F5 Networks, perusahaan penyedia teknologi application security dan application delivery berbasis multi-cloud menyoroti tentang transformasi digital 

oleh -445 views

F5 Networks, perusahaan penyedia teknologi application security dan application delivery berbasis multi-cloud menyoroti tentang transformasi digital yang merupakan salah satu faktor penting di berbagai industri, termasuk layanan keuangan.

Seiring dengan pesatnya pertumbuhan layanan keuangan, F5 Networks juga menyoroti dari sisi keamanan siber. Keamanan siber dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam proses transformasi digital di sektor layanan keuangan.

Menurut penelitian F5 Networks, seiring dengan pertumbuhan sektor keuangan yang masif, industri ini juga mengalami lonjakan serangan siber dan aktivitas fraud. Keamanan data menjadi perhatian khusus dan penjahat siber terus mencari kerentanan baru untuk dieksploitasi dengan serangan yang semakin canggih.

“Faktanya, menurut F5’s Curve of Convinience 2020 Report: The Privacy Convenience Paradox, hanya sekitar 57% konsumen di Indonesia yang percaya bahwa layanan keuangan cukup efektif dalam hal privasi data dan perlindungan informasi pribadi,” kata Country Manager F5 Indonesia, Surung Sinamo, melalui siaran persnya, Jumat (5/3/2021).

Bahkan, survei Cybersecurity Exposure Index (CEI) 2020 oleh PasswordManagers mengungkapkan, data negara yang paling rentan terhadap ancaman dunia maya dan juga negara yang paling tidak rentan. Dari 108 negara yang dianalisis, Indonesia menempati urutan ke-59 yang menunjukkan bahwa masih ada ruang untuk perbaikan dalam keamanan sibernya.

“Masih banyak serangan siber yang dialami di industri layanan keuangan, dengan bentuk yang umum termasuk pembobolan data, di mana informasi sensitif mulai dari nama nasabah, alamat, hingga rekening bank dan nama ibu kandung bocor. Dimana kemudian data tersebut dijual secara online di dark web atau digunakan untuk melakukan tindakan kriminal lainnya,” ujar Sinamo.

Selain itu, dari data Security Incident Response Team dari 2017-2019, F5 Labs menganalisis serangan lain yang perlu diantisipasi oleh layanan keuangan dan menemukan peningkatan yang signifikan dalam jumlah serangan yang berhubungan dengan otentikasi dan distributed denial-of-service (DDoS).

728×90 Leaderbord

Secara rata-rata, serangan brute force dan credential stuffing yaitu pencurian data kredensial yang kemudian digunakan untuk memperoleh akses ilegal terhadap account menyumbangkan 41% dari semua serangan terhadap organisasi jasa keuangan selama periode tiga tahun penuh. Tren ke depan, serangan DDoS disebut sebagai ancaman terbesar kedua bagi organisasi layanan keuangan, dimana terhitung 32% dari semua insiden yang dilaporkan antara 2017 dan 2019.

“Serangan ini dapat menyebabkan kerusakan dari akun pengguna yang terkompromi hingga gangguan service dari server yang ditargetkan dan tidak diragukan lagi dapat menyebabkan ketidaknyamanan nasabah dan hilangnya kepercayaan mereka kepada perusahaan layanan keuangan,” jelas Sinamo.

Singkatnya, data layanan keuangan adalah salah satu jenis data yang paling dicari melalui serangan dunia maya dan pelanggaran data (data breach) dapat menghancurkan baik dari sudut pandang moneter maupun reputasi organisasi.

“Karena itu, keamanan siber yang kuat untuk layanan keuangan sangat penting karena mereka perlu menyeimbangkan antara keamanan dengan kenyamanan pelanggan,” tandas Sinamo.