluruhan pemberian vaksin Covid-19 buatan Oxford-AstraZeneca and menjadi negara Eropa pertama yang melakukannya.

Keputusan itu diambil setelah kembali muncul kasus penggumpalan darah. Sejumlah negara menangguhkan pemberian vaksin ini, tetapi belum memutuskan untuk melarang secara total.

Keputusan Denmark juga membuat jadwal vaksinasi negara itu tertunda beberapa pekan terkait pasokan.

Menurut otoritas kesehatan Denmark, 2,4 juta dosis vaksin AstraZeneca akan ditarik dari peredaran. Mereka berargumen pada hasil studi yang menunjukkan frekuensi penggumpalan darah yang lebih tinggi dari perkiraan, yang menimpa satu dari 40.000 penerima vaksin.

Sedikitnya ada dua kasus seperti ini di Denmark terkait vaksinasi. Salah satunya menimpa perempuan berusia 60 tahun yang akhirnya meninggal.

Direktur Jenderal Kesehatan Soren Brostrom mengatakan keputusan ini sangat sulit tetapi Denmark punya alternatif vaksin lainnya dan wabah Covid di Denmark juga relatif terkendali saat ini.

“Target kelompok penerima vaksin berikutnya kecil kemungkinannya akan sakit parah karena Covid-19,” kata Brostrom.

“Kami harus memperhitungkan fakta bahwa kami sekarang menemukan risiko efek samping yang parah dari vaksinasi menggunakan AstraZeneca, bahkan meskipun risikonya rendah,” imbuhnya.

Namun, otoritas Denmark mengatakan tidak tertutup kemungkinan vaksin ini akan digunakan lagi nantinya.

Hampir 1 juta warga Denmark sudah divaksin, dan sekitar 150.000 dari mereka disuntik vaksin AstraZeneca. Denmark juga memakai vaksin Pfizer/BioNTech dan Moderna.

Pekan lalu, badan pengawas obat Eropa atau European Medicines Agency mengumumkan kemungkinan keterkaitan antara vaksin AstraZeneca dan kasus penggumpalan darah pasien yang telah disuntik, tetapi tetap menegaskan bahwa risiko kematian akibat Covid jauh lebih tinggi.

Sebagian besar negara yang menangguhkan penggunaan vaksin AstraZeneca sudah kembali memakainya, meskipun dibatasi pada kelompok usia yang lebih tua.

Pada Selasa (13/4/2021), Amerika Serikat, Kanada, dan Uni Eropa menangguhkan penggunaan vaksin Johnson & Johnson juga karena kekhawatiran terjadi penggumpalan darah.

Afrika Selatan juga mengambl langkah serupa, meskipun vaksin Johnson & Johnson sudah terbukti ampuh menangkal varian virus Afrika Selatan.

Baik untuk AstraZeneca maupun Johnson & Johnson, kasus terjadinya penggumpalan darah ini sebetulnya amat sangat jarang.

Vaksinasi di UE tergolong lamban menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan insiden semacam ini bisa makin menghambat program suntikan massal.

No More Posts Available.

No more pages to load.