Joe Biden mengikuti pertemuan G7 pertamanya sebagai presiden Amerika Serikat

oleh -320 views

Joe Biden mengikuti pertemuan G7 pertamanya sebagai presiden Amerika Serikat, Jumat (19/2/2021), di mana ia langsung menunjukkan perubahan 180 derajat dibandingkan kebijakan luar negeri di era pendahulunya, Donald Trump.

Trump selalu menonjolkan kebijakan America First yang mendahulukan kepentingan Amerika kapan saja dan membuat Amerika cenderung mengisolasi diri dari interaksi global, bahkan termasuk dari sekutu dekat di Eropa Barat.

“Yang seperti ini akan berlalu. Kami akan kembali,” kata Biden yang bicara melalui konferensi video dari Gedung Putih.

“Saya orang yang selalu memegang janji dan Amerika akan kembali,” imbuhnya.

Biden menegaskan ia akan menghentikan penarikan pasukan Amerika dari Jerman yang dulu diinisiasi Trump, karena menurutnya kehadiran pasukan di sana krusial untuk menjamin kekuatan pertahanan Eropa.

Ia juga menegaskan dukungan Amerika kepada Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan komitmen pertahanan kolektif AS-Eropa yang kerap diabaikan Trump.

“Saya sadar bahwa dalam beberapa tahun terakhir hubungan trans-Atlantik kita menjadi kaku dan penuh ujian. AS bertekad untuk kembali menjalin hubungan dengan Eropa, untuk berkonsultasi dengan Anda, untuk mendapatkan kembali posisi kami sebagai pemimpin yang bisa dipercaya,” kata Biden.

728×90 Leaderbord

Ia tidak sekali pun menyebut nama Trump dalam pidatonya.

Trump pada eranya lebih sering menganggap Eropa sebagai rival dalam perdagangan dan beberapa kali mengatakan bahwa “lebih sulit menangani para mitra Amerika daripada musuh-musuhnya”.

Biden mengindikasikan bahwa pendekatan seperti itu tidak berlaku lagi.

“Kemitraan kita bisa bertahan dan tumbuh selama bertahun-tahun karena berakar dari nilai-nilai demokrasi yang kita yakini bersama. [Hubungan] seperti itu sifatnya tidak transaksional,” kata Biden seolah menyindir Trump.

Dalam pertemuan itu, Biden juga mengisyaratkan akan memulai lagi negosiasi soal nuklir Iran, yang secara mendadak diputus oleh Trump untuk mengakhiri upaya bertahun-tahun yang dimotori Amerika era Barack Obama dan negara-negara Eropa Barat.

Biden juga menuduh Presiden Rusia Vladimir Putin berupaya melakukan “destabilisasi” di Eropa.

Biden juga mengungkap komitmen AS untuk bantuan pengadaan vaksin Covid-19 senilai US$ 4 miliar melalui COVAX, lembaga internasional yang dibentuk untuk memasok vaksin ke negara-negara miskin.

Selain itu, secara resmi Amerika kembali ke Perjanjian Paris tentang perubahan iklim, yang dulu juga ditinggalkan oleh Trump.

Di era Trump, selama empat tahun masa jabatannya empat kali juga ia menjadi sumber masalah di G7. Trump bahkan pernah mengungkap ketidaksukaannya pada klub elite negara maju itu dan pernah bertanya kenapa ia harus ikut pertemuan.

Pada pertemuan G7-nya yang pertama di Sisilia, Italia, Trump mengatakan ia merasa dikeroyok oleh anggota yang lain yang mendesak Amerika untuk tetap terikat dengan Perjanjian Paris.

Pada pertemuan berikutnya di Quebec, Kanada, ia ribut soal tarif dagang dengan sesama anggota G7 dan pergi lebih dini, agar bisa ke Singapura untuk bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.

Setelah itu G7 bertemu di mercu suar Biarritz, Prancis, di mana Trump memicu debat karena ia ingin Rusia kembali ditarik sebagai anggota sehingga nama kelompok itu kembali menjadi G8.

Pada tahun terakhirnya di Gedung Putih, giliran Trump menjadi tuan rumah. Namun, rencana dia untuk menggelar pertemuan di area wisata Doral yang merupakan kelompok bisnisnya memicu kontroversi soal etika.

Akhirnya, atas desakan Presiden Prancis Emmanuel Macron, ia memimpin pertemuan lewat konferensi video.