Indonesia Harus Tiru AS, Kembangkan Tol dan Bandara bukan Kereta Cepat

oleh -278 views

 

Jakarta – Ada beberapa negara yang mengalami polemik saat berupaya membangun kereta cepat. Faktor penyebabnya beragam, mulai dari biaya investasi yang mahal, hingga lama waktu. Tanpa hitungan matang, proyek kereta cepat justru akan memberikan kerugian karena biaya operasional tak bisa ditutup dengan penjualan tiket.

Jepang contohnya, dari beberapa jalur kereta cepat, relatif rute Tokyo-Osaka yang masih menguntungkan. Rute lainnya yang masih untung adalah Osaka-Hakata. Namun pada tahun 2020, seperti dikutip Nikkei, Central Japan Railway akhirnya juga harus menanggung rugi sebesar 1,8 miliar dollar AS di rute Osaka-Tokyo.

Setali tiga, China pun sejatinya sudah mulai mengerem pembangunan kereta cepatnya. Dari data yang dirilis Statista, dari 15 rute kereta cepat yang ada, hanya 5 yang menguntungkan. 10 sisanya terus menerus dalam kondisi merugi.

Sementara di Asia Tenggara, Malaysia memutuskan menghentikan proyek kereta cepat yang menghubungkan Kuala Lumpur dengan Jurong Singapura, meskipun Negeri Jiran itu sudah terlanjur mengeluarkan biaya investasi yang tak sedikit, termasuk harus membayar kompensasi kerugian ke Singapura.

Lalu apa alasan Amerika Serikat (AS) sebagai negara maju tidak mau mengembangkan kereta cepat?
Amerika Serikat sebenarnya sudah memiliki kereta cepat bernama Acela yang dioperatori oleh Amtrax yang sebenarnya masih merupakan ‘BUMN’. Namun perusahaan ini tak berkembang dengan rute terbatas karena kurang menguntungkan. Penumpangnya pun sepi.

Dikutip dari BBC, AS juga memiliki rencana membangun kereta cepat untuk rute Los Angeles dan San Francisco. Namun hal itu masih sebatas rencana dan menuai perdebatan publik.Paman Sam dikenal sebagai negara yang sangat perhitungan dari sisi ekonomi. Mereka yang menolak kereta peluru berpendapat, untuk apa membangun kereta cepat yang di banyak tempat merugi, jika negara itu sudah memiliki jaringan jalan tol dan pesawat udara yang sudah sangat baik.

Selain itu, sebagai negara yang menggantungkan ekonomi pada sektor swasta, sejauh ini belum ada investor swasta yang berniat membangun kereta cepat di sana. Kondisi ini berbeda dengan kereta barang, di mana banyak perusahaan swasta AS berlomba-lomba membangun jaringan rel kereta karena sudah terbukti sangat menguntungkan.

Alasan AS kurang berminat pada kereta cepat
Sementara itu dilansir dari Forbes, ada beberapa alasan mengapa Amerika Serikat masih enggan mengembangkan kereta cepat.
-Kepadatan penduduk rendah
Sebagai negara dengan daratan luas dan ekonomi yang tersebar merata, kepadapatan penduduk di AS relatif rendah dibandingkan dengan kota-kota di Eropa dan Asia. Kota metropolitan sekelas Dallas saja yang merupakan kota dengan wilayah metropolitan terbesar keempat di dunia memiliki kepadatan yang lebih rendah dibandingkan Provinsi Hebei China.

Faktor ini yang membuat secara ekonomi, kereta berkecepatan tinggi menjadi sangat sulit. Membangun kereta cepat, AS harus siap dengan risiko kerugian.

-Pola pemukiman berjauhan
Sebagian besar orang Amerika tinggal di pinggiran kota yang didominasi oleh rumah keluarga tunggal yang terletak di sebidang tanah yang membentang bermil-mil. Hal ini berbeda dengan kota-kota di negara maju di Asia dan Eropa. Di mana kota besar sudah lebih dulu ada sebelum adanya mobil, di mana pemerintah menyediakan akses transportasi publik dan memanjakan pejalan kaki.

Sebaliknya di AS, kota-kota besarnya tumbuh dan membesar dengan mengandalkan mobil sehingga berpengaruh pada persebaran penduduknya. Bahkan jika seorang penumpang kereta api turun di stasiun sekalipun, dia masih harus naik mobil karena sebagian besar stasiun kereta api kota metropolitan di AS belum menyediakan sarana transportasi publik yang nyaman untuk sampai ke tujuan.

Membangun kereta cepat artinya harus menggusur properti warganya. Untuk kereta cepat, pembangunan jalurnya tentu harus lurus dan sulit menikung tajam. Ini akan membuat banyak properti terdampak.

Di AS, pembebasan properti sendiri merupakan harga yang mahal. Sementara banyak jaringan rel di AS saat ini sudah dibangun sejak lama, saat harga tanah relatif masih murah. Hal ini berbeda dengan China, di mana pembebasan tanah bukan menjadi masalah utama.

