Jika Anda memulai rencana menabung untuk pensiun, besar kemungkinan Anda akan disarankan untuk menghindari saham-saham berisiko

0 498

Dnewsmedcenter – Jika Anda memulai rencana menabung untuk pensiun, besar kemungkinan Anda akan disarankan untuk menghindari saham-saham berisiko dan lebih banyak menyimpan di obligasi. Itu saran yang sangat khas dari para manajer investasi, karena obligasi memberikan pendapatan yang pasti.

Namun, apakah strategi itu masih masuk akal sekarang ketika imbal hasil yang ditawarkan obligasi jangka panjang Amerika hanya 1,5% atau nyaris di titik terendahnya? Pula, obligasi yang diterbitkan Jepang, Jerman, dan Prancis malah sebetulnya memberi imbal hasil negatif?

Jawabannya mungkin tidak. Para pakar mengatakan sekarang ini mungkin saatnya untuk membeli saham lebih banyak.

“Anda tidak akan mendapatkan imbal hasil besar — itu pun kalau ada — atau pertumbuhan (pendapatan) dari obligasi. Jadi bahkan para investor yang konservatif pun mulai melirik saham-saham yang berkualitas,” kata Kevin O’Grady, manajer portofolio di Miracle Mile Advisors.

Banyak perusahaan teknologi terkemuka sekarang ini mulai mampu membayar dividen. Itu merupakan tanda bagus karena perusahaan-perusahaan itu memberi dua hal terbaik yang dikehendaki investor: keandalan dan pertumbuhan.

“Perusahaan-perusahaan dengan model bisnis yang kuat dan marjin laba yang tinggi akan lebih tahan banting setiap terjadinya kelesuan,” kata O’Grady.

4% dari Dividen Pensiunan atau mereka yang menyongsong masa pensiun adalah kelompok yang paling khawatir atas kondisi pasar obligasi, kata Ephie Coumanakos di Concord Financial Group.

“Orang-orang gelisah pada saham, tetapi juga frustrasi dengan bunga rendah. jadi Anda harus ke mana untuk mencari pendapatan?” ujarnya.

Menurut Coumanakos, para investor seharusnya mampu mendapat imbal hasil 4% per tahun dari dividen saham asalkan mereka fokus pada perusahaan-perusahaan yang sehat secara finansial dan mampu menjaga pertumbuhan pembayaran dividen.

Namun tentu saja perusahaan-perusahaan yang mampu membayar dividen pun akan terpukul jika terjadi resesi ekonomi. Kurva imbal hasil yang terbalik sekarang ini merupakan pertanda buruk, meskipun resesi cenderung baru terjadi dalam 18-24 bulan setelah suku bunga jangka pendek melampaui imbal hasil obligasi jangka panjang.

Kalau kecemasan akan resesi dikesampingkan, masih ada kekhawatiran soal perang dagang AS-Tiongkok yang akan menggerus laba perusahaan-perusahaan blue chip seperti Apple, Coke, General Motors, dan Caterpillar.

Masih Ada REITs
Namun dana investasi real estat (DIRE) atau real estate investment trusts (REITs), yang menjanjikan pembayaran dividen besar, relatif masih terlihat atraktif, kata Rich Kleinman, direktur pelaksana riset dan strategi di LaSalle Investment Management.

“Ketika suku bunga lebih rendah, para investor yang haus imbal hasil bisa berpaling ke real estat,” kata Kleinman.

“DIRE punya gabungan elemen-elemen obligasi dan saham sehingga lebih condong ke investor konservatif karena menjanjikan pendapatan yang lebih stabil.”

Para investor perlu menambah perhatian pada DIRE karena perekonomian AS tengah melambat. Bukti terakhir, pada Agustus lalu hanya ada tambahan 130.000 lapangan kerja.

Kleinman mengatakan perusahaan-perusahaan yang memiliki usaha medis dan apartemen hunian layak didekati bahkan ketika ekonomi makin lesu. Dia lebih mencemaskan para pemilik usaha retail dan properti industri.

Jika perekonomian AS makin kehilangan daya dorong, imbal hasil obligasi akan makin turun, kata Jon Adams dari BMO Global Asset Management. Dia meyakini obligasi korporasi dan pemerintah daerah di AS juga makin menurun.

Itu merupakan alasan utama kenapa Adams yakin para investor harus lebih fokus pada dividen saham. Dia membeberkan imbal hasil dividen rata-rata di S&P 500 sekarang 1,9% lebih tinggi dari imbal hasil obligasi AS jangka 10 tahun, dan tidak jauh dari imbal hasil 2% obligasi 30 tahun.

Masih Ada Obligasi yang Atraktif
Setlah semua ulasan tadi, bukan berarti semua obligasi adalah “lubang hitam” bagi para investor yang berwawasan jangka panjang.

Adams mengatakan ada sejumlah pasar fixed income yang masih terlihat atraktif, khususnya di negara-negara kategori emerging market.

Memang betul ada kecemasan soal instabilitas politik di negara-negara tersebut, seperti di Argentina yang ekonominya melemah dan didera inflasi tinggi. Namun, menurut dia, imbal hasil tinggi dari obligasi emerging market ini mengalahkan kekhawatiran tersebut.

Misalnya, imbal hasil dari SPDR DoubleLine Emerging Markets Fixed Income ETF (EMTL) sebesar 4%, sementara imbal hasil dari iShares JP Morgan USD Emerging Markets Bond ETF (EMB) bahkan mencapai 5,4%.

“Politik selalu menjadi masalah penting di emerging market, tetapi justru itu Anda dibayar dengan imbal hasil yang tinggi. Dan berbagai masalah seperti yang terjadi di Argentina sifatnya masih relatif terbatas (isolated incidents),” kata Adams.

Coumanakos dari Concord Financial juga berpendapat bahwa para investor konservatif bisa meraup untung dari obligasi ketika suku bunga terus turun. Perlu diingat bahwa harga obligasi bergerak berlawanan arah dengan imbal hasil.

“Obligasi bisa produktif jika Anda memainkannya dari perspektif harga, bukan membelinya untuk mendapatkan imbal hasil,” ulasnya.

Sekarang waktunya bagi para investor untuk mengevaluasi ulang portofilo mereka, di tengah kecemasan tentang ekonomi global. Namun, bukan berarti Anda harus panik.

“Memang ada kegelisahan. Namun sekarang bukan waktunya untuk menarik picu dan menjual semuanya,” kata Coumanakos.

“Apakah ini akan meledak? Belum — tetapi kami menjadi sangat waspada dan mencermati tanda-tanda munculnya masalah di depan. Itulah perlunya dikatakan agar tetap melakukan diversifikasi.”

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Chat DJ