Harun Masiku Telah Menoreh Sejarah Monumen Hukum Indonesia Yang Tidak Selesai

oleh -2.158 views

 

Harun Masiku telah menjadi monumen sejarah hebatnya sindikat penjahat sogok menyogok di Indonesia yang mengekspresikan kelanggengan dari kolusi, korupsi dan nepotisme.

Sejarah kejahatan keuangan serupa akan abadi dalam ingatan dari satu generasi ke generasi berikut yang semakin akut. Bagaimana lingkaran pelik kejahatan yang sudah demikian berkuasa itu, sehingga seorang buronan bisa menjadi hantu dalam topik pembicaraan yang tidak berujung.

Harun Masiku pun telah membuktikan bila aparat penegak hukum tidak bisa diatur rapi dan terti untuk menunaikan tugas dan kewajibannya sesuai dengan tupoksi dan keinginan pihak pemesan.

Lalu siapa saja di balik pemesan itu yang dominan dan kuat, tinggal bagaimana nanti bangunan dari monumen itu bisa bertahan.

Kasus Harun Masiku tak lagi penting ditelisik siapa saja yang terlibat dan siapa sutradara dibalik drama kolosal ini. Panggung politik yang diusung ke panggung hukum jelas bisa saja berkisah tentang keajaiban duit seperti yang dikatakan Opung Binsar “hepeng na mangtur nagaron”.

Jadi tak perlu sibuk bertanya lagi ikhwal amanah dan sumpah maupun janji yang telah diikrarkan. Sebab hukum dan Undang-undang saja bisa begitu gampang ditekuk dan dipiuhkan sekehendak hati. Meski hukum itu tidak sampai jadi terkesan lumpuh, sebab untuk soal yang lain dia masih ingin digunakan untuk menjerat mereka yang ternilang musuh. Lagi pula, Indonesia sendiri tak boleh dikesankan bukan negara hukum.
Karena mereka yang berada di seberang sana, toh masih ada yang tidak mau diajak bergabung dalam sindikat persekongkolan jahat itu.

Istilah Samiun, korupsi pun akan lebih aman bila dilakukan secara keroyokan. Sebab Samiun takut menggunakan istilah korupsi berjamaah itu dalam model budaya gotong royong.

Logikanya memang dapat dicerna secara sederhana juga. “Lha, kalau Bapak besar dan Ibu besar juga sudah terlibat, siapa sih yang berani menegur apalagi sampai berani menghardik, jika tak mau seketika itu juga dikirim ke akherat.

Sungguh banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kesaktiannya seorang Harun Masiku. Sebab dia mampu menjadikan tameng sejumlah hulu balang yang tangguh, siap mengeksekusi siapa saja yang usil dan iseng menggunjingkannya.

Meski tak pernah jelas pula, apa dan bagaimana kesan dan ekspresi dari wajah para aparat penegak hukum saat upacara di hadapan monumen megah Harun Masiku yang telah melagenda dalam sejarah di negara hukum ini. Sementara, Harun Masiku sendiri mungkin sedang asyik menonton kisah sinetron dirinya sambil melahap gulai kepala ikan kakap bersama petinggi sindikat yang telah melambungkan namanya sekalian menenggelamkan pula namanya di dalam monumen besar yang telah menorehkan sejumlah nama pemain utama dalam drama kolosal ini yang tak rampung jadi penggunjingan sampai hari ini.

Sejujurnya, paparan dari kegundahan hati yang meletup lantaran pagi tadi merenungkan bila dimasa pandemi Vovid-19 yang semakin beringas menelan korban dan untuk yang ingin tetap hidup harus mematuhi PPKM yang mulai diberlakukan lagi dalam model dan cara yang lebih ketat, lantas setelah sepekan kita mampu bertahan, masihkan stock bahan pangan yang tersisa bisa kita masak ?

Khayalan saya membayangkan, jika kita punya duit sebanyak yang ditebarkan para koruptor itu, mungkin tak ada masalah. Sebab tak cuma semua isi mini market itu yang bisa dibeli, tapi bahkan mini market itu pun bisa sekalian dibayar tunai. Termasuk para pelayannya yang ada, sekiranya berkenan ikut serta beralih pekerjaan. Karena toh, sampai pada waktu PPKM dilaksanakan, tak ada berita yang merelease adanya rencana dari pembagian sembako selama tak bisa bekerja dan tidak dapat mencari nafkah. Dan tugu sejarah Harun Masiku yang gagah itu semakin tunai dan kukuh nilai-nilai abadinya yang luput dari keriuhan akibat diterpa oleh gemuruhnya soal dan masalah yang membelit kemiskinan rakyat miskin yang semakin miskin.

Banten, 3 Juni 2021

No More Posts Available.

No more pages to load.