Kunjungan pasien non-Covid-19 ke rumah sakit (RS) turun 80 persen

oleh -141 views

Kunjungan pasien non-Covid-19 ke rumah sakit (RS) turun 80 persen. Pasalnya, pasien takut tertular. Selain itu, kini sebagian RS menambah kapasitas ruang rawat pasien Covid-19 sehingga ruang rawat pasien non-Covid-19 berkurang.

“Jadi (tingkat kedatangan) pasien-pasien non-Covid ini bukan agak sedikit turun melainkan turun sekali,” kata Sekjen Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi), Lia G Partakusuma dalam keterangan pers “Update RS Darurat Wisma Atlet: Dampak PPKM terhadap Tingkat Hunian Rumah Sakit” secara daring di Wisma BNPB, Selasa (16/2/2021).

Pemerintah melalui Menkes Budi Gunadi Sadikin meminta pihak RS menambah kapasitas perawatan pasien Covid-19 sebanyak 30 persen dari ruang rawat yang tersedia. “Di beberapa RS cukup besar agak terganggu pasien non-Covidnya karena jatahnya digunakan untuk pasien Covid-19,” kata Lia.

Dengan beralihnya ruang rawat non-Covid-19 menjadi ruang rawat Covid-19 maka jumlah pasien non-Covid-19 menurun. Keinginan mereka untuk ke RS menjadi rendah.

“Dari tadinya mereka adalah pasien yang rutin datang ke rumah sakit akhirnya turun. Mudah-mudahhan mereka ini kemudian lebih rajin minum obat dan olahraga sehingga tetap sehat meski tidak ke RS,” katanya.

Ditambahkan Lia, untuk datang ke rumah sakit pasien non-Covid-19 kini berpikir dua kali. Mereka takut datang ke RS karena khawatir tertular. “Datang ke RS karena penyakit lain, jangan-jangan pulangnya malah bawa Covid. (jumlah kedatangan) Turun sekali, hanya sekitar 20 persen pasien yang rutin datang kembali ke RS,” katanya.

Sampai saat ini, menurut Lia, belum semua RS menyediakan 30 persen ruangannya untuk pasien Covid-19.

728×90 Leaderbord

Permasalahannya ada pada ketersediaan sumber daya manusia. Menambah ruang isolasi Covid-19 berarti harus menambah perawat untuk menjaga ruangan tersebut.

“Dari tadinya mereka adalah pasien yang rutin datang ke rumah sakit akhirnya turun. Mudah-mudahhan mereka ini kemudian lebih rajin minum obat dan olahraga sehingga tetap sehat meski tidak ke RS,” katanya.

Ditambahkan Lia, untuk datang ke rumah sakit pasien non-Covid-19 kini berpikir dua kali. Mereka takut datang ke RS karena khawatir tertular. “Datang ke RS karena penyakit lain, jangan-jangan pulangnya malah bawa Covid. (jumlah kedatangan) Turun sekali, hanya sekitar 20 persen pasien yang rutin datang kembali ke RS,” katanya.

Sampai saat ini, menurut Lia, belum semua RS menyediakan 30 persen ruangannya untuk pasien Covid-19.

Permasalahannya ada pada ketersediaan sumber daya manusia. Menambah ruang isolasi Covid-19 berarti harus menambah perawat untuk menjaga ruangan tersebut.

Dikatakan, sebagian RS sedang melakukan perekrutan tenaga. Sebagian lagi sudah melatih tenaga kesehatan. Lia berharap bahwa kasus Covid-19 terus menurun sehingga tidak perlu memfungsikan ruang isolasi dan tenaga kesehatan tambahan.

Terkait dengan penambahan tempat tidur perawatan, menurut Lia, semua pihak harus turun tangan bersama. Bila penanganan pencegahan di tingkat mikro tidak dilakukan maka jumlah kasus akan terus bertambah dan berapa pun penambahan tempat tidur perawatan, tetap akan bobol. Sebaliknya, bila angka penularan rendah maka pasien yang masuk perawatan di RS juga rendah.

“Jadi tidak bisa RS saja yang harus menambah tempat tidur. Seberapa pun kami menyediakan tambahan tempat tidur kalau di hulunya tidak diselesaikan maka RS akan bobol juga,” katanya.

Jumlah RS rujukan Covid-19 saat ini mencapai 940 dengan 44.861 tempat tidur. Karena Persi juga membuka RS lain selain rujukan, maka ada tambahan sekitar 2.000 RS lagi sehingga total ada 66.712 tempat tidur.

Jumlah tempat tidur sebanyak itu diklaim sudah mencukupi. “Kalau kita lihat kemarin, 15 Februari, masih 16.869 (kasus aktif) artinya kalau dibandingkan dengan tempat tidur yang ada maka sebenarnya ketersediaan tempat tidur mencukupi,” katanya.

Secara nasional angka tempat tidur perawatan Covid-19 mencukupi, tapi bila melihat per provinsi atau persebaran jumlah aktif maka masih ada masalah pemenuhannya.

“Angka tempat tidur yang sudah mencukupi ini ditambah lagi dengan kondisi saat ini di mana ada penurunan sedikit jumlah kasus maka RS sedikit longgar. Tapi ini (longgar) hanya terjadi pada RS-RS yang bukan 100 persen rujukan Covid,” katanya.

Kondisi agak longgar itu hanya ada di RS yang memiliki ruang isolasi biasa, bukan di RS rujukan dengan ICU Covid-19. Untuk ketersediaan ICU Covid-19 terutama di Jawa, sudah penuh. “Seperti di Bekasi dan Jakarta angkanya masih di atas 60%,” kata Lia.

Diakui Lia, saat ini masih ada beberapa RS yang kewalahan karena ICU-nya penuh sehingga pasien harus kondisi berat harus menunggu satu dua hari di IGD atau ruang isolasi yang bukan ICU.

Lia belum bisa menyimpulkan apakah kondisi ini disebabkan atau merupakan efek dari pemberlakukan PPKM Mikro. “PPKM kan baru dilakukan belum lama. Saya tidak tahu apakah berdampak atau tidak, mudah-mudahan berdampak, yang pasti angkanya (jumah pasien) menurun,” kata Lia.

Lia menambahkan bahwa penanganan Covid-19 harus dikepung ramai-ramai. “Kita tidak bisa satu pihak saja menanggulangi,” katanya.

Karena itu Persi mengapresiasi pemerintah daerah yang sudah turun tangan menyediakan tempat untuk pasien Covid-19 bergejala ringan, misalnya di Bandung ada tempat militer atau sekolahan yang dijadikan lokasi isolasi.

Di tempat-tempat seperti itu, pasien mendapatkan perawatan dan perhatian yang justru tidak dimiliki RS misalnya sosialisasi antarpasien, olahraga bersama, dan kegiatan sejenis.