Komunitas Jakarta Illustration Visual Art (JIVA) menggelar kembali menggelar pameran bersama seni kontemporer

0 52

dnewsmedcenter – Komunitas Jakarta Illustration Visual Art (JIVA) menggelar kembali menggelar pameran bersama seni kontemporer. Berangkat dengan tema Light My Fire, JIVA menampilkan 37 karya dari 21 perupa di KOI Gallery, Kemang, Jakarta Selatan hingga 29 September 2019. Lewat eksplorasi kesadaran diri, JIVA mengajak para seniman membakar semangat berkarya.

“Light My Fire mengungkapkan semangat seniman yang menyala kembali lewat karya-karyanya. Setelah situasi politik lalu, seniman ikut terpecah belah. Di sini, mereka bersatu lagi, dan mengungkapkan rasa kebersamaan lewat pameran ini. Pameran ini menjadi bukti agar masyarakat Indonesia bisa melihat bahwa seni rupa Indonesia tetap kuat,” ujar Ghanyleo, penggagas JIVA, saat pembukaan pameran, Senin (9/9) malam.

Menurut Ghany, semangat dalam setiap seniman berbeda-beda. Itulah yang membuat pameran ini menampilkan beragam gaya dan aliran seniman. Masing-masing perupa mengungkapkan makna semangat atau fire. Meskipun mayoritas merupakan karya baru, ada juga karya tahun 2003 milik Ponk-Q Harry Purnomo yang dirasakan selaras dengan tema pameran.

“Saya sendiri membawakan karya berjudul Light My Fire. Buat saya, waktu begitu cepat berlalu, bahkan lebih cepat dari kuda berlari. Tiba-tiba saja sudah berganti hari. Inspirasi saya muncul karena senang nonton pacuan kuda dan masa lalu gaya surealisme Salvador Dali,” tutur perupa lulusan Interstudi Jakarta ini.

Konsistensi pada tema juga diperlihatkan Dewiyanti Lim. Pelukis wanita kelahiran Surabaya ini memilih objek sosok tubuh wanita tanpa wajah. Karya anyar tahun 2019 ini mengeksplorasi kombinasi warna terang dan gelap cat akrilik berjudul Light My Fire. Kekuatan Dewiyanti terlihat pada komposisi warna yang memberi pancaran cahaya berpendar sekaligus efek siluet dari lekukan tubuh indah sang wanita.

Di bagian lain, pengunjung juga bisa menyaksikan inspirasi tematik Light My Fire [the Legend of Arjuna Fantasy] dan Light My Fire [the Spirit of Borneo Tattoo] pada kanvas Syis Paindow. Dua lukisan campuran akrilik dan cat minyak ini diberi judul serupa tema dalam pilihan objek tubuh manusia. Meskipun berbeda fokus penekanan, Syis tampaknya menaruh atensi pada simbol-simbol budaya Bali dan Kalimantan.

Pada kanvas berjudul The Beauty of Togetherness, Lully Tutus menampilkan permainan komposisi warna dan distorsi bentuk.  Siapapun penikmatnya bisa menangkap semangat eskapisme imajiner seorang Lully. Sepintas pelukis wanita kelahiran Rembang ini seolah mengajak orang berkelana di alam surealis masa kecil. Sebongkah jamur besar tampak menjadi “rumah” yang indah di tengah-tengah taman bunga yang penuh aneka warna.

Pengamat Seni Rupa Frigidanto Agung mengatakan semangat berkarya merupakan kata kunci dalam penciptaan karya. Melalui semangat penciptaan, seniman mengeksplorasi gagasan dan mengubah ide-ide yang ada dalam pikiran menjadi karya nyata. Pameran ini juga memberi kesempatan nyata tentang kehadiran seniman dan gagasannya bertarung dengan semangat penciptaan bersama-sama.

“Apa yang dilakukan Ghany dengan JIVA ini adalah satu gerakan seni kontemporer yang bukan hanya soal karya. Kontemporer itu ya semacam ini, seniman berkumpul bersama lalu membuat sesuatu. Gerakan ini harus terus berlangsung yang bisa direpresentasikan pada pameran lukisan. Lewat pameran ini, aktivitas seniman diketahui masyarakat dan menjadi tempat seniman untuk bereksplorasi serta tempat menunjukkan hasil eksperimen,” tambahnya.

Di pameran kali ini, JIVA menampilkan 37 karya dari 21 perupa yakni Dewiyanti Lim, Ghanyleo, Iryanto Hadi, Visithra Manikam (Malaysia), Dolly Andrie, Lully Tutus, Mufid, Firdaus Musthafa, Sri Hardana, Dara Sinta, Anna Josefin, Ade Pasker, Dani Kus, Krismarliyanti, Johnny Gustaaf, I Made Dewa Mustika, Hendrikus David Arie, RB.Ali, Ponk-Q Hary Purnomo, Silviana Tahalea, dan Syis Paindow.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Chat DJ