Nama mantan juara dunia tinju kelas berat asal Amerika, Leon Spinks, tidak begitu populer.

oleh -417 views

Nama mantan juara dunia tinju kelas berat asal Amerika, Leon Spinks, tidak begitu populer. Nama Michael Spinks, sang adik, justru lebih akrab di kalangan penggemar tinju Indonesia masa sekarang.

Sosok Leon juga kalah tenar dari Larry Holmes, George Foreman, atau Evander Holyfield. Apalagi bila dibandingkan dengan nama beken sang legenda tinju Muhammad Ali atau si leher beton Mike Tyson.

Leon Spinks memang hanya sebentar mendunia, yakni saat secara mengejutkan mengalahkan sang juara dunia tinju kelas berat, Muhammad Ali, pada 1978. Pada pertandingan kedua atau tujuh bulan berselang dari duel pertama, Leon gagal mempertahankan gelar.

Setelah itu karier tinjunya tak lagi berinar dikancah kelas berat hingga meninggal dunia di Nevada, pada usia 67 tahun, Jumat (5/2/2021) malam.

Leon menikmati segala kemewahan seorang juara dunia hanya dalam waktu tujuh bulan. Banyak pihak menyayangkan perubahan gaya hidupnya setelah menyandang sabuk juara sehingga tidak fokus pada pertandingan.

Paul Beston, penulis The Boxing Kings: When American Heavyweights Ruled the Ring, menyebut siapa pun yang tinggal di Amerika pada 1978 dan ada dalam alam sadar, maka ia pasti mengenal Leon Spinks.

Ungkapan Beston itu tentu mengacu pada kemenanggan tak terduga Leon Spinks atas Ali di Las Vegas, Nevada, 15 Februari 1978, yang kemudian melambungkan nama tersebut.

728×90 Leaderbord

Tidak sembarang orang bisa memukuli Muhammad Ali seperti yang dilakukan Spinks di Las Vegas. Hanya dua orang yang telah mencapai prestasi itu sebelumnya, yakni Joe Frazier dan Ken Norton. Lebih banyak petinju lain yang terkenal karena kalah dari Ali.

Kemenangan Spinks monumental. Itu gara-gara ia adalah underdog yang menjadi juara.

Spinks yang kala itu berusia 26 tahun baru akan menjalani pertarungan profesional kedelapannya. Sementara sang lawan adalah Muhmmad Ali yang berusia sepuluh tahun lebih tua darinya.

Sempat dua kali kehilangan gelar, Ali mampu merebutnya kembali. Jelas bahwa Ali lebih berpengalaman karena sudah malang melintang di tinju kelas berat.

Spinks tidak diunggulkan meski Ali saat itu disebut dalam kondisi tidak ideal saat bertanding dan keterampilannya pun telah menguap. Pasar taruhan 10-1 untuk Ali.

Tujuh pertarungan profesional yang sudah dilakoni Spinks nyaris tidak mampu membedakannya dari status amatir ketika ia harus berhadapan dengan petinju kelas berat terhebat. Hampir semua orang yakin bahwa seorang Ali, yang tidak termotivasi dan tidak bugar, bisa kehilangan gelar kelas berat kesayangannya dari seorang pemula.

Sekalipun saat itu Spinks pernah merebut medali emas untuk Amerika di Olimpiade Montreal 1976, mendulang lima emas bersama Michael Spinks dan Sugar Ray Leonard, hanya sedikit orang yang memproyeksikannya sebagai superstar profesional.

Dalam artikel berjudul When Neon Leon Met the Greatest: A Look Back, Forty Years Later, Beston menulis bahwa Ali bersedia bertarung di Las Vegas Hilton dengan sedikit rasa malu karena Spinks tidak berpengalaman.

Ali bersedia karena pertimbangan uang alias bayaran, sekaligus keinginannya untuk menghindari, atau setidaknya menunda, pertandingan lain melawan pesaing teratas Ken Norton.

Pertarungan melawan Spinks dengan bayaran $ 3,5 juta ketika itu cukup bagus.

Dalam kondisi tersebut, tampak bahwa Ali menganggap enteng lawannya. Karena itulah ia meladeni pertarungan dalam kondisinya yang tak benar-benar bugar. Hanya dalam jangka empat minggu sebelum pertarungan, Ali memiliki berat badan 109,7 kg. Ia harus menurunkan berat badan hingga mencapai 101 kg saat pertarungan.

