Inggris memendam tekad untuk mengakhiri kutukan semifinal di turnamen besar dan mulai beredar optimisme

oleh -624 views

Inggris memendam tekad untuk mengakhiri kutukan semifinal di turnamen besar dan mulai beredar optimisme bahwa sekarang waktunya menjadi juara, setelah berhasil lolos ke empat besar ajang Euro 2020.

Sejak menjadi juara dunia 1966, untuk kelima kalinya Inggris masuk ke tahap krusial ini baik di pentas Piala Dunia atau Piala Eropa, empat sebelumnya berakhir dengan kekalahan.

Jangankan juara, masuk final saja belum pernah setelah tahun bersejarah itu.

Pelatih Gareth Southgate juga yang membawa Inggris ke semifinal Piala Dunia 2018, di mana skuatnya dikalahkan secara tragis oleh Kroasia di babak tambahan.

Jelas baginya, masuk semifinal sekarang bukan lagi sebuah prestasi.

“Saya duga, sisi menarik dari tim kami sekarang adalah kami tidak akan sepenuhnya puas jika hanya berakhir di semifinal,” kata Southgate dalam wawancara dengan stasiun televisi Sky Sports.

“Sedangkan tiga tahun lalu [di Piala Dunia], meskipun muncul kekecewaan besar setelah laga semifinal, mungkin masih ada perasaan bahwa kami sudah berhasil melangkah jauh.”

Berbagai pertanda baik sudah dilewati Inggris yang memberi harapan kalau mimpi panjang itu bisa menjadi kenyataan.

Misalnya, mereka bisa mengalahkan Jerman untuk pertama kali di babak sistem gugur sejak 1966.

Jerman kerap menjadi penghalang Inggris di turnamen besar. Pada semifinal Euro 1996, Southgate menjadi satu-satunya pemain yang gagal mencetak gol ke gawang Jerman saat adu penalti dan sekarang dia sudah menebusnya.

“Kami sudah menghapus banyak kutukan dan penghalang dan saya merasa kelompok pemain ini sudah menantikan tantangan selanjutnya,” ujarnya.

Southgate, yang baru berusia 50 tahun, adalah juga pelatih yang paling banyak memenangkan laga di babak sistem gugur dalam sejarah Inggris.

Uniknya, dia sebetulnya bukan pilihan pertama Football Association di jabatan itu.

Saat menangani timnas U-21, Southgate ditunjuk sebagai pelatih interim tim senior pada 2016 menggantikan Sam Allardyce yang mundur karena skandal korupsi di FA. Saat itu penyisihan Piala Dunia sudah dimulai dan tidak ada waktu untuk merekrut pengganti.

Dia membuktikan kemampuannya dengan membawa Inggris lolos ke Rusia sehingga dipromosikan sebagai pelatih tetap, dan kembali membayar kepercayaan FA dengan masuk semifinal.

Jika ditambah dengan turnamen Liga Negara Eropa (UEFA Nations League) 2019, Southgate telah membawa Inggris finis di semifinal tiga kali dan tampaknya itu sudah cukup baginya.

“Kami ingin dua langkah lebih maju,” kata Southgate.

Tim yang ditangani Southgate sekarang jauh dari gemerlap dan hiruk pikuk para pemain bintang era 2002-2014, yang disebut-sebut sebagai “generasi emas” Inggris.

Saat itu, Inggris punya pasokan talenta kelas dunia yang berlebih di semua posisi kecuali penjaga gawang. Ada Rio Ferdinand dan Sol Campbell di jangkar pertahanan, ada David Beckham dan Paul Scholes di lapangan tengah, ada Wayne Rooney dan Michael Owen di ujung tombak.

Begitu banyak pemain papan atas dengan ego papan atas juga, sehingga tidak ada pelatih yang berani menyingkirkan salah satunya.

Akibatnya, Frank Lampard dan Steven Gerrard pernah dimainkan bersama di lapangan tengah, keputusan yang sampai sekarang masih dipertanyakan karena mereka bermain di posisi identik di klub masing-masing.