-Budaya Barat
Mobil sangat membudaya di masyarakat AS. Bahkan, sebagai negara dengan jaringan kereta api sangat besar, tak banyak yang dipakai sebagai angkutan penumpang dan lebih banyak didominasi angkutan barang. Budaya mobil masyarakat AS bisa dilihat dari film American Graffiti hingga Fast Furious.

Meski sejak beberapa tahun terakhir adanya polemik karbon dan dampak lingkungan, namun budaya bermobil warga AS ini tampaknya masih akan sulit tergantikan hingga bertahun-tahun mendatang.

Jaringan transportasi yang sudah maju Sebagai negara yang sangat perhitungan, kereta cepat bagi AS bukan pilihan saat ini. Negara ini sudah memiliki jaringan tol dan kereta api yang sangat memadai. Paman Sam juga didukung oleh industri penerbangan yang sangat sibuk dan murah meriah yang menghubungkan semua kota-kota besarnya. Dan yang tak bisa dipungkiri, AS adalah rumah bagi perusahaan pembuat pesawat Boeing.

Bagaimana dengan Indonesia?
Planing super wah, untuk membangun kereta cepat sementara dikerjakan . Dalam pengerjaam ini Indonesia menggandeng perusahaan asal China. Diketahui, Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung membentang sepanjang 142,3 kilometer dan ditargetkan rampung pada akhir 2022 nanti.

Kereta cepat ini akan melalui empat stasiun di antaranya Halim (Jakarta Timur), Karawang, Walini, dan Tegalluar (Bandung). Sekitar 58 persen jalur kereta cepat akan dibangun menggunakan struktur layang dan melalui 13 terowongan yang tersebar di beberapa titik.

Nantinya kereta cepat ini akan melaju hingga kecepatan 350 kilometer/jam dengan estimasi waktu keberangkatan antara Jakarta-Bandung hanya berkisar 46 menit. Kereta cepat ini akan mampu menampung 601 penumpang yang terdiri atas 18 penumpang VIP, 28 penumpang kelas 1, dan 555 penumpang kelas dua dalam satu keberangkatan. Pembangunan kereta cepat juga akan diintegrasikan dengan Transjakarta dan LRT Jabodebek untuk meningkatkan aksesibilitas dan mobilitas penumpang.

Berapa keuntungannya?
Menurut Direktur Political and Public Policy Studies (P3S) Jerry Massie menilai ini hanya showing ke dunia bahwa kita memiliki kereta cepat tanpa berpikir berapa income atau total revenue ke kas negara.

“Dalam business system analyst tanpa Break even Point (BEP) maka itu saya sebut bisnis proyek mubazir atau proyek hampa. Coba kita kalkulasikan untung-rugi pembangunan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung yamg menelam biaya hingga Rp27,74 triliun dari estimasi awal sebesar US$6,07 miliar atau sekitar Rp86,5 triliun (kurs Rp14.280 per dolar AS) menjadi US$8 miliar atau setara Rp114,24 triliun.Oct 15, 2021 ” kata peneliti kebijakan publik dari Amerika ini.

Selanjutnya tutur dia, menurut Bank Indoenesia (BI) posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia sampai dengan akhir Agustus 2021 sebesar 423,5 miliar dollar AS atau setara Rp 5.971,3 triliun (asumsi kurs Rp 14.100 per dollar AS).Oct 15, 2021.

Jerry, pun bingung apa ini rencana Jokowi atau kelompok oligarki yag membisikan pembangunan kereta cepat ini. Padahal jelas Jerry, banyak jalan trans antar provinsi dimana jalannya belum beres. Seperti dari Sulut ke Sulteng atau Sulsel.

Negara maju saja seperti Amerika kata Jerry, enggan menggunakan kereta cepat justru terbalik dengan Indonesia yang begitu ngotot. Bagaimana mungkin kalau pendapatan lewat tiket tak berbanding dengan biaya opersional.

“Semua proyek di Indonesia secara avarage dibiayai lewat utang luar negeri biasa disebut hutang jumbo, saya sarankan sebelum membangun proyek harus dipikirkan untung atau buntung, Saat beratifitas di negeri Paman Sam paling hanya menggunakan busway atau subway (kereta vawah tanah) bukan kereta api cepat, seperti di New York,” kata Jerry.

Disana ujar Jerry ada jalur uptown dan downtown. Seperti dari Queens ke Manhattan atau dari Bronx ke Brooklyn. Begitu pula saat dirinya tinggal di Culver City, Los Angeles sering menggunakan train ke downtown, bukan kereta cepat. Memang ada bus dan kereta Amtrak tapi harganya lebih mahal.

“Saya tak habis pikir status negara Indonesia apakah negara berkembang maju atau super maju itu yang membuat pening? Untuk transportasi Amerika banyak menggunakan angkutan bus seperti Mega Bus untuk ekonomi bawah dan Greyhound,” ucap dia.

No More Posts Available.

No more pages to load.