Kesetiaan Wakil Presiden Mike Pence kepada bosnya, Presiden Donald Trump, akan menghadapi ujian final

oleh -667 views

Kesetiaan Wakil Presiden Mike Pence kepada bosnya, Presiden Donald Trump, akan menghadapi ujian final pada Rabu (6/1/2021) ini ketika dia memimpin sidang Kongres untuk menetapkan hasil pemilihan presiden.

Menurut penghitungan suara elektoral di seluruh negara bagian, kandidat Partai Demokrat Joe Biden terpilih sebagai presiden baru dengan keunggulan 306 berbanding 232 untuk Trump.

Dalam cuitan terbarunya, Trump terang-terangan menyebutkan bahwa sebagai pemimpin sidang, Pence punya otoritas membatalkan hasil pilpres ini.

“Wakil presiden punya wewenang untuk menolak para elektor yang dipilih secara curang,” tulis Trump di Twitter, Selasa waktu setempat.

Dalam sistem pemilihan presiden Amerika, pemilih memberikan suara untuk para elektor di setiap negara bagian yang kemudian meneruskan suara mereka ke kandidat yang dipilih.

Sebagai contoh, Biden menang di negara bagian Georgia yang memiliki 16 suara elektoral, maka Georgia menunjuk 16 elektor yang mewakili Biden untuk memberikan suara ke tingkat federal.

Setelah disahkan di tingkat negara bagian, suara para elektor ini kemudian dikirim ke Kongres untuk dijumlah total dan disahkan, dalam sidang yang akan dipimpin oleh Pence dalam kapasitasnya sebagai presiden Senat.

728×90 Leaderbord

Sebelum bercuit, Trump mengatakan hal serupa di hadapan pendukungnya di Georgia.

“Saya berharap Mike Pence datang membantu kita, saya harus sampaikan pada Anda,” kata Trump, Senin malam.

“Tentu, jika dia tidak bersedia, saya tidak akan menyukainya seperti sekarang.”

Ini diplomasi yang sangat khas Trump, kombinasi antara pujian dan ancaman terselubung.

Tantangan ini menempatkan Pence dalam posisi yang sangat sulit, karena kehadiran wakil presiden di sidang penetapan hasil pilpres sifatnya hanya seremonial.

Sebelum dibawa ke Kongres, semua hasil penghitungan suara sudah disahkan di masing-masing negara bagian, semua sengketa sudah diputus di pengadilan, dan penghitungan ulang suara sudah dilakukan di mana perlu.

Namun, jika dia menuruti permintaan Trump, hal itu bisa memicu babak baru gonjang-ganjing politik Amerika yang tidak tertutup kemungkinan bisa berujung ricuh di seantero negeri.

Analisis semua media arus utama di Amerika menyebutkan bahwa tidak ada ceritanya seorang wakil presiden bisa mementahkan hasil pilpres yang begitu menyita energi, biaya, dan waktu hanya dalam sebuah sidang sehari.

Namun, Trump seperti tidak memahami fungsi seremonial wapres di sidang semacam ini karena berulang kali mengindikasikan keinginannya agar Pence bertindak untuk membatalkan kemenangan Biden dan memberikan padanya selaku petahana.

Sejumlah orang dekat Pence juga mengatakan bahwa ia tidak akan melawan konstitusi dengan membatalkan hasil pilpres begitu saja.

Meskipun demikian, Trump terlihat masih sangat percaya dengan pendapatnya sendiri bahwa Pence bisa membalikkan keadaan di ruang sidang.

Tuntutan Trump pada Pence itu disampaikan setelah dia memicu kontroversi lainnya, yaitu menelepon pejabat Georgia untuk membatalkan kemenangan Biden di sana dan menyatakan dia sebagai pemenang.

Percakapan telepon Trump dengan Sekretaris Negara Bagian Georgia Brad Raffensperger ini kemudian dibocorkan ke media dan membuat heboh Amerika.