Harmonisasi dan Ketahanan Keluarga Serta Dampak bagi Perempuan dan Anak di Masa Pandemi Covid-19

oleh -1.111 views

Opini oleh Js. Liem Liliany Lontoh, SE., M.Ag.*)

Webinar Harmonisasi dan Ketahanan Keluarga ditinjau dari berbagai perspektif agama serta dampak bagi perempuan dan anak di masa Pandemi Covid-19 dilaksanakan secara virtual pada Senin (24/8/2020). Acara ini dilakukan atas kerja sama Asosiasi Dosen Indonesia, Pusat Studi Wanita UKI, Ketua Komisi Perempuan Remaja dan Keluarga MUI, Fasilitator MRT Keuskupan Agung Jakarta, Perhimpunan Pemuda Hindu (PERADAH) Indonesia, Parisadha Buddha Dharma Niciren Syosyu Indonesia (NSI) dan Ketua Hubungan Antar Lembaga dan Lintas Agama MATAKIN.

Ketua Hubungan Antar Lembaga dan Lintas Agama MATAKIN Js. Liem Liliany Lontoh memaparkan dari sisi perpektif agama Khonghucu sebagai berikut:
Sampai saat ini pandemi covid-19 masih terus melanda dunia termasuk Indonesia dan jumlah yang terpapar virus covid-19 masih terus bertambah, demikian juga penambahan yang meninggal. Pandemi ini tentunya berdampak pada ketahanan keluarga Indonesia, selain berdampak pada kesehatan juga berdampak pada ekonomi keluarga. Keluarga Indonesia harus menguatkan ketahanan keluarganya saat tantangan yang besar muncul seperti pandemi virus Covid-19 ini. Pandemi ini menuntut kita untuk bisa menemukan solusi-solusi baru demi keselamatan keluarga dan bangsa.

Keharmonisan dan Ketahanan keluarga mencerminkan kecukupan dan kesinambungan akses suatu keluarga terhadap pendapatan dan sumber daya agar mampu memenuhi kebutuhan dasarnya. Semakin baik ketahanan keluarga, semakin baik pula kemampuan keluarga menghadapi perubahan akibat pandemi dan pasca pandemi. Kebijakan yang tepat akan dapat mencegah keluarga Indonesia berada dalam situasi krisis sekaligus memastikan ketahanan keluarga yang tangguh.

Selain itu, kita perlu juga menguatkan ketahanan keluarga saat pandemi Covid-19 dengan pembagian peran dan fungsi keluarga yang baik. Pastikan semua sendi kehidupan berjalan dan semua kebutuhan terpenuhi dengan baik. Pembagian peran dan fungsi antara suami istri tidak otomatis menjadikan salah satu pihak lebih mulia dibandingkan yang lain. Ketahanan keluarga selama pandemi dapat dilihat dari utuhnya keluarga, kesehatan tiap anggota keluarga dan perekonomian keluarga yang tidak melemah. Juga yang tidak kalah penting adalah pemahaman konsep Tian, Di, Ren untuk penguatan keimanan pada masing-masing individu dalam keluarga untuk keluarga yang beragama Khonghucu.

Ditinjau dari perpektif Agama Khonghucu Konsep Tian, Di, Ren, menekankan pada pemuliaan hubungan dan tanggung jawab manusia kepada Tuhan, Sang Pencipta Khalik Semesta Alam, kepada bumi tempat hidup kita dan kepada sesama manusia.

Hal ini harus dipahami dan dijalankan dengan benar untuk penguatan iman pada masing-masing individu dalam keluarga. Bagaimana kita menjalankan dan mengamalkan Firman Tuhan, menjaga, merawat dan melestarikan bumi dan menjaga hubungan antar sesama manusia dengan baik.

728×90 Leaderbord

Hubungan antar manusia adalah hubungan yang sangat penting. Hubungan itu perlu dijaga keselarasannya supaya semua bisa bekerja sama dengan baik. Manusia dalam berinteraksi perlu memperhatikan kedudukan dan kehormatan orang lain. Lima hubungan utama kemanusiaan dalam agama Khonghucu memegang peranan penting untuk menciptakan hubungan- relasi dalam masyarakat yang tertata rapi berdasarkan Li (kesusilaan, sopan santun, tata krama) untuk menciptakan keharmonisan. Lima hubungan kemasyarakatan dalam ajaran Khonghucu yaitu: (1) Hubungan antara atasan dengan bawahan harus dilandasi kebenaran, keadilan, kewajiban, (2) Hubungan suami dengan istri dilandasi pembagian tugas, saling percaya dan menyayangi, toleransi, (3) Hubungan orang tua dengan anak dilandasi kasih sayang, hormat, patuh, sikap bakti, (4) Hubungan antar-saudara dilandasi pengertian, saling menyayangi, peduli, menolong (5) Hubungan antar-teman dilandasi sikap dapat dipercaya, berbagi suka dan duka.