Bob Arum yang menjadi promotor Ali, 43 tahun setelah pertandingan itu, menyatakan bahwa Spinks bukan hanya bukan penantang teratas melainkan seharusnya tidak menjadi penantang sama sekali.

Dari sisi bisnis, pertarungan itu dikabarkan sulit dijual. Stasiun NBC dan ABC tidak akan menawar sehingga CBS yang mengambilnya.

Bahkan disebutkan, CBS menugaskan penyiar non-tinju Brent Musburger, yakni pembawa acara jaringan National Football League (NFL Today). Ini menggambarkan bahwa laga perebutan gelar juara dunia tinju itu dianggap sebelah mata.

Pertandingan akhirnya digelar. Spinks yang tidak berpengalaman tetapi ganas dan penuh tekad, terus menekan Ali dari awal hingga menyelesaikan seluruh ronde yang direncanakan.

Ketika pembawa acara Chuck Hull mengumumkan keputusan juri semua orang mengira Ali telah memenangkan 15 ronde. Hasil penilaian, juri pertama untuk Ali, 143-142. Tapi kemudian Hull membacakan juri berikutnya 145-140 untuk Spinks. Lantas yang terakhir pada angka 144-141. Siapakah yang menang?

Hull berhenti sejenak, lalu berkata, “And the new…” Sisa kata-kata Hull tenggelam.

Di antara gemuruh penonton Leon Spinks diangkat oleh timnya, termasuk saudaranya Michael. Lalu Leon mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan membuka mulutnya yang berlubang, lebar-lebar. Gelar kelas berat dunia WBA dan WBC ada di genggamannya.

Ali menerima kekalahan dengan lapang. Itu adalah kekalahan pertama Ali sejak Ken Norton mengalahkannya pada pertarungan pertama mereka, 1973. Ali kemudian memenangkan 14 pertarungan berturut-turut.

Soal kekalahan dari Spinks, Ali menyatakan ia tidak berlatih dengan benar dan bahwa ia ingin mendapatkan kembali gelar juara. Jika berhasil, ia akan menjadi orang pertama yang memenangkannya tiga kali gelar kembali. Ia pun menabuh genderang untuk pertandingan ulang. “Aku akan kembali!” katanya.

Apa kenangan Leon Spinks mengenai kemenangannya terhadap Ali, yang adalah idolanya? Beston bertemu Spinks pada sebuah makan malam International Boxing Hall of Fame 2004 di Canastota, New York.

Lebih tua dan lebih tebal, sosok lelaki itu masih bisa dikenali sebagai Leon Spinks. Terutama ketika menunjukkan seringai, meski ciri khas gigi depannya yang tanggal sudah tertutup sepenuhnya, tidak seperti mulut yang penuh celah pada 1978.

“Champ,” Beston menyapa Spinks.

“Saya berumur sebelas tahun, sudah lewat waktu tidur saya pada malam Anda memukul Muhammad Ali. Saya melihat setiap ronde pertandingan itu, ” ujar Beston setelah Spinks menoleh ke arahnya.

Spinks menyeringai dan kemudian berkata, “Sheeeeiiiiit.”

“Ketika mereka mengumumkan keputusan (kemenangan Spinks) itu, saya merasa sedikit kasihan pada Ali. Apakah Anda juga merasa kasihan?” tanya Beston kepada Spinks yang mengidolakan Ali.

“Hell, no, man. I beat his ass (Sial, tidak. Aku memukul pantatnya)!” jawab Spinks mengenai kemenangannya.

Beston dalam tulisannya menyebut sosok Spinks seperti ungkapan dalam sebuah film Barfly, karya Barbet Schroeder. Film itu bercerita tentang kehidupan dan masa Charles Bukowski, yang dikenal dalam film sebagai Henry “Hank” Chinaski.

Mickey Rourke memainkan karakter Henry “Hank” Chinaski. Dalam sebuah adegan, Chinaski baru saja dipukuli pacarnya yang sesama pecandu alkohol, Wanda (Faye Dunaway). Seseorang mengetuk pintu. Chinaski membuka pintu, wajahnya terlihat seperti tenderloin atau daging dalam sajian steak.

Pria yang mengetuk pintu tadi bertanya, “Apakah Anda Henry Chinaski?”
“Tidak,” jawab Chinaski, “Saya Leon Spinks!”

