Dokter spesialis penyakit dalam konsultan alergi imunologi klinik dari RS Siloam Lippo Village Tangerang

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan alergi imunologi klinik dari RS Siloam Lippo Village Tangerang

Tips35 Dilihat

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan alergi imunologi klinik dari RS Siloam Lippo Village Tangerang, Stevent Sumantri mengatakan, penyakit autoimun harus diwaspadai karena dapat menyerang siapa pun, tanpa peduli usia atau jenis kelaminnya, meski lebih sering ditemukan pada perempuan usia produktif.

Bahkan sebenarnya saat ini penyakit autoimun telah bersifat pandemi. Namun, karena banyak tak diketahui masyarakat sehingga masuk dalam kategori silent pandemic.

Penyakit autoimun, seperti lupus, sindrom, artritis reumatoid, psoriasis, miastenia gravis, tiroiditis hashimoto, dan multipel sklerosis adalah kelompok penyakit kompleks dengan sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi tubuh dari infeksi dan penyakit, justru menyerang sel-sel sehat karena salah mengenali mereka sebagai ancaman.

Stevent Sumantri mengatakan, jumlah kasus penyakut autoimun di seluruh dunia termasuk di Indonesia mengalami peningkatan dramatis belakangan pascapandemi Covid-19.

“Khususnya seusai pandemi Covid-19, dan sering kali tidak disadari sehingga lambat terdeteksi. Meski bersifat pandemi, tetapi sayangnya kasus autoimun justru tak banyak tersampaikan ke permukaan. Kita bilang silent pandemic,” katanya, Kamis (9/5/2024).

Penyakit autoimun saat ini mencapai 150 jenis. Setiap orang dapat mengalami gejala yang berbeda-beda tergantung pada jenis dan karakteristik penyakit autoimun tersebut.

Menurut konsultan alergi imunologi klinik ini, penyebabnya bisa bermacam-macam. Ada yang karena faktor genetik serta lingkungan. Kawasan industri dengan potensi pencemaran udara, air dan lainnya, memerlukan penanganan ekstra.

“Seperti dari daerah Cilegon atau kawasan industri di Serang yang saya tangani kondisinya perlu penanganan lebih ekstra,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, beberapa gejala umum autoimun yang perlu diwaspadai seperti lemas, kelelahan kronik, nyeri otot, demam ringan, kesemutan, bentol seluruh tubuh, bengkak area tertentu, rambut rontok dan kulit kemerahan.

“Ada baiknya untuk segera dikonsultasikan ke dokter apabila kondisi berulang dan menetap dalam jangka waktu lebih dari 6 minggu,” ungkap Ketua Pokja Autoimun Pengurus Pusat Peralmuni.

Jika tidak ditangani segera, penyakit autoimun dapat berujung komplikasi dan mengganggu kualitas hidup seseorang secara keseluruhan. Bahkan pada beberapa kasus dapat pula berujung pada kematian.

Untuk pencegahannya, dia menyarankan agar menerapkan gaya hidup sehat seperti olahraga teratur, istirahat cukup, makan makanan bergizi, perbanyak makan buah dan sayur yang dicuci bersih, kalau perlu yang organik bebas dari zat Kimia pestisida.

“Untuk pengobatan pada autoimun bervariasi dilihat dari jenis dan tingkat akan dampak fatal penyakitnya. Hal ini dapat meliputi obat-obatan antiinflamasi, steroid, imunosupresan, dan terapi biologis,” imbuh Stevent.

Manajemen gaya hidup juga sangat berpengaruh dalam mengelola penyakit autoimun, seperti diet seimbang, olahraga teratur, dan istirahat yang cukup.