kurangnya pendidikan atau pemahaman tentang seks dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan eksplorasi aktivitas seksual

kurangnya pendidikan atau pemahaman tentang seks dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan eksplorasi aktivitas seksual

Tips59 Dilihat

Kasus yang sedang ditangani oleh Polres Jakarta Selatan tentang penyelenggaraan pesta seks di sebuah hotel di kawasan Semanggi, Jakarta membuat miris psikolog.

Pasalnya, untuk menghindari aktivitas seksual berkelompok atau orgy, pendidikan seksual sangat dibutuhkan sedini mungkin.

“Pendidikan seks mengajarkan individu untuk memahami diri sendiri, mengenali dorongan seksual, dan bagaimana cara menyampaikannya dengan lebih sehat,” ujar psikolog Nirmala kepada media, Jumat (15/9/2023).

Menurut Nirmala, kurangnya pendidikan atau pemahaman tentang seks dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan eksplorasi aktivitas seksual yang tidak sehat.

Sayangnya, beberapa individu masih merasa takut atau enggan menerima pendidikan seks. Mereka mungkin menganggap bahwa paparan seks pada usia dini akan merusak moral atau etika individu. Padahal, seks adalah bagian alamiah dari kehidupan dan tidak dapat dihindari.

Nirmala menegaskan bahwa pendidikan seks bukanlah tentang pornografi, melainkan tentang pemahaman diri dan dorongan seksual. Melalui pendidikan seks yang tepat, individu dapat memahami dorongan tersebut dan belajar cara mengekspresikannya dengan cara yang lebih sehat.

Ketika pemahaman yang benar tentang seksualitas tidak diberikan, individu mungkin mencari pemahaman yang keliru atau melakukan eksplorasi seksual yang tidak sesuai.

“Ketika dorongan itu muncul tapi tidak mendapat pemahaman yang jelas, orang akan mencari tahu atau mengeksplorasi. Akhirnya, mereka akan menyadari bahwa hal-hal semacam itu berisiko. Risikonya bisa beragam, termasuk kehamilan dini, keterlibatan dalam pornografi, atau bahkan pesta seks,” kata dia.

Nirmala juga menjelaskan bahwa terdapat berbagai alasan yang mungkin mendorong individu untuk terlibat dalam kegiatan pesta seks. Beberapa individu mungkin tergoda untuk mencoba karena pengaruh lingkungan atau pergaulan. Namun, ada juga individu yang terlibat karena rasa ingin tahu.

Nirmala menekankan bahwa tidak semua orang yang terlibat dalam aktivitas semacam ini mengalami gangguan psikologis yang serius. Terkadang, seseorang mungkin hanya terlibat karena situasi atau karena keingintahuan semata.

“Mungkin karena orang merasa bosan dan mencari variasi. Apa yang kita anggap tidak normal atau tidak wajar harus kita pertimbangkan dengan baik. Jangan menghakimi orang, kecuali jika pesta seks telah menjadi kebiasaan mereka, baru kita dapat menganggapnya sebagai gangguan, seperti fetish atau sejenisnya. Ketika mereka melakukannya berulang kali, itu menjadi masalah,” ucapnya.

Nirmala menambahkan bahwa kegiatan kontroversial seperti pesta seks dapat berdampak pada berbagai aspek, termasuk risiko kesehatan seperti penularan penyakit dan hubungan dengan pasangan.

“Mungkin jika seseorang memiliki pasangan di rumah, ini akan memengaruhi hubungan karena hal ini hampir sama dengan berselingkuh hanya saja konsep monogami menjadi kabur. Mereka akan lebih cenderung untuk percaya bahwa segala sesuatu mungkin dilakukan,” kata Nirmala.

Terkait upaya yang dapat dilakukan terhadap individu yang terlibat dalam kegiatan kontroversial seperti pesta seks, Nirmala menyarankan beberapa langkah yang bisa diambil.

Salah satunya adalah memberikan dukungan sosial, terutama dari orang-orang terdekat. Ini melibatkan pendekatan empati dan pemahaman terhadap situasi individu tersebut.

Nirmala menegaskan pentingnya memahami alasan di balik partisipasi mereka dalam aktivitas seksual yang kontroversial. Terkadang, individu dapat terlibat karena tekanan teman atau kurangnya pemahaman tentang risikonya.

Pendekatan lain yang dapat dilakukan adalah dengan bertanya langsung kepada individu tersebut tentang apa yang mereka rasakan dan bagaimana cara membantu mereka. Pendekatan ini menciptakan ruang untuk dialog terbuka dan pemahaman lebih lanjut.

“Mungkin mereka sendiri akan berterima kasih jika ada yang merangkul mereka, bertanya tentang perasaan mereka, dan mencoba membantu. Jadi, membantu mereka keluar dari situasi tersebut dan mengatasinya,” kata dia.

Upaya lainnya yang dapat dilakukan adalah pendampingan oleh seorang psikolog. Nirmala mencatat bahwa pendampingan oleh seorang ahli dapat membantu individu mengeksplorasi penyebab di balik partisipasi mereka dalam aktivitas seksual yang kontroversial dan membantu mereka mengatasi dorongan atau ketidaknyamanan yang mungkin dialami.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *