Malware diciptakan dengan berbagai intensi, namun kebanyakan dibuat untuk tujuan kriminal

0 35

dnewsmedcenter – Direktur Regional Asia Tenggara di Check Point Software Technologies, Evan Dumas, menilai, sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tengara disertai kelas menengah yang tumbuh pesat, Indonesia rentan terhadap serangan malware, khususnya dengan pertumbuhan bisnis di berbagai sektor.

Malware diciptakan dengan berbagai intensi, namun kebanyakan dibuat untuk tujuan kriminal, seperti menyerang institusi pemerintahan, perusahaan, dan bahkan individu,” Ujar Evan Dumas.

Evan mengatakan, ekosistem malware berkembang begitu pesat. Hal tersebut, seiring dengan pertumbuhan bisnis pengembang malware yang dinilai semakin menguntungkan.

“Apapun yang Anda gunakan dapat menjadi sasaran mereka, baik saat melakukan perdagangan saham atau ketika memegang peranan penting dalam lembaga pemerintahan. Kita bicara soal data, khususnya data penting. Pengembang malware menjadi ancaman yang siap mencuri data dan semua orang bisa menjadi targetnya,” ujar Dumas.

Menurut Evan, laporan terbaru Check Point berjudul Cyber Attack Trends: 2019 Mid-Year Report mengungkapkan, terdapat lima jenis malware yang berpotensi untuk berkembang di Indonesia yaitu, ransomware (11 persen), perbankan (30 persen), seluler (34 persen), cryptominers (48 persen) dan botnet (42 persen). Laporan tersebut juga mengungkapkan, perangkat ponsel, media penyimpanan data atau on-premise, tidak ada yang kebal terhadap serangan malware.

“Di manapun ada penyebaran uang, pasti terdapat ancaman malware, termasuk platform e-commerce. Sindikat penjahat siber, akan menyebarkan malware untuk mengakses data Anda,” lanjutnya.

Sebagai contoh, kata Evan, Agent Smith merupakan jenis malware ponsel yang ditemukan oleh peneliti Check Point, setidaknya telah menjangkiti lebih dari 570.000 perangkat di Indonesia. Sementara, para penggunanya masih belum menyadari.

“Mirip dengan aplikasi Google, bagian inti dari malawaremengeksploitasi beberapa kelemahan sistem operasi Android dan secara otomatis mengganti aplikasi yang sudah terpasang pada gawai dengan versi berbahaya tanpa diketahui oleh penggunanya. Jenis malware ini, digunakan untuk tujuan seperti pencurian kredit bank dan penyadapan,” jelas Evan.

Serangan Malware Tumbuh 50 Persen

Lebih lanjut, Evan menjelaskan, pertumbuhan serangan malware yang meningkat harus diperhatikan, dan strategi keamanan siber dituntut untuk melawan ancaman tersebut.

“Laporan kami menunjukkan, terdapat 50 persen peningkatan serangan malware sejak 2018. Hal itu merujuk pada peningkatan jumlah serangan malware terhadap aset perusahaan yang terdapat pada media penyimpanan data, platform surel, dan perangkat seluler individu. Termasuk peningkatan malware perbankan, karena orang-orang saat ini menggunakan komputer atau ponsel mereka untuk melakukan transaksi perbankan,” jelasnya.

Evan Dumas menambahkan, institusi keuangan, seperti bank, menjadi sasaran terbesar serangan malware. “Contohnya, JP Morgan yang dibobol beberapa tahun lalu oleh penjahat siber dengan menggunakan malware. Kasus tersebut menjadikan bank sebagai salah satu pengguna produk keamanan terbesar,” tambah Evan.

Menurut Evan, kebanyakan orang merasa perangkat lunak antivirus sudah cukup untuk melindungi gawai mereka. Padahal, anggapan tersebut tampaknya sudah tidak berlaku, mengingat malware sekarang disebarkan melalui banyak vektor. Contohnya, perangkat komputer personal, jaringan, dan perangkat seluler serta media penyimpanan data.

“Apa yang kita butuhkan saat ini adalah solusi tepat yang tidak hanya dapat menghapuskan virus biasa, namun juga ampuh mengatasi serangan malware paling canggih,” pungkas Evan Dumas.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Chat DJ