Juga pada era itu, FA dilanda krisis kepercayaan diri karena tuntutan berat untuk memenangkan trofi besar setelah berkali-kali gagal, padahal kualitas para pemain dinilai sangat tinggi oleh pemerhati sepakbola internasional.

Inggris, negara yang mengklaim tempat lahirnya sepakbola dengan liga domestik paling diminati sejagat, akhirnya mengimpor pelatih untuk menangani tim nasional. Dan bukan hanya sekali, tetapi dua kali.

Sven-Goran Eriksson datang dari Swedia dan mengantar Inggris sampai perempat final dua kali di Piala Dunia dan sekali di Piala Eropa.

Setelah Eriksson pergi, timnas kembali ditangani pelatih lokal dan hasilnya Inggris gagal lolos ke Euro 2008. Betul, di era Beckham cs Inggris justru pernah gagal lolos ke Piala Eropa.

Fabio Capello didatangkan dari Italia dan cuma berhasil sampai babak 16 besar Piala Dunia 2010, ketika Lampard dan Gerrard berbagi lapangan. Mereka kalah 1-4 dari Jerman, skor terburuk Inggris di putaran final Piala Dunia.

Lebih Kompak
Kekuatan tim asuhan Southgate sekarang adalah mereka bukan lagi kumpulan selebritas, tetapi murni sebuah kesebelasan.

Di era “generasi emas”, bukan rahasia lagi kalau Ferdinand dan Lampard tidak saling bicara karena perseteruan sengit Manchester United dan Chelsea.

Berbeda dengan Spanyol. Bek Real Madrid Sergio Ramos bisa saja baku hantam dengan para pemain Barcelona di liga domestik, tetapi saat menjadi kapten timnas dia berangkulan dengan mereka merayakan kemenangan seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Harry Kane tampaknya bisa menjaga kekompakan di timnas Inggris. Bisa dilihat setelah sang kapten mencetak gol dan melakukan selebrasi, semua pemain berangkulan membentuk lingkaran seperti untuk memastikan bahwa tidak ada dominasi individu dalam setiap hasil.

Di atas kertas, Inggris yang berada di ranking empat FIFA menjadi tim terkuat Euro 2020 setelah Prancis dan Belgia tersingkir.

Rabu (7/7/2021) malam mereka akan menghadapi Denmark, peringkat 10 dunia, yang makin tangguh seiring perjalanan turnamen ini. Dalam pertandingan perempat final, mereka mampu mengatasi permainan fisik Republik Cheska di tengah cuaca panas di Azerbaijan.

Di ajang Liga Negara Eropa tahun lalu, Denmark menang sekali dan seri sekali melawan Inggris.

Skuat Inggris tahu jika bisa mengalahkan Denmark, mereka akan ditahbiskan sebagai tim terbaik negara itu dalam 55 tahun terakhir, juara atau tidak juara.

Namun, mereka juga tahu laga semifinal dan final akan digelar di Stadion Wembley sehingga hanya ada satu tuntutan rakyat Inggris: juara!

Sejauh ini semuanya masih berjalan lancar bagi Inggris.

Pada pertandingan grup yang terakhir melawan Republik Cheska, ada wacana sebaiknya Inggris jadi runners-up saja untuk menghindari Jerman.

Beruntung Inggris tetap juara grup dan kemudian bisa mengatasi Jerman, sementara di kelompok ini Belanda juga tersingkir, sehingga skuat the three lions yang sekarang difavoritkan masuk final.

 

Di kelompok undian sebelah yang akhirnya dihindari Inggris, tim-tim yang masuk ranking tujuh besar dunia saling jegal sendiri: ada Belgia yang menempati ranking satu dunia, lalu juara dunia Prancis, juara bertahan Piala Eropa Portugal, dan mantan juara Spanyol dan Italia.

Setelah melibas Ukraina 4-0 di Roma, tim Inggris pulang ke rumah untuk menuntaskan turnamen. Jika masuk final, artinya dalam turnamen kali ini Inggris bermain enam kali di Wembley — sebuah berkah tersendiri.

“Inggris tidak akan pernah lagi mendapat peluang sebagus ini untuk menjuarai Piala Eropa,” kata mantan kapten timnas Alan Shearer.

No More Posts Available.

No more pages to load.