Kajian Tauziah Dalam Mencegah Terjadinya Ajaran Radikalisme Dan Terorisme Untuk Menjaga NKRI

oleh -82 views

Sebagai Upaya Pencegahan Terjadinya Ajaran Redikalisme dan Masuknya Faham Teroris dikalangan Agama ,  pada hari Minggu tanggal (31/01), jam ; 19.30 sd 23.00 wib berlangsung kegiatan tauziah / kajian oleh Ust. Abdul Muis Eks Napiter Poso di Majelis As-Sadariyah Jl. Pisangan baru II no. 276 Rt11 Rw 07 Matraman Jakarta Timur yang diikuti oleh 20 orang Jamaah, dengan mengangkat tema :

“STOP RADIKALISME, TERORISME DAN INTOLERAN JAGA NEGERI KITA INDONESIA”

Kegiatan Kajian/ Tauziah ini dihadiri oleh Eks Napiter Afganistan, Eks Napiter Poso dan Eks Napiter Bom Bali 1:

a. Ust. Abdul Muis Eks Napiter Poso

b. Ust. Abdul Kohar Eks AFGANISTAN

c. Ust. Abu Jibril Eks Afganistan

hadir pula para Tokoh Agama Setempat antara lain :

728×90 Leaderbord

a. Ust. Maskur

b. Ust. Sulis

c. Ust. Abdul Rahman

d. Ust. Ridwan

Kegiatan dimulai pukul 19.30 wib dengan sambutan pembukaan oleh Ust. Abdul Kohar yang mengatakan, “Kami berterimakasih atas kedatangan para jamaah atas Majelis Ilmu disini, kami sampaikan bahwa marilah kita jaga bareng bareng keamanan Negeri kita dari pemikiran yang Radikal, Terorisme dan Intoleran yuk sekali lagi kita jaga Keamanan Negeri kita.” Tuturnya.
[6/4 10.16] TEAM PEMBURU BERITA: Kegiatan dilanjutkan dengan Tausiah oleh Ust. Abdul Muis. Beliau mengatakan dalam Tauziahnya, “Saya ingatkan kembali agar jangan sampai kita mengikuti pemikiran dan ajaran yang salah kita harus paham bahwa tindakan terorisme, Radikal dan Intoleran tidak dibenarkan dalam agama manapun.” Tegas nya.

Ustad Abdul Muis selanjutnya menerangkan, “Mengapa Alquran Membolehkan Muslimin Berperang?
Alquran mengizinkan Muslimin berperang saat mereka terlebih dahulu diserang.

pada zaman Rasul SAW Islam membolehkan umatnya untuk maju berperang. “Telah diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya, dan sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuasa menolong mereka. (Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, tak lain karena perkataan mereka, ‘Tuhan kami hanyalah Allah.’” (QS All-Hajj: 39-40).

Nabi Muhammad, Rasulullah SAW menerima wahyu tersebut tak lama setelah berada di Madinah.

Firman Allah SWT itu memberikan izin atau memerintahkan kepada Nabi SAW dan kaum Muslimin untuk berperang melawan kaum musyrikin Quraisy.

Mengapa Alquran mengizinkan peperangan?

Peralihan keimanan sebagian orang Quraisy ternyata menjadikan hidup mereka pahit. Ya, Muslimin itu diusir dari tanah airnya, Makkah, hanya karena berkata, “Tuhan kami hanyalah Allah.”
Padahal, dalam kebiasaan masyarakat Arab, pengusiran dari suku sendiri termasuk tindakan semena-mena, bahkan melanggar ikatan suku yang dijunjung bersama.

Meskipun memberikan izin melakukan perlawanan, Alquran juga mengimbau agar kaum Muslimin tidak melakukan penyerangan terlebih dahulu.
Sebab, tindakan itu mengakibatkan permusuhan yang panjang.

Dalam peperangan pun mesti ada norma. Ada etika perang yang harus dijaga oleh umat Islam.

Allah berfirman, yang artinya, “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) jangan kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (QS Al-Baqarah [2]: 190).

Tidak hanya berhenti di situ. Alquran juga menekankan supaya umat Islam memberikan maaf dan ampunan, bahkan ketika perang berkecamuk. Jika pihak musuh meminta damai, umat Islam dianjurkan meletakkan senjata. Prinsip yang ditekankan Alquran adalah bahwa menyelesaikan masalah sebaiknya dengan duduk bersama dan saling menghormati.
Dengan demikian, seperti dikatakan Karen Armstrong, Islam telah merumuskan tata cara berperang yang adil.

Ternyata perang ini telah disebutkan di dalam Al-Quran, yaitu perang apa saja kah itu? Berikut adalah penjelasannya.

Pertama, yakni perang Badar. Pertempuran Badar adalah salah satu dari sedikit pertempuran yang secara eksplisit dibicarakan dalam Al-Qur’an. Nama pertempuran ini bahkan disebutkan pada Surah Ali ‘Imran ayat 123, sebagai bagian dari perbandingan terhadap Pertempuran Uhud.