Sembilan tahun setelah Spinks bertarung melawan Muhammad Ali, semua orang tahu apa arti kata “Leon Spinks” seperti terucap dalam adegan film tersebut. Yang mereka maksud adalah kehancuran.

Segera setelah mengalahkan Ali, Spinks mulai menjadi topik berita utama tabloid antara lain Spinks tertangkap basah bersama pelacur, Spinks mengemudi dengan cara yang salah di jalan satu arah, Spinks mabuk dan terlibat perkelahian di bar, Kokain ditemukan di topi koboi Spinks. Itu terjadi satu demi satu selama tujuh bulan berikutnya.

Berkekurangan
Leon dan adik laki-lakinya Michael -juara dunia pada 1985- tumbuh dalam kondisi ekonomi berkekurangan di St Louis, Missouri.

Dengan sumber daya keuangan yang terbatas dan tidak banyak yang bisa dilakukan, kedua anak laki-laki itu terjun ke dunia tinju sejak muda.

Seperti kebanyakan alasan pemuda di daerah miskin, tinju menjadi pilihan karena mereka memandang sebagai cara untuk melindungi diri mereka sendiri. Selain itu, olahraga tinju menawarkan jalan keluar dari kemiskinan.

Keduanya dibesarkan di kawasan permukiman Pruitt-Igoe di St.Louis, yang pada 1960-an menjadi mimpi buruk kekerasan perkotaan, narkoba yang semakin dikuasai oleh geng, sementara aparat kepolisian tidak bertindak tegas.

Enam tahun sebelum Leon mengalahkan Ali, bangunan pertama Pruitt-Igoe telah dihancurkan. Menemukan dunia tinju di DeSoto Rec Center dekat kawasan itu mengubah hidup Leon dan Michael. Tetapi kedua bersaudara itu adalah pria yang berbeda.

Michael, rendah hati dan berakal sehat sedangkan Leon dikenal flamboyan dan kebanyakan tidak masuk akal. Salah satu hal yang tak masuk akal adalah sebagai seorang penantang juara dunia justru berpesta sepanjang malam sebelum berjuang untuk pertandingan kelas berat. Untung Leon menang.

“Leon mewakili tipe orang kulit hitam yang tidak sopan dari ghetto,” kata penulis esai Gerald Early. Leon tidak mungkin menjadi apa yang diinginkan Amerika kulit putih ketika menjadi juara kelas berat, bahkan jika mereka ingin Ali dikalahkan.

Tetapi orang kulit hitam Amerika juga tidak menginginkan Leon ketika ia mengatakan hal-hal seperti, “Saya hanya seorang negro ghetto,” orang-orang tertawa, tetapi banyak orang kulit hitam meringis.

Leon disebut sebagai konsumen omnivora minuman keras, obat-obatan, dan wanita, dia berpakaian seperti germo, dan dia tampak asing bagi akal sehat.

Dia adalah “stereotip yang paling ditakuti oleh banyak atlet kulit hitam yang berpendidikan dan lebih sadar diri” menurut Douglas Hartmann, penulis Race, Culture and the Revolt of the Black Athlete.

Meski demikian Leon Spinks tetap saja juara kelas berat, penakluk Ali, dan pertarungan Spinks-Ali jilid II adalah pertarungan yang dinantikan dunia.

Pertandingan itu sepakat ditandatangani digelar 15 September 1978, di New Orleans. Spinks kehilangan gelar WBC karena menolak untuk menjalani pertarungan wajib melawan Ken Norton. Ia memilih menjalani pertarungan ulang melawan Ali untuk mempertahankan mahkota WBA.

Berbeda dari laga pertama, pada duel kali ini NBC, ABC, dan CBS berlomba menawari, hingga ABC yang memenangkannya.

New Orleans telah menyelenggarakan dua pertarungan gelar kelas berat sebelumnya. Pada 1972, Joe Frazier mengalahkan penantang yang tak tertandingi, Terry Daniels. Pada 7 September 1892, John L Sullivan kehilangan gelarnya di Klub Olimpiade New Orleans ke tangan Jim Corbett.

Ali sendiri tidak pernah bertarung di New Orleans.

New Orleans, dengan kehidupan malam ekstra terestrial menjadi tempat terburuk bagi Spinks, yang saat itu kecenderungan pestanya tidak menunjukkan tanda-tanda berkurang. Setiap malam, dalam dua minggu sebelum pertarungan, Leon pergi ke tempat nongkrong paling berbahaya di kota itu.

Orang-orangnya sering kehilangan jejaknya, dan dengan panik meminta bantuan polisi untuk menemukan Spinks.

Promotor Bob Arum memberikan kesaksiannya Sabtu (6/2/2021). Arum yakin Leon Spinks kehilangan fokus. Mungkin karena ia terlalu lama merayakan kemenangan pertamanya dan berlebihan setelah menjadi juara.

Spinks berpose di bak mandi dengan segelas sampanye sambil mengisap cerutu. Sebagai sosok yang baru meraih gelar, tiba-tiba Spinks punya rombongan sebesar Ali yang sudah berkali-kali mempertahankan gelar.

“Kami semua menginap di hotel yang sama di New Orleans untuk pertandingan ulang dan suatu pagi saya turun untuk sarapan sementara Leon naik lift dan pingsan di lantai. Jelas dia keluar minum-minum,” kata Arum.

Di sisi lain, Ali justru berlatih dengan tekad kuat untuk menang. Dia mulai berlatih keras enam bulan sebelumnya di kamp pelatihan miliknya di Deer Lake, Pennsylvania.

Saat tiba di New Orleans, Ali menyewa rumah di dekat Danau Pontchartrain untuk melakukan persiapan terakhirnya. Ali dalam kondisi bugar. Berat badannya 100 kg, lebih ringan ketimbang saat ia kehilangan gelar.

Spinks, yang beratnya 91 kg, berpesta setiap malam dan bertengkar dengan Michael, yang melihat kakak laki-lakinya menuju kejatuhan. Kubu Spinks berantakan.

Palatih George Benton telah diasingkan oleh kepala pelatih Spinks, Sam Solomon. Namun ajudannya meminta Benton kembali saat pertarungan semakin dekat.

Benton berusaha membuat Leon fokus. Namun ia dibuat terperangah ketika Solomon menyatakan ia bisa memberikan instruksi kepada Spinks pada pergantian ronde. Sementara yang lainnya pun ingin menasihati Leon juga.

Laga yang ditunggu pun akhirnya terwujud. Tercatat secara resmi sebanyak 63.000 orang yang ingin menyaksikan adu pukul di ring. Bayaran kedua petinju kala itu sekitar $ 6 juta, memecahkan rekor yang ada sejak 1927 ketika Jack Dempsey dan Gene Tunney bertarung.

Sekitar 90 juta orang, di delapan puluh negara, menonton. Di sisi ring duduk nama-nama terkenal seperti Lillian Carter ibunda Presiden AS Jimmy Carter di mana sang anak sedang menonton pertarungan di Camp David dengan Anwar Sadat, lalu ada Frank Sinatra, Liza Minelli, John Travolta, Johnny Cash, Kris Kristofferson, dan Sylvester Stallone.

Sang promotor pertandingan, Bob Arum, telah meminta Gubernur Louisiana Edwin Edwards untuk memanggil Garda Nasional demi keamanan.

Dalam laga itu, Spinks bisa mengatasi Ali pada ronde-ronde awal. Disebutkan, meski kaki Ali masih lincah, pukulannya kurang memiliki kekuatan dan akurasi. Sementara Spinks berhasil membuat Ali kewalahan dan pada ronde keempat Ali kehilangan keseimbangan.

Ali yang bertekad menang segera pulih dan mulai menemukan jangkauannya. Sebaliknya, Spinks tidak punya jawaban, terutama sejak ronde kelima.

Juara muda itu tidak mendapat bantuan dari sudut ring yang penuh dengan penasihat yang meneriakkan instruksi, termasuk akuntan Spinks. Benton muak. “Rasanya seperti melihat bayi Anda tenggelam,” katanya.

Setelah kehilangan gelar, Spinks tak pernah mendapat kesempatan melawan kembali Ali.

Usaha Spinks untuk merebut gelar juara pada 1981 kandas di tangan Larry Holmes. Ia pensiun dari dunia tinju pada 1995 dengan 26 kemenangan, 17 kalah, dan tiga kali seri.

Leon Spinks, penakluk petinju legendaris Muhammad Ali meninggal dunia di usia 67 tahun, Jumat (5/2/2021) malam setelah lama bertarung melawan kanker prostat dan penyakit yang lain.