Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) menilai Infodemik atau informasi yang salah mengenai pandemi menjadi tantangan serius

oleh -276 views

Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) menilai Infodemik atau informasi yang salah mengenai pandemi menjadi tantangan serius dalam usaha penanganan covid-19 di Indonesia.

Pendiri Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Harry Sufehmi mengatakan, saat ini istilah infodemik kini sudah mengglobal karena turut memperburuk situasi dan tidak menolong sama sekali.

“Istilah Infodemik itu sudah mengglobal karena turut memperburuk situasi, kita saat ini di situasi pandemik, wabah global, bukan lokal. Infodemik tidak menolong situasi yang parah ini,” kata Harry, Senin (19/7/2021).

Selain itu, lanjut Harry, infodemik juga dapat berakibat fatal hingga menyebabkan korban nyawa. Fenomena itu yang sering muncul di tengah masyarakat, seperti misalnya informasi yang tidak benar mengenai salah satu obat penangkal covid-19 yang membuat masyarakat justru merasa aman dengan adanya obat tersebut sehingga mengabaikan anjuran protokol kesehatan.

“Akibat infodemic ini bisa cukup fatal, sampai menyebabkan korban nyawa. Misalnya informasi mengenai obat tapi hoax, jadi lengah gak apa-apa kalau kena, tinggal kasi bawang putih, padahal sebetulnya hoax. Terus berbagai narasi yang menghasut tapi hoax sehingga menyebabkan kepanikan di tengah masyarakat yang sudah cukup susah karena wabah ini, jadi kita kasihan sekali,” ujarnya.

Harry menjelaskan, sesungguhnya para ulama zaman dahulu telah menyusun ilmu hadist untuk melawan hoax. Dasarnya simpel untuk membantah atau mendeteksi hoax, yaitu sanad dan matan.

“Sanad itu sumber, matan itu konten. Jadi maksudnya, kita cek kalau kita dapat berita, sanadnya apa nih, sumbernya darimana. Kalau cuma forward– Whatsapp yang gak jelas sumbernya sama sekali, ya kita anggap hoax sampai terbukti sebaliknya, jadi supaya aman,” tambah Harry.

Kemudian, terkait konten atau isi berita, masyarakat sebaiknya mengecek apakah konten tersebut ada yang aneh atau tidak. Apabila ada isi berita yang ketika dibaca isinya langsung membangkitkan emosi, marah, gusar atau bahkan, ketakutan, serta mungkin berlawanan dengan yang selama ini beredar di media massa, maka harus dicek atau seperti tadi saja, dianggap sebagai berita hoax sampai terbukti sebaliknya.

“Jadi mengetahui ini hoax atau bukan itu simpel. Kita sudah diajarkan dari zaman dahulu yaitu apakah sanadnya jelas, gimana kontennya. Jadi kalau kita umat muslim sudah bisa berpegang kesitu, maka sebenarnya kita sudah bisa menghindari hoax ini,” jelas Harry.

Sebagaimana diketahui bahwa Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) sebagai bagian dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mencatat setidaknya infodemik berupa hoax atau informasi yang tidak benar seputar Covid-19 di Indonesia mencapai 566 kasus.

No More Posts Available.

No more pages to load.