Gula darah tinggi hiperglikemia tidak selalu berarti seseorang menderita diabetes, meskipun itu merupakan tanda tanda awal yang sangat umum

Gula darah tinggi hiperglikemia tidak selalu berarti seseorang menderita diabetes, meskipun itu merupakan tanda tanda awal yang sangat umum

Tips61 Dilihat

Gula darah tinggi hiperglikemia tidak selalu berarti seseorang menderita diabetes, meskipun itu merupakan tanda tanda awal yang sangat umum dari kondisi tersebut.

Ada beberapa kondisi dan situasi lain yang bisa menyebabkan peningkatan gula darah, seperti stres, infeksi, penggunaan obat tertentu, atau kondisi medis lainnya (pankreatitis atau gangguan hormon).

Gula darah yang tinggi merupakan indikator penting, tetapi bukan satu-satunya faktor untuk mendiagnosis diabetes. Untuk menentukan apakah seseorang menderita diabetes, diperlukan pemeriksaan medis yang lebih mendetail. Berikut ini beberapa tes yang biasanya dilakukan.

1. Tes gula darah puasa (fasting blood sugar test)
Tes ini mengukur kadar gula darah setelah berpuasa selama setidaknya 8 jam. Kadar gula darah puasa yang tinggi bisa menjadi indikasi diabetes.

2. Tes A1C (hemoglobin A1C test)
Tes ini memberikan gambaran rata-rata kadar gula darah selama 2-3 bulan terakhir. Hasil A1C yang tinggi menunjukkan kadar gula darah sering berada di atas normal.

3. Tes toleransi glukosa oral (oral glucose tolerance test)
Tes ini mengukur bagaimana tubuh Anda memproses gula. Setelah berpuasa, Anda akan meminum larutan gula, kemudian kadar gula darah diukur beberapa kali dalam beberapa jam berikutnya. Peningkatan gula darah setelah mengonsumsi larutan gula bisa mengindikasikan diabetes atau prediabetes.

Namun, Anda juga perlu memahami berbagai gejala diabetes untuk mendapatkan penanganan lebih dini, seperti berikut ini yang dikutip dari Mayo Clinic, Jumat (7/6/2024).

1. Rasa haus dan lapar yang berlebihan
Rasa haus dan lapar yang berlebihan dapat menjadi gejala yang cukup umum dari diabetes. Ketika tubuh tidak dapat menggunakan glukosa dengan baik sebagai sumber energi, ini dapat menyebabkan rasa lapar dan haus yang berlebihan karena sel-sel tubuh tidak mendapatkan cukup energi.

Namun, perlu diingat rasa haus dan lapar yang berlebihan juga bisa menjadi gejala dari kondisi lain atau bisa terjadi karena faktor lain, seperti cuaca panas atau aktivitas fisik yang intens.

2. Sering buang air kecil
Sering buang air kecil atau poliuria adalah gejala umum diabetes, terutama diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2 yang tidak terkontrol dengan baik. Ketika kadar glukosa dalam darah tinggi, ginjal mencoba untuk mengeluarkan glukosa tambahan melalui urine. Hal ini menyebabkan produksi urine yang lebih banyak dan sering buang air kecil.

3. Penurunan berat badan
Penurunan berat badan yang signifikan juga merupakan gejala yang bisa terkait dengan diabetes, terutama diabetes tipe 1. Pada diabetes tipe 1, tubuh tidak dapat memproduksi insulin yang cukup atau sama sekali tidak memproduksinya, yang menyebabkan tubuh tidak dapat menggunakan glukosa sebagai sumber energi.

4. Kelelahan 
Kelelahan yang berlebihan juga bisa menjadi gejala dari diabetes. Ketika tubuh tidak dapat menggunakan glukosa dengan baik sebagai sumber energi, hal ini dapat menyebabkan kelelahan yang persisten. Kelelahan yang terkait dengan diabetes bisa disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk fluktuasi kadar gula darah, resistensi insulin, atau komplikasi yang terkait dengan diabetes.

5. Penyembuhan luka yang lambat 
Penyembuhan luka yang lambat salah satu gejala kadar gula yang tinggi. Jika dalam jangka waktu yang lama, hal ini dapat memengaruhi kemampuan tubuh untuk menyembuhkan luka dengan cepat. Kondisi tersebut terjadi karena tingginya kadar glukosa darah dapat merusak pembuluh darah dan sistem saraf, yang penting untuk proses penyembuhan luka. Penyembuhan luka yang lambat merupakan hal yang serius karena dapat meningkatkan risiko infeksi dan komplikasi lainnya.

6. Infeksi yang sering
Infeksi yang sering, terutama infeksi jamur pada kulit dan selaput lendir, juga bisa menjadi gejala diabetes. Kadar gula darah yang tinggi dapat menyebabkan lingkungan yang lebih subur bagi pertumbuhan jamur dan bakteri, yang meningkatkan risiko infeksi. Infeksi yang sering bisa terjadi pada berbagai bagian tubuh, termasuk kulit, mulut, saluran kemih, dan alat kelamin.