Indonesia perlu mempertimbangkan sikap dan kebijakan terkait kecerdasan buatan (AI) dengan beberapa pendekatan

 Indonesia perlu mempertimbangkan sikap dan kebijakan terkait kecerdasan buatan (AI) dengan beberapa pendekatan

TEKNOLOGI300 Dilihat

Indonesia perlu mempertimbangkan sikap dan kebijakan terkait kecerdasan buatan (AI) dengan beberapa pendekatan yang penting seperti dikatakan oleh Head of Education Ecosystem di perusahaan telekomunikasi milik negara (BUMN) PT Telkom Indonesia Tbk. Sri Savitri.

“Yang pertama adalah bagaimana kita membangun kesadaran dan edukasi tentang AI,” ujar Sri dalam forum diskusi daring, Rabu.

Sri mengatakan kesadaran dan edukasi harus ditingkatkan agar masyarakat memahami potensi risiko, dan manfaat dari AI. Kegiatan seperti kampanye, lokakarya, seminar, hingga program pendidikan dapat digunakan untuk meningkatkan kesadaran tersebut.

Langkah kedua, kata dia, perlu ditetapkan kerangka kerja etika yang jelas. Indonesia telah menyadari pentingnya kerangka kerja etika dalam pengembangan dan pemanfaatan teknologi AI.

Kerangka kerja ini dinilai akan menjadi pedoman dalam memastikan pengembangan AI yang bertanggung jawab.

Langkah ketiga adalah riset dan pendidikan. Sri mengatakan pemerintah telah menginvestasikan sumber daya dalam program-program pendidikan dan riset yang berfokus pada AI, termasuk inisiatif seperti yang dilakukan oleh Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial (KORIKA).

Selain itu, pemerintah juga terus meningkatkan edukasi di bidang sains, teknologi, engineering, dan matematika (STEM) yang dinilai akan menyediakan banyak peluang untuk penelitian AI.

“Tentunya kita penting untuk mendorong riset dan inovasi yang berkelanjutan di dalam AI dengan fokus pada penanganan potensi risiko dan pengembangan solusi untuk memitigasinya,” kata dia.

Langkah keempat, lanjut Sri, adalah aspek tata kelola data. Indonesia perlu memastikan bahwa data yang dikelola telah sesuai dengan kebijakan dan aturan yang berlaku untuk mendukung penggunaan AI yang bertanggung jawab dan aman.

Menurut Sri, penting untuk menetapkan tata kelola data yang kuat dengan memastikan mekanisme pengumpulan, penyimpanan, dan penggunaan data yang bertanggung jawab.

Langkah terakhir adalah kolaborasi dan kemitraan. Indonesia didorong untuk aktif terlibat dalam organisasi internasional, bekerja sama dengan pemimpin industri dan institusi riset untuk berbagi pengetahuan dan praktik terbaik. Melalui kolaborasi ini, Indonesia dapat berkontribusi dalam pengembangan standar global yang berkaitan dengan AI.

“Dengan mengikuti langkah-langkah ini Indonesia dapat meletakkan dasar untuk implementasi teknologi AI yang etis dan bermanfaat serta memastikan bahwa teknologi tersebut selaras dengan nilai-nilai sosial, selaras dengan nilai Pancasila dan menghormati hak asasi manusia serta berkontribusi pada kesejahteraan umum secara keseluruhan,” pungkas Sri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *