Masih mencekamnya situasi di Prancis membuat sang Presiden Emmanuel Macron memutuskan untuk membatalkan kunjungan kerjanya ke Jerman

Masih mencekamnya situasi di Prancis membuat sang Presiden Emmanuel Macron memutuskan untuk membatalkan kunjungan kerjanya ke Jerman

INTERNATIONAL289 Dilihat

Masih mencekamnya situasi di Prancis membuat sang Presiden Emmanuel Macron memutuskan untuk membatalkan kunjungan kerjanya ke Jerman.

Juru bicara Kantor Kepresidenan Jerman, Frank-Walter Steinmeir mengatakan bahwa Macron meminta penundaan kunjungan kenegaraan pertama ke Jerman. Perjalanan tersebut, yang seharusnya dimulai secara resmi pada hari Senin (3/7/2023) besok.

Rencananya Macron akan mengunjungi Berlin dan dua kota lain di Jerman.

Pembatalan perjalanan resmi tersebut merupakan tanda yang jelas dari gawatnya kerusuhan di Prancis. Ini adalah kedua kalinya dalam beberapa bulan terakhir kerusuhan Prancis merugikan Macron secara diplomatis.

Sebelumnya Raja Charles III membatalkan kunjungan luar negeri pertamanya sebagai raja Inggris, yang awalnya direncanakan ke Prancis, karena protes atas rencana reformasi pensiun Macron.

Situasi Prancis saat ini masih belum kondusif. Kerusuhan dan penjarahan terjadi di kota-kota di seluruh Prancis pada malam keempat, Sabtu (1/7/2023) malam waktu setempat.

Kementerian Dalam Negeri Prancis mengumumkan sebanyak 1.311 orang ditangkap. Sebanyak 45.000 petugas polisi dikerahkan untuk memadamkan kekerasan berhari-hari yang dipicu setelah kematian seorang remaja pada hari Selasa lalu.

Meskipun Presiden Emmanuel Macron telah mengimbau para orang tua untuk menjaga anak-anak mereka di rumah, bentrokan di jalanan antara para pengunjuk rasa dan polisi terus terjadi. Sekitar 2.500 kebakaran terjadi dan toko-toko digeledah, menurut pihak berwenang.

Ratusan polisi dan petugas pemadam kebakaran terluka, termasuk 79 orang dalam semalam, namun pihak berwenang belum merilis jumlah korban luka dari para pengunjuk rasa. Reaksi terhadap pembunuhan tersebut merupakan pengingat yang kuat akan kemiskinan, diskriminasi, pengangguran yang terus berlanjut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *