Direktur Pengawasan Produksi Obat, Narkotika, Psikotropika dan Prekursor BPOM

oleh -287 views

Direktur Pengawasan Produksi Obat, Narkotika, Psikotropika dan Prekursor Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Togi Junice Hutadjulu, mengatakan ketergantungan industri farmasi Indonesia terhadap bahan baku impor masih sangat tinggi mencapai 90%. Situasi itu berdampak pada penanganan Covid-19 di Indonesia saat ini khususnya ketersediaan obat yang sebagian besar harus impor dari luar negeri.

“Kondisi farmasi di Indonesia sebagaimana kita ketahui, ketergantungan kita terhadap bahan baku impor sangat tinggi, termasuk kita ketahui vaksin yang sangat kita butuhkan dalam rangka pencegahan penularan penyakit khususnya Covid-19 masih sedikit,” kata Togi dalam Sesi 2 Investor Daily Summit yang digelar oleh Beritasatu Media Holdings, Kamis (15/7/2021).

Togi mengatakan produsen bahan baku obat lokal sangat sulit bersaing dengan produsen bahan baku obat dari luar negeri. Selain itu, produsen produk biologi dan vaksin juga masih sedikit dan didominasi produk impor.

“Industri research-based juga masih sedikit,” kata Togi.

Berdasarkan profil sarana produksi obat dan bahan baku obat di Indonesia, Togi menjelaskan Indonesia saat ini memiliki 226 industri farmasi obat jadi terdiri dari 221 industri farmasi kimia, 4 industri farmasi produk biologi, dan 1 industri vaksin yaitu Bio Farma. Sedangkan dari sisi industri bahan baku obat, Indonesia hanya memiliki 9 industri saja terdiri dari 6 industri farmasi kimia, 2 industri farmasi bahan baku biologi, dan 1 industri farmasi vaksin yaitu Bio Farma.

“Jadi walaupun di sini kita melihat ada kemajuan dalam rangka mendukung kemandirian industri farmasi atau obat. Tapi kita merasakan sangat penting untuk memperkuat struktur kemandirian industri farmasi,” kata Togi.

Togi mencontohkan persentase perbandingan jumlah obat impor dan obat dalam negeri untuk penanganan Covid-19. Dari 5 obat Covid-19, persentase ketergantungan pada impor adalah 100% untuk Remdesivir, 43% untuk Favipiravir, 100% untuk Tocilizumab, 60% untuk Oseltamivir/Tamiflu, 100% untuk Intravenous immunoglobulin, dan 2% untuk Azithromycin

“Syukurnya untuk Azithromycin sudah hampir 100% kita bisa produksi di dalam negeri dan Favipiravir sudah 60% produksi dalam negeri,” kata Togi.

Togi mengakui pandemi membuat kebutuhan masyarakat akan obat baik kimia maupun tradisional serta suplemen kesehatan mengalami peningkatan tajam. “Ini situasi dimana BPOM memang harus tetap mengawal dalam rangka peningkatan akses dan ketersediaan produk-produk obat yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat,” kata Togi.

No More Posts Available.

No more pages to load.