Meningkatnya konflik antara Iran dan Israel memaksa para pedagang minyak untuk mengevaluasi kembali premi risiko geopolitik

Meningkatnya konflik antara Iran dan Israel memaksa para pedagang minyak untuk mengevaluasi kembali premi risiko geopolitik

Ekonomi88 Dilihat

Meningkatnya konflik antara Iran dan Israel memaksa para pedagang minyak untuk mengevaluasi kembali premi risiko geopolitik ketika pasokan dan permintaan yang ketat telah mendorong harga di atas US$ 90 per barel.

Serangan Iran terhadap Israel menandai peningkatan permusuhan yang membawa kedua negara ke dalam konflik langsung. Iran mengatakan serangan itu sebagai balasan atas pemboman kantor konsulatnya di Suriah.

Menurut Direktur Pelaksana Timur Tengah di konsultan FGE, Iman Nasser, harga minyak yang sudah mencakup premi risiko sekitar US$ 10 per barel, siap untuk naik. “Harga bisa bertambah US$ 2 hingga US$ 5 per barel karena kekhawatiran pembalasan Israel atau campur tangan Iran dalam pelayaran di sekitar Teluk Persia,” katanya dikutip Bloomberg, Minggu (14/4/2024).

Risiko serangan langsung Iran terhadap Israel sudah diperhitungkan sebelumnya mengingat harga minyak mentah Brent, naik 17% sepanjang tahun ini, melampaui US$ 90 per barel setelah serangan terhadap kedutaan Iran.

Namun, setelah Iran memberikan tanggapan, para pedagang akan meningkatkan fokus pada konflik di Selat Hormuz, yang merupakan titik penghubung utama bagi seperlima minyak dunia. Ketegangan atas gangguan di sana dapat menambah premi risiko minyak jika terjadi serangan terhadap kapal tanker.

Pasukan Iran pada Sabtu (13/4/2024), menyita kapal kontainer di dekat Selat Hormuz karena terkait Israel. Salah satu sekutu Iran di kawasan ini, kelompok Houthi Yaman, telah menyebabkan kekacauan di industri pelayaran dengan menyerang kapal-kapal di Laut Merah.

Timur Tengah yang bergejolak menambah premi risiko pada pasar dengan permintaan kuat menyusul kebijakan produksi OPEC+ mengurangi stok global sehingga mendorong harga lebih tinggi.