Kasus kebocoran data penduduk dalam skala besar kembali terjadi

oleh -315 views

Kasus kebocoran data penduduk dalam skala besar kembali terjadi. Kali ini diduga bersumber dari sistem yang ada di BPJS Kesehatan. Lantas, apa yang bisa dilakukan masyarakat untuk meminimalisir dampak yang bisa saja timbul karena data pribadinya sudah terlanjur bocor?

Pakar keamanan siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya mengatakan memang tidak banyak yang bisa dilakukan masyarakat ketika datanya terlanjur bocor. Namun, ada beberapa langkah kecil yang sebaiknya segera dilakukan, antara lain segera mengubah password dari berbagai akun yang dimiliki.

Sebab, ada kecenderungan masyarakat menggunakan password dari data-data pribadinya seperti tanggal lahir.

“Jangan lagi pakai data-data kependudukan untuk password akun pribadi. Sebab, ada potensi akunnya diambil alih karena tanggal lahir dan juga data-data kependudukan lainnya sudah diketahui,” kata Alfons Tanujaya ,Senin (24/5/2021). 

Dikatakan, bocornya data penduduk memang menimbulkan banyak risiko. Data yang bocor tersebut bisa saja digunakan oleh pelaku kejahatan untuk membuat KTP palsu dan kemudian menjebol rekening korban. Selain itu, KTP palsu juga bisa digunakan untuk mengajukan pinjaman online. Namun, berbagai risiko kejahatan ini masih bisa diminimalisir.

“Untuk pemilik data, memang tidak banyak yang bisa dilakukan. Paling pihak lain yang bisa membantu, misalnya pihak bank atau dukcapil. Misalkan ada orang yang ingin membuka rekening di bank, dukcapil bisa kasih alat untuk mendeteksi keaslian KTP tersebut,” kata Alfons.

Hal senada juga disampaikan pakar keamanan siber yang juga chairman lembaga riset siber Communication & Information System Security Research Center (CISSReC), Pratama Persadha. Selain segera mengamankan berbagai akun dengan mengganti password, menurut Pratama, upaya lain yang bisa dilakukan adalah mengaktifkan verifikasi dua langkah atau two-factor authentication.

Pratama juga menyarankan untuk memasang AntiVirus yang terbaru untuk berjaga-jaga jika terdapat malware. Selain itu, gunakan password yang berbeda untuk setiap akun online, termasuk e-commerce dan media sosial.

“Yang juga penting, jangan mengklik link asing secara sembarangan karena ditakutkan adanya phising. Kemudian, jangan share kode OTP yang kita dapatkan kepada siapa pun,” pesan Pratama.

No More Posts Available.

No more pages to load.