Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Pendidikan dan Kaderisasi Abdullah Jaidi mengatakan, peringatan Iduladha merupakan saat yang tepat untuk mengambil contoh dari ketaatan dan pengorbanan kepada Tuhan

 Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Pendidikan dan Kaderisasi Abdullah Jaidi mengatakan, peringatan Iduladha merupakan saat yang tepat untuk mengambil contoh dari ketaatan dan pengorbanan kepada Tuhan

Nasional801 Dilihat

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Pendidikan dan Kaderisasi Abdullah Jaidi mengatakan, peringatan Iduladha merupakan saat yang tepat untuk mengambil contoh dari ketaatan dan pengorbanan kepada Tuhan.

Dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (29/6/2023), Jaidi menjelaskan, Nabi Ibrahim menerima perintah Tuhan untuk menyembelih putranya sendiri, Nabi Ismail.

Meskipun Nabi Ismail merupakan anak yang dinantikan selama bertahun-tahun, Nabi Ibrahim tetap bersedia melaksanakan perintah tersebut.

“Padahal, itu adalah putranya yang diidam-idamkan puluhan tahun lamanya, setelah istrinya lama tidak memiliki anak. Tiba-tiba datang perintah dari Yang Maha Kuasa untuk menyembelih anaknya sendiri. Walaupun demikian, Nabi Ibrahim AS tetap menyatakan kesiapannya untuk melaksanakan perintah itu,” kata Jaidi.

Jaidi juga menyampaikan bahwa Nabi Ismail dengan penuh kesadaran menerima perintah tersebut, menegaskan bahwa perintah untuk menyembelih dirinya datang dari Tuhan.

Sikap ketaatan yang ditunjukkan oleh Ibrahim dan Ismail menunjukkan pengorbanan fisik yang tinggi ketika mereka pertama kali diminta berkurban kepada Allah.

Menurut Jaidi, kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menjadi contoh pengorbanan fisik, sementara makna berkurban yang tersirat adalah mewujudkan rasa ketaatan.

Berkurban merupakan simbol pengorbanan jiwa, raga, dan harta benda dalam kehidupan. Semangat Iduladha juga mencerminkan kedisiplinan dalam bekerja, berusaha, dan kehidupan sehari-hari.

Sebagai umat yang menghormati ketaatan, Jaidi menekankan pentingnya mematuhi aturan yang ada. Ia mengungkapkan bahwa penegakan hukum sangat diperlukan agar manusia tidak melanggar aturan. Jika aturan tidak ditegakkan, maka manusia akan menjadi tidak taat dan tidak teratur.

Jaidi berharap Iduladha dapat menjadi momentum untuk saling menghormati dan menyebarkan kasih sayang, karena tujuan hidup manusia adalah saling menghormati dan menghargai.

Selain itu, umat Islam juga diharapkan menegakkan kejujuran dan keadilan, karena ketidakjujuran dan ketidakadilan akan membuat jiwa merasa bersalah dan takut.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga ketenangan hidup dan menghindari keonaran serta gerakan yang bersifat radikal dan ekstremisme.

Pada Iduladha, Jaidi menyarankan agar daging hewan kurban tidak hanya diberikan kepada fakir miskin Muslim, tetapi juga kepada orang lain yang membutuhkannya, meskipun berbeda agama. Hal ini bertujuan untuk mewujudkan sikap kemanusiaan dan kebersamaan dalam kehidupan.

Terakhir, Jaidi memberikan pesan agar perayaan Iduladha tahun ini juga menjadi kesempatan untuk mempersiapkan masyarakat Indonesia menjadi pribadi yang dewasa dan toleran, terutama menjelang Pemilu Serentak 2024.

Ia menekankan pentingnya saling menghormati dan menyantuni satu sama lain, serta menghindari penggunaan kata-kata yang tidak pantas terhadap sesama saudara di Indonesia.

“Siapa pun kontestan yang maju dalam tahun politik ini, kita harus tetap saling menghormati dan menyantuni. Tidaklah pantas kalau ada kata-kata yang tidak baik terlontar kepada sesama saudara di Indonesia ini,” ujar Jaidi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *