Miom rahim, atau yang juga dikenal sebagai fibroid, adalah suatu kondisi yang dapat memunculkan berbagai gejala yang mengganggu

Miom rahim, atau yang juga dikenal sebagai fibroid, adalah suatu kondisi yang dapat memunculkan berbagai gejala yang mengganggu

Tips175 Dilihat

Miom rahim, atau yang juga dikenal sebagai fibroid, adalah suatu kondisi yang dapat memunculkan berbagai gejala yang mengganggu. Dr Sigit Pradono Diptoadi, seorang dokter spesialis obstetri dan ginekologi menjelaskan bahwa miom dapat menyebabkan gejala seperti perdarahan yang banyak dan lama, serta nyeri saat berhubungan intim.

Miom rahim adalah pertumbuhan tumor jinak yang terbentuk dari otot dan jaringan di dalam atau di dinding rahim. Salah satu gejala yang sering muncul adalah perdarahan yang berlebihan.

“Misalnya perdarahan lama dan banyak biasanya berkaitan dengan tumor yang tumbuh ke dalam dari rongga rahim. Kalau gejala penekanan itu pada miom tumbuh keluar dari rongga perut dan menekan organ sekitarnya,” kata dia Selasa (19/9/2023).

Selain perdarahan berlebihan, gejala miom lainnya dapat mencakup keputihan yang berlangsung lama, sensasi tertekan tergantung lokasi miom, seperti gejala sering buang air kecil jika miom tumbuh di dekat kandung kencing.

Tak hanya itu, pasien dengan miom rahim juga dapat mengalami sembelit, pembesaran perut, nyeri saat berhubungan intim, nyeri punggung bagian bawah, dan bahkan keguguran berulang. Dr Sigit mencatat bahwa meskipun demikian, beberapa perempuan mungkin tidak mengalami gejala sama sekali dan tidak menyadari bahwa mereka menderita miom.

Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal BMC Public Health pada tahun 2019, terdapat lebih dari 226 juta kasus miom di seluruh dunia, dengan 9,64 juta di antaranya merupakan kasus baru. Sekitar 20 hingga 25 persen kasus miom terjadi pada perempuan usia produktif, sementara 30 hingga 40 persen di antaranya terjadi pada perempuan berusia di atas 40 tahun.

Di Indonesia, statistik kasus miom belum diketahui secara pasti. Namun, sebuah studi yang dilakukan di salah satu rumah sakit di Bandung pada tahun 2015 menunjukkan bahwa kasus baru miom berkisar antara 6,43 hingga 12,46%.

Dr Sigit juga menyoroti faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami miom. Faktor-faktor ini termasuk usia, menstruasi dini, terlambatnya menopause, riwayat keluarga dengan miom, obesitas, dan ketidakmampuan untuk memiliki anak. Dia mengingatkan bahwa mereka yang memiliki faktor risiko ini perlu mewaspadai dan jika telah terkena miom, segera mengatasi kondisi tersebut.

Meskipun miom umumnya tidak menyebabkan komplikasi serius, jika dibiarkan tidak diobati, kondisi ini dapat menyebabkan nyeri yang intens, perdarahan berat yang dapat mengakibatkan anemia parah, infertilitas, dan bahkan keguguran, meskipun keguguran akibat miom jarang terjadi. Selain itu, miom dengan jenis dan derajat tertentu juga dapat meningkatkan risiko komplikasi selama kehamilan, seperti hambatan pertumbuhan janin dan kelahiran prematur.

Dr Sigit menekankan bahwa tanpa perawatan yang tepat, kasus miom juga dapat memberikan beban ekonomi karena memerlukan perawatan jangka panjang dan tindakan medis tambahan. Oleh karena itu, penting bagi individu yang mengalami gejala atau memiliki faktor risiko untuk miom rahim untuk mencari perawatan medis yang tepat guna menjaga kesehatan dan kualitas hidup mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *