Indonesia adalah negara dengan lahan mangrove terbesar di dunia

0 36

Indonesia adalah negara dengan lahan mangrove terbesar di dunia, bahkan luasannya mencakup 23% dari total mangrove di seluruh dunia dan memiliki peran penting dalam upaya mitigasi dampak perubahan iklim.

Namun salah satu tantangan terbesar menyelamatkan hutan mangrove adalah menahan laju kerusakannya yang kini tercatat sebagai salah satu yang tercepat di dunia. Secara keseluruhan, lebih dari 1 juta ha hutan mangrove di Indonesia hilang dalam tiga dekade terakhir. Sementara itu, dari sisa lahan mangrove yang ada, sebanyak 27% berada dalam kategori rusak ringan dan 42% rusak berat.

Padahal dengan menghentikan laju kerusakan mangrove dapat memenuhi seperempat target Indonesia dalam mengurangi emisi sebanyak 26% pada 2020. Atas alasan itulah, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) kembali mengadakan acara “Mangrove Volunteers Day”, yang diselenggarakan di Taman Wisata Angke, Jakarta, pada Kamis (14/10).

Kegiatan penanaman mangrove kali ini selain diikuti oleh Dewan Penasihat YKAN Tony Wenas, YKAN juga menggandeng band Wolftank – sebagai nature ambassador YKAN – perwakilan dari Hard Rock Café dan Brava Radio, serta mitra YKAN lainnya.

Disampaikan dalam keterangan pers bahwa, kegiatan “Mangrove Volunteers Day” ini merupakan puncak dari kegiatan kampanye pelestarian mangrove yang dilakukan di Hard Rock Café, lewat ajang pertunjukan musik “I Like Monday, I Like Nature: Music for Conservation” pada 28 Oktober.

Kemudian dana yang telah terkumpul dalam pertunjukan musik tersebut akan digunakan untuk program konservasi dan restorasi ekosistem mangrove di Jakarta. Dengan pembelian satu buah tiket “I Like Monday, I Like Nature: Music for Conservation” menandai satu buah bibit mangrove yang kemudian ditanam bersama-sama di Arboretum, Taman Wisata Angke. Penanaman dilakukan di atas guludan yang mampu menampung 50 anakan mangrove yang terdiri dari paling tidak empat spesies yaitu Rhyzopora muncronata, R. apiculata, Bruguiera gymnorrhiza, dan Avicennia.

Rangkaian kegiatan kampanye ini juga bertujuan menyadarkan masyarakat luas akan pentingnya ekosistem mangrove bagi kawasan pesisir maupun perkotaan. Sejatinya, setiap individu dapat melakukan perubahan.

“Dulu, saya termasuk orang yang sering menebang mangrove karena dianggap mengganggu saat memancing. Pada saat itu, saya tidak tahu fungsi mangrove. Dan sekarang, setelah tahu lebih jauh tentang mangrove, saya tergerak untuk ikut ambil aksi dalam kampanye ini. Sekarang adalah saatnya untuk give back to nature,” ujar Kin Aulia, gitaris Wolftank.

Kolaborasi Multipihak

Selain itu, kampanye ini merupakan respons untuk memperbaiki kualitas udara Kota Jakarta, yang dalam beberapa bulan terakhir berdasarkan data dari Airvisual.com, masuk dalam kelompok kota-kota di dunia dengan kualitas udara terburuk.

Melansir dari riset The Nature Conservancy (TNC) yang dilakukan pada 2016, salah satu solusi untuk menciptakan kota yang sehat adalah dengan memanfaatkan infrastruktur alami. Dalam hal ini, hutan mangrove menjadi salah satu infrastruktur alami dengan kemampuannya menyerap dan menyimpan karbon hingga lebih dari 1.000 ton per hektar.

Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jakarta, menjalin kerja sama dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) berkomitmen untuk merestorasi ekosistem mangrove dan mengimplementasikan program pengelolaan terpadu melalui program MERA (Mangrove Ecosystem Restoration Alliance).

MERA, yang diluncurkan pada 2018, merupakan aliansi kemitraan yang mengedepankan strategi adaptasi berbasis ekosistem, termasuk konservasi dan restorasi mangrove, yang merupakan tindakan prioritas bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat di pesisir dan pelestarian keanekaragaman hayati.

Aliansi kemitraan ini menjadi platform nasional multipihak untuk mengurangi kerentanan masyarakat pesisir, pelestarian sumber daya dan aset, serta upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.

“Wilayah mangrove Angke Kapuk menjadi titik awal berjalannya program MERA bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jakarta. Saat ini kami sudah menyelesaikan tahapan pertama, yakni melakukan kajian ilmiah dan merancang master plan untuk tahapan restorasi dan pengembangan mangrove Angke Kapuk. Untuk memastikan upaya restorasi dan perlindungan mangrove Angke Kapuk berjalan efektif dan berkelanjutan, MERA mendorong pengelolaan ekosistem terpadu yang bersifat kolaboratif, menyatukan seluruh pihak yang peduli akan kelestarian mangrove,” kata Direktur Program Kelautan YKAN Muhammad Ilman.

Secara umum, hutan mangrove dikenal sebagai benteng pertahanan terakhir yang melindungi wilayah perkotaan dari ancaman banjir rob, erosi, tsunami, maupun sebagai penyaring air bersih, area pembibitan yang penting bagi ikan dan invertebrata, tempat persinggahan bagi burung-burung yang bermigrasi, serta menjadi sumber pangan maupun perekonomian masyarakat sekitarnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Chat DJ