Kemenangan Manchester United atas tuan rumah Tottenham Hotspur pada lanjutan Premier League 

oleh -590 views

Kemenangan Manchester United atas tuan rumah Tottenham Hotspur pada lanjutan Premier League Minggu (11/4/2021) malam WIB ternyata menyisakan cerita yang berlanjut meski pertandingan telah usai.

Uniknya, cerita berikutnya bukan seputar taktik atau gol-gol Setan Merah yang membuat klub asuhan Ole Gunnar Solskjaer ini makin kokoh di peringkat kedua klasemen sementara Liga Inggris.

Bupati Pesawaran

Pergunjingan di media massa maupun media sosial justru berkaitan dengan penyerang sayap Tottenham, yakni Son Heung Min.

Striker asal Korea Selatan ini adalah pencetak satu-satunya gol Tottenham ke gawang MU yang dikawal Dean Henderson. Namun, ia pula yang dianggap sebagai biang keladi dianulirnya gol Edinson Cavani pada menit ke-33.

Tak pelak, Son atau yang biasa dipanggil Sonny menjadi bulan-bulanan komentar miring fans MU.

Seusai pertandingan, dunia maya terutama Twitter dijejali berbagai ejekan yang mengarah ke pemain berusia 28 tahun ini.

Berbagai komentar itu kemudian menjadi perhatian serius karena sebagian berbau rasial.

728×90 Leaderbord

Bukan hanya itu. Manajer kedua tim, yakni Jose Mourinho dan Solskjaer, yang sudah beperlukan seusai peluit akhir pertandingan, belakangan malah seolah berselisih gara-gara mengomentari aksi Son.

Aksi dimaksud adalah ketika Son terkapar memegangi mukanya yang terantuk telapak tangan gelandang MU, Scott McTominay. Ketika itu kedudukan masih 0-0.

Cerita dimulai ketika MU membangun serangan melalui sisi kiri pertahanan Tottenham.

McTominay yang membawa bola coba dihambat oleh Son, yang pada pertandingan kemarin sering turun ke lini pertahanan.

Gelandang MU itu ternyata mampu menggocek bola dan melewati Son. Posisi bola di kaki McTominay tidak dalam posisi terancam lawan.

Sepersekian detik berikutnya ia sudah bebas meninggalkan Son. Namun, kibasan tangan kanan McTominay mengenai muka Son yang ada di belakangnya.

Son pun terjatuh dengan memegang muka. Persoalannya, Son tidak segera bangkit.

Bagi fans MU, kibasan tangan McTominay bisa dilihat sebagai upaya menepis tangan Son yang mencoba menahannya. Kontak tangan mengenai muka adalah hal lumrah dalam sepakbola. Bahkan seringkali kepala dengan kepala.

Namun, wasit Chris Cavanagh punya pertimbangan lain. Cavanagh justru menilai insiden itu sebagai pelanggaran sehingga gol MU dibatalkan.

Di pinggir lapangan, Solskjaer tertangkap kamera berdebat dengan asisten wasit. Toh, gol tetap dibatalkan.

London.Football menulis bahwa minggu kemarin sebagai akhir pekan yang penuh kontroversi.

Salah satunya adalah karena gol Cavani dianulir dan kemudian mengundang banyak kemarahan dari pendukung netral dan pakar yang menonton.

VAR dianggap merusak pertandingan yang memiliki arti penting dalam pertarungan untuk posisi empat besar.

Komentar juga terlontar dari mantan penyerang Timnas Inggris, Gary Lineker. Padahal dalam karier sepak bolanya Lineker tidak pernah bermain untuk MU. Malahan, ia pernah membela Tottenham Hotspur pada musim 1992/1993.

Melalui akun Twitternya, Lineker berkomentar hanya dengan enam kata, “You have got to be kidding!” (Anda pasti bercanda!)

Cuitan Lineker berikutnya, “Sungguh luar biasa betapa menggelikannya VAR. Tidak hanya dengan banyaknya kesalahan mereka tetapi juga menyedot nyawa dari permainan. Kegembiraan merayakan, yang membuat sepakbola begitu istimewa, telah benar-benar diencerkan.”

Keputusan wasit menganulir gol itu tampak sekali memimbulkan kekesalan pada para pemain MU.

Apalagi tujuh menit kemudian justru Son berhasil melesakkan bola ke gawang Henderson. Ini adalah gol ke-14 Son di musim ini.

Cavani terlihat emosi. Ia harus menerima kartu kuning karena dinilai berlaku kasar pada pemain lawan semenit setelah timnya tertinggal oleh gol Son.

MU yang seharusnya memimpin kini justru tertinggal satu gol hingga babak pertama usai. London.Football menulis, gol Son bagaikan menggosokkan garam ke dalam luka United.

Meski pada akhirnya MU memenangi pertandingan, insiden tersebut masih menjadi pembicaraan seusai pertandingan.

Menanggapi komentar Solskjaer, Mourinho mengatakan, “Sehubungan dengan itu, saya hanya ingin mengatakan bahwa Sonny sangat beruntung karena ayahnya adalah orang yang lebih baik dari Ole. Saya seorang ayah. Saya pikir sebagai seorang ayah Anda selalu memberi makan anak-anak Anda tak peduli apa yang dia lakukan. Jika Anda harus mencuri untuk memberi makan anak-anak Anda, Anda mencuri. Saya sudah memberi tahu Ole apa yang saya pikirkan tentang komentarnya.”

Dikutip dari Sky Sport, manajemen Spurs menyatakan bahwa salah satu pemainnya mendapatkan pelecehan rasial.

Tottenham mengutuk pelecehan rasis secara online yang disebut “menjijikkan” kepada Son Heung Min menyusul kekalahan 1-3 dari Manchester United.

Setelah pertandingan, sejumlah pengguna media sosial melontarkan hinaan rasis kepada Son.

Pihak Tottenham telah melaporkan pelecehan rasisme itu ke platform Twitter. “Dan kami sekarang akan melakukan peninjauan penuh bersama pihak Premier League untuk menentukan tindakan paling efektif. Kami mendukung Anda, Sonny,” tulis akun resmi Tottenham Hotspur.

Twitter telah memberi tahu Sky Sports News bahwa mereka telah menghapus banyak kiriman berisi hal yang menyinggung rasial.

Seorang juru bicara Twitter mengatakan, “Tidak ada ruang untuk pelecehan rasis di Twitter dan kami bertekad dalam komitmen kami untuk memastikan percakapan sepak bola di layanan kami aman untuk penggemar, pemain, dan semua orang yang terlibat dalam permainan.”

“Saat kami mengidentifikasi akun yang melanggar salah satu peraturan Twitter, kami mengambil tindakan penegakan hukum. Kami telah terlibat secara proaktif dan terus berkolaborasi dengan mitra kami yang berharga di sepak bola untuk mengidentifikasi cara mengatasi masalah ini secara kolektif dan akan terus memainkan peran kami dalam mengekang ini. perilaku yang tidak dapat diterima – baik online maupun offline.” Demikian seperti dilansir dari Sky Sport.