Dialog dengan logat khas Jawa Timuran antara kakak dan adik, Rijal dan Shella membuka film pendek “Malang-Malang Putung (2021)

oleh -816 views

Dialog dengan logat khas Jawa Timuran antara kakak dan adik, Rijal dan Shella membuka film pendek “Malang-Malang Putung (2021)” diluncurkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) untuk menjangkau generasi Z dan milenial dari kawasan 3T, yaitu Bondowoso, Situbondo, Bangkalan, dan Sampang, serta area lain di sekitar Jawa Timur.

Shella diperankan oleh Risma Putri yang baru saja masuk rumah segera melepas masker dan membuka handphone (hp). Ia menghubungi kakaknya, Rijal, diperankan oleh Tio Wovan Sukarman, yang sejak tadi menghubunginya tapi tidak mau mengangkatnya karena sedang di jalan.

“Halo opo mas, aku mau sek no dalan (halo apa mas, aku tadi di jalan,” kata Shella. Dijawab Rijal, “Saiki wes tutuk omah ta ? Yo wes sambungno no video call aku katene takok-takok (Sekarang sudah di rumah kan ? Ya sudahlah sambungkan ke video call saya mau tanya).”

Suguhan dialek khas Jawa Timuran dalam film pendek berdurasi 18 menit 46 detik itu cukup menghibur para penonton yang umumnya generasi milenial. Sejak diungguh 6 hari lalu di channel Youtube Racavana Films, sudah menggaet 69 ribu penonton . Lewat komentarnya, mereka mengapresiasi flim pendek tersebut.

“Alur cerita bagus lucu pas bahasa Jawa Timur. Saya tunggu part 2. Sukses selalu,” tulis Zahra dalam komentarnya.

Alur cerita dalam film pendek itu memang cukup sederhana, menceritakan Shella yang diminta tolong oleh Kakaknya, Rijal, untuk menjadi perantara COD laptop karena sang pembeli berada di kota yang sama dimana Shella tinggal.

Rijal kaget ketika Shella ditelepon mengaku tidak merasa mengambil laptop di kantor jasa kurir. Padahal seorang petugas telah memberitahu Rijal kalau adiknya telah mengambilnya.

Bersama temannya Pipit, Shella mendatangi kantor ekspedisi. Ternyata sebelum laptop tersebut sampai di tangan Shella, seorang penipu mengambil laptop di kantor ekspedisi dan mengatasnamakan nama Shella.

Shella, Rijal dan teman-teman mereka menelusuri jejak hilangnya laptop tersebut melalui KTP yang sempat dikirim oleh sang pembeli dan akhirnya diketahui kalau nama Shidiq tidak dijumpai di alamat sesuai KTP tersebut, alias KTP palsu.

Di akhir cerita, penonton disugi ulah Shella yang penasaran dengan pencurinya mendadak terbelalak setelah kode yang dikirim dari HP nya tersambung dengan tas milik Pipit yang tak lain adalah teman akrabnya.

Film ini cukup menghibur penonton sekaligus memberikan edukasi. “Sangat bagus, naik motor helman, tetep maskeran, mendidik, contoh yang bagus, top” komentar Puput.

“Keren film edukasi,” tulis penonton lainnya.

Film pendek “Malang-Malang Putung (2021)” yang disutradarai oleh Ludy Oji Prastama, diproduseri oleh Elena Rosmeisari dan ditulis oleh Vanis itu diluncurkan oleh Kemenkominfo. Targetnya adalah menjangkau masyarakat milenial dan generasi Z di wilayah terluar, terpencil, dan tertinggal (3T) di Indonesia.

Di bawah payung program Gerakan Nasional Literasi Digital (GLND) Siberkreasi, Kemenkominfo mengampanyekan video yang menekankan pada muatan lokal dan bahasa daerah untuk menanamkan kesadaran akan pentingnya etika digital dan keamanan daring di daerah tersebut.

Menurut Rizki Ameliah, Koordinator Literasi Digital Kementerian Kominfo, video ini dibuat untuk menarik atensi pemuda dan kaum milenial di Indonesia. “Generasi Z dan milenial merupakan bagian utama dari target audiens literasi digital kami, apalagi hampir 54% dari total populasi negara kita merupakan generasi Z dan milenial.

Ditambah lagi, lebih dari 43% penduduk Indonesia tinggal di pedesaan, tentunya penting bagi kami untuk memaksimalkan kampanye yang menargetkan masyarakat di daerah 3T,” kata Rizki, Sabtu (13/11/2021).

Film pendek dalam bahasa daerah itu untuk menjangkau generasi Z dan milenial dari kawasan 3T yaitu Bondowoso, Situbondo, Bangkalan, dan Sampang, serta area lain di sekitar Jawa Timur. Film pendek ini mengeksplorasi berbagai isu penting terkait literasi digital, seperti keamanan daring, penipuan, dan keamanan siber.

“Kami mengemas literasi digital ini ke dalam bahasa daerah, sehingga kami dapat mengkomunikasikan pesan kami secara lebih personal kepada target audiens kami. Inilah sebabnya kami memilih untuk membuat seluruh film dalam bahasa Jawa. Literasi digital harus menjadi topik yang mudah dicerna, menarik, dan berdampak bagi semua orang di Indonesia dari berbagai macam daerah yang memiliki bahasa yang berbeda,” tambah Rizki.

Lebih lanjut dikatakan, dalam film pendek ini, dibahas berbagai risiko serius dalam lingkungan digital, lewat metode percakapan, humor, dan teknik bercerita yang menarik. Cara ini diharapkan dapat membantu menangkis berbagai hoaks di dunia maya, cyberbullying dan penipuan daring.

Saat ini, keamanan daring dan etika berinternet menjadi perhatian utama netizen Indonesia dalam berinteraksi di dunia digital. Menurut Indeks Keberadaban Digital, atau sebuah laporan global tahunan yang meneliti level kesopanan dan risiko daring pada generasi muda dan masyarakat dewasa, netizen Indonesia berisiko menjadi korban penipuan internet dan pelecehan daring. Laporan tersebut juga menemukan bahwa hampir 50% netizen yang disurvei mengaku pernah terlibat dalam cyberbullying.

Sementara itu, survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) baru-baru ini mengungkapkan bahwa 31,6% korban pelecehan dan penipuan daring di Indonesia merasa tidak berdaya untuk membela diri dari hal-hal tersebut.

Isu seperti ini banyak terjadi di daerah pedesaan yang terpencil, di mana 38,4% netizen yang disurvei mengakui tidak memiliki pengalaman yang cukup di dunia digital.

“Melalui film pendek ini, kami ingin mengajarkan etika berinternet (netiket) yang benar kepada netizen Indonesia,mendorong mereka untuk menjaga pola komunikasi daring yang aman, serta cakap dalam melindungi diri dari cyberbullying dan penipuan daring,” pungkas Rizki.

 

No More Posts Available.

No more pages to load.