Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi mengatakan Indonesia mendukung penetapan utusan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Afganistan

Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi mengatakan Indonesia mendukung penetapan utusan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Afganistan

Nasional90 Dilihat

Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi mengatakan Indonesia mendukung penetapan utusan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Afganistan. Namun, PBB perlu memastikan utusan khusus ini dapat menjalankan tugasnya di tengah penolakan Taliban.

“Pada prinsipnya Indonesia sepakat dengan rekomendasi sekjen PBB mengenai penunjukkan utusan khusus sekjen PBB untuk Afganistan. Yang perlu dipastikan adalah utusan khusus tersebut dapat bekerja dan deliver,” jelas Retno seusai menghadiri pertemuan Afganistan yang dipimpin oleh PBB di Doha, Qatar, Senin (19/2/2024) waktu setempat.

Dia mengatakan ini adalah tantangan yang paling besar mengingat posisi Taliban tidak dapat menerima penunjukan utusan khusus tersebut. “Jangan sampai utusan khusus dibentuk, tetapi pada akhirnya tidak dapat bekerja,” imbuh Retno.

Dewan Keamanan PBB pada akhir tahun lalu meminta sekjen PBB menetapkan utusan khusus Afganistan. Utusan ini diharapkan membantu komunikasi dengan pihak Taliban, khususnya terkait isu gender dan hak asasi manusia (HAM).

Dilansir dari Voice of America, Taliban menolak utusan khusus ini, mengingat sudah ada UN Assistance Mission to Afghanistan yang bertujuan membantu rakyat setempat.

Pada konferensi pers terpisah, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengungkapkan PBB ingin mengadakan konsultasi dengan Taliban terkait utusan khusus ini.

“Kami membutuhkan konsultasi yang jelas dengan pihak Taliban guna mengklarifikasi peran dari utusan khusus tersebut, termasuk siapa yang bisa menjadi utusan khusus. Agar ide ini bisa lebih diterima dari sudut pandang pihak Taliban. Saya rasa ini juga akan menguntungkan pihak Taliban. Makanya konsultasi ini masuk akal,” ujar Guterres seusai pertemuan terkait Afganistan di Doha.

Sebagai informasi, Taliban menolak menghadiri pertemuan di Doha. Menurut Retno, Indonesia adalah satu-satunya negara ASEAN yang hadir dalam pertemuan ini. Pertemuan ini melibatkan negara-negara yang selama ini aktif dalam isu Afganistan.