Menteri Kesehatan India Harsh Vardhan mengumumkan negaranya sudah dalam “tahap akhir” perang melawan pandemik Covid-19

oleh -415 views

Pada awal Maret, Menteri Kesehatan India Harsh Vardhan mengumumkan negaranya sudah dalam “tahap akhir” perang melawan pandemik Covid-19.

Vardhan tidak lupa memuji kepemimpinan Perdana Menteri Narendra Modi yang disebutnya sebagai “teladan bagi kerja sama internasional di dunia”. Sejak awal Januari memang India sudah mulai mengekspor vaksin ke negara-negara lain yang mereka sebut sebagai “diplomasi vaksin “.

Bupati Pesawaran

Optimisme Vardhan bertolak dari penurunan tajam kasus-kasus infeksi baru. Sejak masa puncak yang rata-rata mencapai di atas 93.000 kasus per hari pada pertengahan September, jumlah kasus harian terus anjlok. Pertengahan Februari, rata-rata kasus harian turun ke 11.000. Selain itu, rata-rata korban jiwa Covid-19 juga turun di bawah 100 per hari.

Euforia bahwa Covid sudah dikalahkan mulai muncul sejak akhir 2020. Para politisi, pembuat kebijakan, dan sejumlah media meyakini bahwa India sudah benar-benar mengentaskan diri dari wabah Covid.

Pada Desember, para pejabat bank sentral India mengumumkan bahwa kurva infeksi Covid sudah berhasil ditekuk. Dengan bahasa puitis mereka mengatakan perekonomian India “sedang melepaskan diri dari bayangan gelap musim dingin menuju tempat penuh cahaya matahari”. Mereka juka menjuluki Modi sebagai “guru vaksin “.

Pada akhir Februari, Komisi Pemilihan Umum India menegaskan akan menggelar pemilu legislatif di lima negara bagian dengan total 186 juta pemilik suara untuk memilih 824 wakil di DPRD.

Proses pemilu daerah ini berlangsung selama satu bulan dimulai sejak 27 Maret. Di negara bagian seperti Bengal Barat, ada delapan tahapan pemilu. Kampanye juga diizinkan berjalan maksimal, tanpa protokol kesehatan dan aturan jaga jarak.

728×90 Leaderbord

Pada pertengahan Maret, dua pertandingan kriket persahatan India versus Inggris membolehkan 130.000 penonton hadir di Stadion Narendra Modi di Gujarat, sebagian besar tidak memakai masker.

Tidak sampai sebulan, situasi berbalik. India mengalami serangan gelombang kedua yang jauh lebih parah dari yang pertama, sehingga banyak kota dipaksa menutup diri.

Pertengahan April, rata-rata kasus harian mencapai 100.000. Hari Minggu (18/4/2021) lalu, rekor baru pecah dengan 270.000 kasus dan 1.600 korban jiwa – dalam sehari!

Kalau tidak dilakukan upaya-upaya pencegahan, jumlah korban jiwa harian akibat Covid-19 bisa melampaui 2.300 di pekan pertama Juni nanti, menurut proyeksi The Lancet Covid-19 Commission.

Maka India sekarang berada dalam status darurat kesehatan masyarakat. Jagat media sosial penuh dengan video penguburan korban Covid di pemakaman yang sudah penuh sesak, kerabat yang berduka di halaman rumah sakit, antrean panjang ambulan berisi pasien, kamar jenazah yang melebihi kapasitas, dan para pasien yang memenuhi koridor dan lobi rumah sakit. Sejumlah foto menunjukkan ada dua pasien yang terpaksa berbagi satu ranjang.

Permintaan ranjang rumah sakit, obat, dan tabung oksigen melonjak. Obat-obatan marak dijual di pasar gelap dan prosedur tes butuh berhari-hari sebelum hasilnya diumumkan.

“Mereka tidak mengabarkan sampai tiga jam bahwa anak saya ternyata sudah meninggal,” seorang ibu bicara di video sambil duduk di ruang ICU.

Program vaksinasi massal yang sebelumnya begitu masif mulai limbung. Di awal, peluncuran vaksin buatan dalam negeri diwarnai kontroversi terkait tingkat efikasi yang rendah. Sampai dengan pekan lalu, India sudah menyuntikkan 100 juta dosis vaksin.

Namun, pasokan menjadi masalah saat ini. Serum Institute of India, produsen vaksin terbesar di dunia, mengakui tidak akan bisa meningkatkan produksi sampai akhir Mei karena kekurangan dana.

India juga menangguhkan ekspor vaksin di bawah lisensi Oxford-AstraZeneca karena kebutuhan dalam negeri melonjak drastis, dan bahkan mulai membuka pintu impor. Tabung oksigen juga saat ini harus diimpor.

Sementara itu, pertandingan kriket tetap digelar diam-diam setiap malam. Puluhan ribu orang mengikuti pemimpin mereka untuk ikut kampanye politik dan menghadiri perayaan Hindu, Kumbh Mela.

Para pakar meyakini bahwa pemerintah India betul-betul kehilangan kewaspadaan ketika gelombang kedua Covid mulai siap melanda.

Pada akhir Februari, BBC memberitakan adanya lonjakan kasus dan bertanya apakah India di ambang gelombang kedua.

“Kami tidak tahu apa penyebab lonjakan ini. Yang paling mengkhawatirkan adalah seluruh anggota keluarga bisa terinfeksi. Ini benar-benar tren yang baru,” kata Shyamsunder Nikam, seorang dokter di distrik Maharashtra yang dilanda lonjakan kasus baru.

Semua sesumbar India yang menyebutkan bisa melawan Covid karena populasi anak muda, imunitas lokal, dan populasi di pedesaan yang tidak terlalu padat — terbukti terlalu dini.

“Ini sangat khas India, kombinasi antara arogansi pejabat, nasionalisme berlebihan, sikap populis, dan birokrasi yang tanpa kompetensi mendorong lahirnya krisis ini,” tulis kolumnis Bloomberg, Mihir Sharma.

Gelombang kedua Covid-19 di India juga dipicu oleh sikap masyarakat yang mulai meremehkan. Mereka tetap hadir di resepsi perkawinan atau pertemuan sosial. Selain itu pemerintah memberi pesan yang kerap campur aduk, dengan membolehkan kampanye politik dan perayaan keagamaan.

Ketika angka kasus menurun, jumlah orang yang bersedia divaksin juga ikut turun sehingga menghambat program vaksinasi massal, yang menargetkan 250 juta orang untuk tahap sampai akhir Juli.

Bhramar Mukherjee, pakar biostatistik di University of Michigan, pernah bercuit bahwa India perlu mempercepat program vaksinasi justru ketika angka kasus mulai turun, tetapi tidak ada yang menggubrisnya.

“Saat itu sedang berkobar semangat telah menang,” kata Srinath Reddy, presiden Yayasan Kesehatan Masyarakat India.

“Sebagian orang mereasa kami telah meraih imunitas kelompok. Semua orang ingin kembali bekerja. Narasi seperti ini menjalar ke banyak telinga sehingga beberapa saran untuk tetap waspada tidak dibutuhkan lagi,” paparnya.