Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mendanai pembuatan film dokumenter bertajuk Nyanyian Pinggir Kali 

oleh -2.870 views

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mendanai pembuatan film dokumenter bertajuk Nyanyian Pinggir Kali yang mengangkat perjuangan Yusuf Bilyarta Mangunwijaya atau yang populer dipanggil Romo Mangun membangun permukiman Kali Code, Yogyakarta, sebagai perkampungan bermartabat dan berbudaya. Film itu didanai melalui program Fasilitas Bidang Kebudayaan 2020.

“Melalui film dokumenter drama ini diharapkan kita dapat membuka kembali lembaran sejarah ketokohan seorang budayawan dalam perjuangannya membela kaum lemah dan miskin di Kali Code. Bagaimana seorang Romo Mangun menyulap permukiman liar yang awalnya dipandang sebelah mata menjadi sebuah perkampungan yang bermartabat dan layak huni,” ujar Sergius Sutanto, penerima Fasilitas Bidang Kebudayaan 2020 dari Kemdikbud dalam keterangan tertulisnya kepada SP di Jakarta, Jumat (9/10/2020).

Sergius, penulis cerita dan sutradara film Romo Mangun itu, merupakan salah satu dari 84 seniman dan budayawan yang proposalnya menjadi pemenang program Fasilitas Bidang Kebudayaan 2020.

Sergius mengatakan, ia mengangkat kisah tentang Romo Mangun karena meski berlatar sebagai rohaniwan Katolik, namun perjuangan Romo Mangun sangat universal. Ia menerobos sekat-sekat kelompok, suku, dan agama.

Baginya, kata Sergius, Indonesia bukan satu atau dua golongan saja. Indonesia adalah kita.

“Tak berlebihan jika akhirnya orang melihat Romo Mangun sebagai satu sosok yang merajut harmoni dalam kebinekaan” seperti yang tersirat dari kostum keseharian yang kerap dipakainya, sarung dan kopiah hitam,” papar Sergius.

Romo Mangun lahir di Ambarawa, Jawa Tengah pada 6 Mei 1929 dan wafat di Jakarta pada 10 Februari 1999. Ia termasuk salah satu tokoh nasional dengan multi kebisaan, rohaniwan, pengajar, novelis, sastrawan, arsitek, juga budayawan.

728×90 Leaderbord

Setelah wafat, predikat Romo Mangun menjadi lebih panjang, sebagai guru bangsa, lentera pendidikan, nabi masa kini, pejuang kemanusiaan, dan sebagainya. Tak heran, tambah Sergius, jika ketokohan Romo Mangun sangat melegenda di Tanah Air bahkan hingga ke manca negara.

Dua buah bintang kehormatan telah disematkan kepadanya yaitu “Bintang Mahaputera Nararya” dari Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada tahun 2000 dan “Bintang Budaya Parama Dharma” dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2010.

Integritas dan kiprahnya dalam upaya memajukan kebudayaan lokal pun patut dipujikan, baik dalam dunia sastra maupun bidang arsitektur. Salah satu karya monumental Romo Mangun di bidang arsitektur adalah Perkampungan Kali Code di Yogyakarta yang dibangun pada sekitar 1980 bersama masyarakat, mahasiswa, dan para relawan secara bergotong royong.

Sebuah permukiman yang diperuntukkan bagi gelandangan, bromocorah, pelacur, dan anak-anak jalanan, yang di kemudian hari dianugerahi beberapa penghargaan bergengsi tingkat internasional, di antaranya; “The Aga Khan Award for Architercture” (1992), “The Ruth and Ralph Erskine Fellowship Award” (1995) dari Pemerintah Swedia untuk arsitektur demi rakyat yang tak diperhatikan, serta “The Professor Teeuw Foundation Award” Leiden-Jakarta (1996).

Menurut Sergius, banyak pembelajaran menarik dari perkampungan yang berada di bawah Jembatan Gondolayu, Yogyakarta, yang masih berdiri hingga kini. Tidak saja dari sisi perjuangan, namun juga banyak terkandung nilai kebudayaan di dalamnya.

“Salah satunya terekam jelas pada model arsitektur perumahan di sana, seperti wisma dan koperasi Girli, asrama para relawan, balai kampung, rumah susun, hingga fasilitas umum lainnya,” tutur Sergius.

Dikatakan, lewat lukisan mural bercorak warna-warni yang ditorehkan di setiap dinding dan atap bangunan, Romo Mangun seakan ingin bersuara tentang kebebasan berkespresi yang wajib dimiliki oleh siapapun di negeri ini. Pemilihan material seperti bebatuan alam, bambu, batang pohon, dan sebagainya menjadi penciri model arsitektur yang menyatu dengan kondisi alam sekitar. Saat berkarya di sana, Mangun sendiri membangun sebuah rumah kediaman yang diberi nama: Rumah Bambu.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan, Fasilitas Bidang Kebudayaan (FBK) adalah kegiatan pendukungan yang bersifat stimulus yang diberikan kepada perseorangan maupun kelompok, dan dapat diapresiasi masyarakat dan pemangku kepentingan secara luas. Ini menjadi cikal bakal Dana Perwalian Kebudayaan.

“FBK diharapkan dapat menjadi wadah penyediaan ruang keragaman ekspresi dan mendorong interaksi budaya dan inisiatif-inisiatif baru dalam upaya pemajuan kebudayaan Indonesia sesuai UU No.5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan,” ujar Hilmar saat membuka lokakarya bagi penerima FBK, baru-baru ini.

Dikatakan FBK sebagai salah satu stimulus yang diberikan kepada perseorangan/kelompok, bersifat non-fisik dan non-komersil, serta dapat diapresiasi masyarakat dan pemangku kepentingan secara luas.

Bantuan Pemerintah Bidang Kebudayaan meliputi Fasilitasi Bidang Kebudayaan Perseorangan/Lembaga/Komunitas Budaya, Fasilitasi Kegiatan Kesenian, Fasilitasi Sarana Kesenian, Fasilitasi Penulisan Buku Sejarah, dan Fasilitasi Komunitas Budaya di Masyarakat.

Tercatat, ada tiga jenis fasilitasi yang diberikan, antara lain, Dokumentasi Karya/Pengetahuan Maestro. Jenisnya berupa artikel, laporan penelitian, kumpulan naskah, modul dan sebagainya dari seorang maestro seni di suatu daerah.

Ditambahkan, untuk tahun ini, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengalokasikan dana sekitar Rp 80 miliar untuk menggelar lokakarya FBK.