Gerakan ‘Indonesia Berkebaya’ yang dideklarasikan oleh Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia

0 170

DNEWSRADIO.COM – Gerakan ‘Indonesia Berkebaya’ yang dideklarasikan oleh Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia upaya mengembalikan semangat kebudayaan Indonesia dan mencintai Indonesia dengan berkebaya.

Pendiri Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia, Rahmi Hidayati menuturkan pihaknya telah mencanangkan rangkaian kegiatan untuk mencapai tujuan tersebut, salah satunya dengan gerakan ’’Selasa Berkebaya”. “Setiap Selasa para perempuan menggunakan kebaya dalam kesehariannya, baik ke kantor, ke pasar, dan berbagai aktivitas lainnya,” kata dia.

Ada empat tujuan utama gerakan ’’Indonesia Berkebaya’’ yang diusung Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia itu, yaitu memperkenalkan kembali kebaya sebagai bagian dari sejarah dan budaya Indonesia kepada generasi muda Indonesia.

“Kami juga ingin meningkatkan kreativitas dalam mendesain kebaya tanpa meninggalkan pakem budaya yang merupakan warisan leluhur, menjadi pemersatu bangsa, dan fungsi ekonomi yang bisa memajukan ekonomi kerakyatan,” ucap dia.

Mereka juga akan memperjuangkan kebaya ke Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) agar bisa seperti batik, yakni menjadi warisan budaya Indonesia.

“Selain itu, diharapkan pemerintah akan menetapkan salah satu tanggal sebagai Hari Kebaya Nasional,” ucapnya.

Dirjen Kebudayaan Kemdikbud Hilmar Farid mengatakan ,ini semua untuk menjaga warisan budaya. Gerakan budaya berbasis busana mempunyai dampak yang cukup besar hingga melebihi perkiraan, kata Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Hilmar Farid.

“Ini bisa jadi ‘statement’ (pernyataan) dan identitas bahwa Indonesia punya tradisi panjang dan mulia. Gerakan berbasis busana memang melampaui apa yang kita kira,” katanya Mengkloning GerakanPerempuan Berkebaya
Gelombang arabisasi yang dibungkus Islamisasi di Indonesia sejak beberapa tahun silam telah berdampak pada banyak hal antara lain pandangan mengenai “tata busana”. Baru beberapa tahun ini saja, umat Islam pada geger bin ribut soal tata cara berpakaian yang “Islami” atau yang “syar’i”.

Padahal, dulu tidak ada yang meributkan. Biasa-biasa saja. Para ulama hebat di Indonesia dulu tidak pernah meributkan soal “busana Islami” apalagi “hijab syar’i”. Kenapa begitu? Karena memang mereka menganggap semua itu tidak penting dan tidak substansial. Yang penting dan substansial, menurut mereka, adalah menutup aurat. Baru belakangan ini saja, setelah munculnya para ustad unyu-unyu itu, masalah “tata busana Islami/syar’i” ini menjadi marak diperbincangkan.

Sebagian kaum Muslim pun, baik laki maupun perempuan, ramai-ramai ikut-ikutan mengenakan “hijab syar’i” dan “pakaian Nabi”. Tidak sebatas itu saja. Mereka bahkan mengolok-olok semua jenis busana tradisional atau pakaian adat Nusantara warisan leluhur yang mereka anggap “tidak Islami”, “tidak syar’i”, “tidak surgawi” dan seterusnya.

Didorong oleh rasa keprihatinan mendalam khususnya atas maraknya gerakan “hijabisasi masyarakat” inilah, sekelompok perempuan di Jogja “mendeklarasikan” sebuah aksi atau gerakan “Perempuan Berkebaya” yang kini bukan hanya di Jogja saja tetapi juga di beberapa daerah di Indonesia, khususnya Jawa. Mereka bukan hanya berwacana tetapi juga berkebaya kemana-mana di tempat-tempat publik sehingga menarik perhatian banyak pihak.

Memang agak aneh sebetulnya jika ada orang merasa aneh dengan warisan tradisi dan budayanya sendiri. Tapi itulah sebagian fakta sosial di masyarakat kita. Karena hijab dan jubah sudah menjadi semacam “industri agama” yang berskala transnasional dan ditopang oleh berbagai kelompok lapisan masyarakat yang berkepentingan: politisi, dai, birokrat, pengusaha pakaian, dlsb, maka berbagai jenis pakaian adat-tradisional yang berskala lokal menjadi terancam eksistensinya. Ibaratnya, pakaian adat-tradisional itu seperti “home industry” yang sedang menghadapi gempuran hijab dan jubah sebagai “multinational corporation”.

Dalam konteks inilah, gerakan “Perempuan Berkebaya Jogja” hadir yang bukan hanya sebagai “kritik wacana” atau “kritik sosial” atau “perlawanan budaya” semata atas “hegemoni hijab” atau dominasi “pakaian Arab”, melainkan sebagai bagian dari upaya untuk “mengingatkan publik” agar mau merawat atau melestarikan warisan tradisi dan kebudayaannya sendiri. Sebuah usaha yang tentu saja patut diapresiasi. Jika tidak diingatkan dan diantisipasi sejak dini, maka generasi yang akan datang akan menganggap “antik” dengan pakaian adatnya sendiri.

Apa yang telah dilakukan oleh kelompok “Perempuan Berkebaya Jogja” ini tentu saja perlu “dikloning” oleh daerah-daerah lain di Indonesia. Perlu ada gerakan-gerakan serupa sesuai dengan pakaian adat-tradisional masing-masing daerah: baju bodo di Bugis, baju cele di Maluku, nggembe di Sulawesi Tengah, sarung sutra mandar di Sulawesi Barat, pesa’an di Madura, ulos di Sumatra Utara dan seterusnya. Di Arab Saudi sendiri, pakaian-pakaian adat-tradisional khas masing-masing suku yang beraneka ragam mulai punah digerus oleh “pakaian Barat” maupun “pakaian Saudi”. Jangan sampai hal itu terjadi di negara Indonesia yang kita Cintai.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Chat DJ