Nahas benar nasib Toni Sutrisno. Meski sudah merogoh kocek untuk membeli dua buah jam mewah seharga puluhan miliar

oleh -258 views

Nahas benar nasib Toni Sutrisno. Meski sudah merogoh kocek untuk membeli dua buah jam mewah seharga puluhan miliar, hingga kini, ia belum juga menerima jam pesanannya itu. Padahal, Toni membeli dan melunasi jam bermerek Richard Mille itu sejak 2 tahun lalu.

“Klien kami membeli dua buah jam tersebut pada 2019 dengan harga Rp 70 miliar, namun hingga saat ini barang yang dimaksud tak kunjung datang. Kini, harga jual jamnya sudah melonjak hingga Rp 170 miliar,” ujar Robert Simanjuntak, juru bicara Toni Sutrisno kepada wartawan di Jakarta, Rabu (8/6/2021).

Menurut Robert, PT Royal Mandiri Internusa selaku agen tunggal penjualan jam mewah merek Richard Mille di Indonesia diduga melakukan tindak wanprestasi kepada Toni selaku konsumen. Pasalnya, perusahaan yang tokonya terletak di Mall Plaza Indonesia itu tak kunjung menyerahkan dua buah jam tangan yang telah dibeli secara tunai oleh Toni.

Sejumlah upaya sudah dilakukan oleh pembeli, termasuk datang dan menemui pengelola butik jam keluaran Swiss tersebut. Namun tak satu pun yang memberikan hasil.

Adapun jam Richard Mille yang dibeli Toni terdiri dari dua tipe, yakni RM 56-02 Blue Sapphire Unique Piece dan RM 57-03 wg Black Sapphire Dragon.

Robert pun menjelaskan kronologi pembelian jam itu. Persoalan bermula saat Toni yang menjadi pelanggan sekaligus kolektor jam asal Swiss itu tak kunjung menerima jam yang telah ia beli pada 2019. Padahal, Richard Lee yang saat itu menjadi perwakilan Richard Mille Indonesia telah menerima uang pembelian dan sekaligus menyerahkan seluruh dokumen kelengkapan barang serta bukti terjadinya transaksi tersebut.

Toni kemudian diminta menunggu kedatangan jam yang disebut Richard masih berada di Singapura dan akan diserahkan begitu barang tiba di Indonesia.

“Namun hingga hari ini, barang yang dibeli tersebut tak pernah sampai ke tangan klien kami,” lanjut Robert.

Robert menambahkan, saat ini Richard Lee sudah tidak lagi menjabat sebagai wakil Richard Mille Indonesia. Kedudukannya digantikan oleh Yullie, Finance & Account Manajer PT Royal Mandiri Internusa, pemilik dan pengelola toko penjualan Richard Mille di Indonesia.

“Bulan Mei lalu kami bertemu dengan Yullie dan mempertanyakan solusi masalah ini. Alih-alih menyelesaikan, dia malah menyuruh kami mengambil sendiri barang tersebut ke Singapura, tempat Richard Lee berasal sekaligus pusat penjualan jam Richard Mille Asia. Tawaran itu dianggap tak masuk akal, selain karena pembatasan aktivitas akibat pandemi Covid-19, hak klien kami adalah menerima barang di Jakarta, bukan dengan mengambilnya sendiri ke sana,” jelasnya.

Selain itu, Toni juga pernah ditawarkan penggantian dalam bentuk uang tunai sebesar Rp 70 miliar untuk penyelesaian masalah ini. Namun tawaran itu ditolak karena saat ini, nilai jual kedua jam itu sudah jauh lebih tinggi.

“Saat ini nilai kedua barang tersebut sudah mencapai Rp 170 miliar, karena untuk kedua tipe tersebut sudah ada yang menawar sebesar itu,” papar Robert.

Saat dihubungi lewat saluran telpon selular, Yullie selaku Finance & Account Manajer PT Royal Mandiri Internusa dan perwakilan penjualan jam tersebut di Indonesia menolak berkomentar.

“Saya no comment dan tidak dalam posisi harus menjawab pertanyaan tersebut. Silakan tanya kepada Pak Toni saja,” ujarnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.