Sungguh Allah telah menolong kamu dalam Peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertawakallah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. (Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang Mukmin, “Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?” Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.
(Ali ‘Imran: 123-125)

Menurut Yusuf Ali, istilah “syukur” dapat merujuk kepada disiplin. Di Badar, barisan-barisan Muslim diperkirakan telah menjaga disiplin secara ketat; sementara di Uhud mereka keluar barisan untuk memburu orang-orang Mekkah, sehingga membuat pasukan berkuda Mekkah dapat menyerang dari samping dan menghancurkan pasukan Muslim.

Badar juga merupakan pokok pembahasan Surah kedelapan Al-Anfal, yang membahas mengenai berbagai tingkah laku dan kegiatan militer. “Al-Anfal” berarti “rampasan perang” dan merujuk pada pembahasan pasca pertempuran dalam pasukan Muslim mengenai bagaimana membagi barang rampasan dari pasukan Quraisy. Meskipun surah tersebut tidak menyebut Badar, isinya menggambarkan pertempuran tersebut, serta beberapa ayat yang umumnya dianggap diturunkan pada saat atau segera setelah pertempuran tersebut terjadi.

Yang kedua, yakni perang Uhud, di mana pada perang ini umat Islam mengalami kekalahan. Dan hal tersebut ternyata juga telah disampaikan di dalam Al-Quran. Kekalahan tersebut akibat sebagian pasukan pemanah yang ada di Jabal Rumah menyelisihi perintah Nabi shallallahu alaihi wasallam agar tidak turun baik menang maupun kalah. Namun mereka malah turun sehingga Allah berikan kekalahan. Allah Ta’ala berfirman:

Apakah ketika kalian ditimpa musibah (di perang uhud) sementara kalian telah mendapatkan kemenangan dua kali lipat (di perang badar), kalianpun berkata bagaimana kami bisa kalah? Katakan, (Musibah kekalahan itu) berasal dari diri kalian sendiri.
(QS. Ali Imron: 165)

 

Allah tidak mengatakan: “Kekalahan itu akibat pasukan musuh yang jumlahnya jauh lebih besar dan lebih kuat”. Tapi akibat kesalahan kalian sendiri.

Dan yang ketiga, adalah perang Hunain. Dalam perang ini umat Islam jumlahnya ternyata 3x lipat lebih besar dari pasukan musuh. Namun kaum muslimin kalah di putaran pertama, akibat merasa bangga dengan jumlah yang banyak. Allah Ta’ala berfirman:

Sesungguhnya Allah telah menolongmu di tempat tempat yang banyak dan di hari perang Hunain. Ingatlah di saat itu kalian merasa ujub dengan jumlah yang banyak, padahal jumlah yang banyak itu tidak bermanfaat sedikitpun untuk kalian dan menjadi sempitlah bumi yang luas itu bagi kalian dan kalianpun lari ke belakang.
(QS. At Taubah: 25)

Merasa ujub dengan jumlah yang banyak ternyata sebab kekalahan kaum muslimin di perang Hunain.

Itulah beberapa peristiwa perang yang disebutkan di dalam Al-Quran. Tentu dalam peristiwa tersebut dapat kita ambil hikmah di dalamnya, dan semoga itu bisa menjadi pelajaran bagi kita semua di kemudian hari.

Dalam Keamanan juga sangat erat hubungannya dengan keimanan. Ketika keimanan lenyap, niscaya keamanan akan tergoncang. Dua unsur ini saling mendukung. Allah berfirman.

“Artinya : Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan dengan kezhaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan, dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk” [Al-An’am : 82]

Allah memberikan jaminan kepada orang yang mengimani bahwa Allah adalah Rabbnya. Islam adalah agamanya dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah nabiNya. ; Allah memberikan jaminan akan memelihara keamanan serta keimanannya dan menetapkan hidayah baginya. Mereka itulah, insan-insan yang memperoleh keamanan serta mendapatkan hidayah dariNya.

Secara eksplisit, beliau mendahulukan permohonan keamanan daripada permohonan rizki. Dari sini kita pahami betapa mahal nilai keamanan.

Orang-orang yang meneriakan slogan untuk mewujudkan keamanan tanpa mengusung nilai-nilai Islam, tidak akan berhasil. Stabilitas keamanan hanya akan tercipta dengan kembali ke syari’at Islam, menegakkan hukum-hukum Islam dan mengaplikasikan etika Nabi.

Jadi, cara penting yang harus ditempuh dalam menciptakan keamanan, (ialah dengan) menyebarkan dakwah menuju aqidah yang benar kepada umat manusia dan membasmi kesyirikan, besar maupun kecil. Dengan inilah akan tercapai janji Allah. Allah tidak mengingkari janjiNya.

Keamanan dikumandangkan setiap individu, masyarakat dan negara. Sebab kehidupan mereka tidak akan normal, kecuali dengan terciptanya stabilitas kemanan.

Jadi para jamaah marilah kita jaga keamanan Negeri ini jangan sampai kita terbawa kepada pemikiran yang radikal, Terorisme dan intoleran. Seperti yg saya katakan tadi keamanan dan iman lebih penting.

Sekitar Pukul 21.30 wib acara dilanjutkan dengan pemberian Santunan anak Yatim Piatu dan Ramah Tamah serta makan bersama.

Seluruh rangkaian kegiatan berakhir pada pukul 23.00 wib. Kegiatan selesai dengan situasi kondusif.