Kasus campak di Amerika Serikat (AS) mencatatkan rekor tertinggi

oleh -47 Dilihat

DNEWSRADIO.COM – Para pejabat menyampaikan, pada Rabu (24/4) waktu setempat, bahwa kasus campak di Amerika Serikat (AS) mencatatkan rekor tertinggi, mencapai 695 kasus pada 2019. Ini merupakan kasus terbanyak dalam setahun mengingat penyakit itu telah dinyatakan hilang pada pergantian abad ini.

Hasil perhitungan terbaru dari kasus-kasus di Amerika, yang telah dikonfirmasi oleh otoritas AS, diketahui telah melampaui rekor tinggi sebelumnya pada 2014 yang mencapai 667 kasus.

Menurut laporan UNICEF, jumlah kasus tersebut melonjak di tengah gerakan global menentang inokulasi atau suntik vaksin, yang menyebabkan sekitar 169 juta anak kehilangan dosis penting pertamanya dari vaksin campak antara 2010 dan 2017.

Sementara itu Children’s Fund, yang berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menemukan bahwa AS berada di posisi teratas dalam daftar negara-negara berpenghasilan tinggi, di mana anak-anaknya belum mendapat imunisasi putaran pertama mereka dengan jumlah lebih dari 2,5 juta.

Di bawah AS, terdapat Prancis dan Inggris dengan masing-masing ada lebih dari 600.000 dan 500.000 bayi yang tidak mendapat vaksin selama periode yang sama.

Sedangkan di seluruh dunia, kasus campak mengalami kenaikkan 300% selama tiga bulan pertama 2019, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Demikian menurut laporan PBB.

“Diperlukan dua kali vaksin untuk melindungi anak-anak dari penyakit ini. Tetapi secara global, tingkat pemberian dosis pertama yang pada 2017 dilaporkan mencapai 85% telah berkurang menjadi 67% untuk pemberian dosis kedua. WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) sendiri merekomendasikan tingkat pemberian vaksin 95% untuk memperoleh kekebalan penuh,” demikian menurut laporan, seperti dikutip dari AFP, Kamis (25/4).

Puluhan ribu kasus telah dilaporkan terjadi di Afrika dan Eropa. Ukraina sendiri telah memiliki lebih dari 30.000 kasus dan 11 angka kematian sejak Januari.

UNICEF melaporkan, diperkirakan terdapat 110.000 orang meninggal dunia akibat campak pada 2017, di mana sebagian besar adalah anak-anak. Jumlah angka korban meninggal dunia telah naik 22% dibandingkan tahun sebelumnya,

Di antara negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, UNICEF telah menurunkan cakupan karena kurangnya akses, sistem kesehatan yang buruk, kepuasan diri, dan dalam beberapa kasus ada ketakutan atau skeptis terhadap imunisasi.

Dalam kelompok tersebut, Nigeria tercatat memiliki hampir 4 juta anak di bawah satu tahun yang belum divaksinasi. Jumlah itu disusul oleh India dengan 2,9 juta, Pakistan dan Indonesia yang masing-masing 1,2 juta, serta Ethiopia sebanyak 1,1 juta.

“Jika kita serius mencegah penyebaran penyakit berbahaya, namun dapat dicegah ini maka kita perlu memvaksinasi setiap anak baik di negara kaya dan miskin,” ujar Direktur Eksekutif UNICEF Henrietta Fore dalam sebuah pernyataan.

Kelompok Anti Vaksin
Penyakit yang sempat berhasil diberantas ini kembali muncul dan sangat menular, karena terkait dengan gerakan anti-vaksin yang berkembang di negara-negara makmur. WHO pun mengindentifikasi gerakan itu sebagai bentuk ancaman kesehatan global utama.

Fenomena anti-vaksin memiliki penganut di negara-negara Barat, namun sangat terkenal di AS, karena didorong oleh klaim medis yang tidak berdasar yang tersebar di media sosial.

“Tingginya jumlah kasus pada 2019 terutama dari beberapa wabah besar – satu di Negara Bagian Washington dan dua wabah besar di New York yang dimulai pada akhir 2018,” demikian pernyataan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit atau Centers for Disease Control and Prevention (CDC).

Orang-orang yang terinfeksi virus dari Israel dan Ukraina membawa masuk ke AS, dan meneruskannya ke anggota komunitas – yang kebanyakan dari mereka belum divaksinasi.

Meskipun New York dan Negara Bagian Washington telah menjadi area utama dari kasus-kasus terdampak, yang ditemukan di 22 negara bagian.

“Faktor-faktor penting yang berkontribusi terhadap wabah di New York adalah beredarnya informasi yang salah di masyarakat tentang keamanan vaksin campak / gondong / rubela,” kata CDC.

Dalam pernyataan terpisah yang mengonfirmasi rekor baru itu, Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Alex Azar berkata: “Vaksin campak adalah produk medis yang paling banyak dipelajari yang kami miliki, dan keamanannya telah ditetapkan dengan kuat selama bertahun-tahun.”

Dia juga menambahkan, pada pekan depan yakni selama pelaksanaan Pekan Imunisasi Bayi Nasional, departemennya akan melakukan kampanye komprehensif untuk memperkuat pesan bahwa vaksin aman dan efektif.

No More Posts Available.

No more pages to load.