Sebagai perempuan ada pendidikan kesusilaan yang harus dijalani setiap perempuan Khonghucu yaitu : Kebajikan Perempuan (dapat bijak bersikap dalam segala hal), Bicara Perempuan (bertutur kata yang baik sesuai tata krama dan etika), Wajah Prilaku Perempuan ( ekspresi yang mencerminkan sesuatu yang berhubungan dengan tingkah laku) dan Karya Perempuan (kemampuan untuk menghasilkan suatu karya).

Di dalam Kitab Tai Jia tertulis: ‘‘Bahaya yang datang oleh ujian Tian (Tuhan) dapat dihindari, tetapi bahaya yang dibuat sendiri tidak dapat dihindari.’ Maksud dari ayat ini menunjukkan bahwa Pandemi adalah ujian dari Tuhan, tetapi kita sebagai manusia bisa menghindari bahaya ini apabila kita menerapkan protokol kesehatan dengan baik dan benar.”

Di setiap krisis walaupun memang memiliki bahaya, namun juga mengandung kesempatan menuju harapan/kesuksesan. Walaupun pandemi berdampak pada ketahanan keluarga yaitu pada kesehatan dan ekonomi keluarga, semuanya dapat diatasi. Peran perempuan sebagai ibu rumah tangga sangat berperan baik dalam mengedukasi anak-anaknya, pemberian makanan yang bergizi maupun menciptakan suasana yang damai dan harmonis dalam rumah tangga. Perempuan dapat mengambil peran dalam mendukung perekonomian keluarga.

Dalam agama Khonghucu Perempuan dan laki-laki kedudukannya setara dan saling melengkapi dan saling bersinergi untuk pencapaian yang lebih baik, hanya peran fungsi dan tanggung jawab yang membedakan keduanya.

XiaoJing I : 4-6: Nabi Kongzi bersabda, “Sesungguhnya Laku Bakti itu ialah pokok kebajikan, daripadanya ajaran agama berkembang. Tubuh, rambut dan kulit, diterima dari ayah dan bunda. Perbuatan tidak berani membiarkannya rusak dan luka itulah permulaan laku bakti. Menegakkan diri hidup menempuh Jalan Suci, meninggalkan nama baik di jaman kemudian sehingga memuliakan ayah bunda, itulah akhir laku bakti. Adapun laku bakti itu, dimulai dengan melayani orang tua selanjutnya mengabdi kepada pemimpin, dan akhirnya menegakkan diri.”
Nabi Kongzi sangat berhati-hati di dalam berpuasa, peperangan, dan sakit. (Lunyu VII:13)
Meng Wu Bo bertanya hal laku bakti.
Nabi Menjawab, “orangtua merasa sedih kalau anaknya sakit”. (Lunyu II:6)

Ketiga ayat tersebut menjelaskan pentingnya kita menjaga kesehatan kita, apabila kita melanggar sampai mengakibatkan sakit maka dianggap tidak berbakti. Saat ini kita harus menerapkan 3 M, Memakai Masker, Menjaga jarak aman atau hindari kerumunan dan seringnya mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir.

Keluarga adalah elemen yang paling penting dalam kehidupan sosial, ketahanan keluarga merupakan barometer penting dalam menentukan kejayaan suatu bangsa dan peran perempuan sebagai ibu rumah tangga sangat memegang peran penting. Kesuksesan atau kegagalan seorang anak sangat tergantung dari pendidikan dan teladan dari keluarga terutama ibu yang mengasuh dan mendidik anak sejak kecil.

Dalam Daxue IX:3 disebutkan, “Bila dalam keluarga saling mengasihi niscaya seluruh Negara akan di dalam Cinta Kasih. Bila dalam tiap keluarga saling mengalah, niscaya seluruh Negara akan di dalam suasana saling mengalah. Tapi bilamana orang tamak dan curang niscaya seluruh negara akan terjerumus kedalam kekalutan, demikianlah semuanya berperanan. Maka dikatakan sepatah kata dapat merusak perkara dan satu orang dapat berperan menentramkan negara.”

Sesungguhnya pokok dasar Dunia ada pada Negara, Pokok dasar Negara ada pada Rumah Tangga dan pokok dasar Rumah Tangga ada pada diri pribadi.

Penulis : *Ketua Hubungan Antar Lembaga dan Lintas Agama- Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN)