Dokter Novitria Dwinanda SpA SubspNPM, obesitas pada anak bukan hanya tercermin dari pipi yang tembam

Dokter Novitria Dwinanda SpA SubspNPM, obesitas pada anak bukan hanya tercermin dari pipi yang tembam

Tips333 Dilihat

Dokter Novitria Dwinanda SpA SubspNPM, obesitas pada anak bukan hanya tercermin dari pipi yang tembam, tetapi juga dari perubahan warna kulit pada leher yang menjadi gelap. Perubahan ini bahkan sulit untuk diatasi.

“Kehadiran obesitas pada anak umumnya ditandai dengan perubahan warna kulit yang lebih gelap di bagian leher. Fenomena ini tidak bisa dianggap sepele. Bahkan, upaya membersihkannya dengan cara apapun tidak akan berhasil,” ungkapnya Selasa (8/8/2023).

Dijelaskan lebih lanjut, bahwa perubahan warna gelap pada leher mengindikasikan adanya resistensi insulin atau ketidakmampuan tubuh dalam mengelolanya dengan baik. Oleh karena itu, ia menyarankan agar para orangtua yang melihat tanda-tanda garis gelap pada leher anak segera melakukan pemeriksaan kadar gula darah anak tersebut.

Menurut informasi yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan, perubahan warna gelap pada leher ini dikenal sebagai Acanthosis Nigricans (AN), sebuah kelainan kulit yang sering muncul pada anak dan remaja yang mengalami kegemukan.

Anak yang mengalami AN memiliki risiko sekitar 1,6 hingga 4,2 kali lebih besar untuk mengalami hiperinsulinemia, yaitu kondisi ketika terlalu banyak insulin diproduksi dalam tubuh. Hal ini menjadikan anak-anak dengan kelainan ini lebih rentan terhadap diabetes melitus tipe 2. Temuan ini menguatkan hubungan antara AN dan diabetes melitus tipe 2.

Selain perubahan warna gelap pada leher, terdapat tanda-tanda lain yang mengindikasikan obesitas pada anak, seperti leher yang pendek, perut yang buncit, postur kaki yang sedikit bengkok, keluhan sering merasa mual dan kembung, peningkatan kolesterol, masalah perlemakan hati, gangguan siklus menstruasi pada anak perempuan, serta masalah ukuran penis yang lebih kecil dari ukuran normal pada anak laki-laki.

“Obesitas memiliki dampak yang signifikan pada kesehatan anak, bahkan hingga ke tingkat metabolisme tubuh. Anak yang menderita obesitas berisiko mengalami masalah seperti hipertensi dan diabetes melitus tipe 2. Jika kondisi ini terjadi pada usia di bawah 10 tahun, dampaknya akan semakin serius pada usia 30 tahun ke depan,” tambah dr Novitria.

Untuk mencegah anak terkena obesitas, terdapat beberapa langkah yang dapat diambil oleh para orangtua. Hal ini melibatkan aspek pola makan dan gaya hidup sehat. Beberapa langkah tersebut antara lain adalah:

1. Menciptakan Kebiasaan Makan yang Tepat
Orangtua perlu memastikan anak makan dengan tenang, bukan sambil menonton televisi atau bermain gawai. Makanan juga sebaiknya disajikan dalam kelompok keluarga, dan sarapan sehat harus menjadi kebiasaan.

2. Menjauhkan Diri dari Gawai
Penggunaan gadget atau gawai harus dibatasi, sehingga anak lebih banyak beraktivitas di luar ruangan dan bergerak aktif.

3. Pilihan Makanan yang Sehat
Mengenalkan aneka jenis makanan yang sehat pada anak, termasuk buah-buahan, sayuran, dan sumber protein berkualitas.

4. Menghindari Makanan Tidak Sehat
Makanan siap saji dan makanan olahan sebaiknya dibatasi, begitu pula dengan makanan ringan yang mengandung gula, garam, dan lemak berlebih.

5. Konsumsi Air Putih
Memastikan anak cukup minum air putih sepanjang hari, menghindari minuman bersoda yang mengandung gula tinggi.

Dengan langkah-langkah tersebut, orangtua dapat berperan penting dalam menjaga kesehatan anak dan mengurangi risiko obesitas. Perubahan pola makan dan gaya hidup yang sehat akan membantu anak tumbuh dengan baik dan mencegah dampak buruk obesitas pada kesehatan mereka di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *