Nenek Nahel, remaja yang ditembak mati oleh polisi, memohon agar kerusuhan Pranvis dihentikan setelah lima malam terjadi gejolak.

Nenek Nahel, remaja yang ditembak mati oleh polisi, memohon agar kerusuhan Pranvis dihentikan setelah lima malam terjadi gejolak.

INTERNATIONAL466 Dilihat

Nenek Nahel, remaja yang ditembak mati oleh polisi, memohon agar kerusuhan Pranvis dihentikan setelah lima malam terjadi gejolak. Dalam wawancara dengan BFM TV Prancis, nenek Nahel bernama Nadia meminta masyarakat tidak merusak jendela, bus, dan sekolah.

Dikutip dari Associated Press Senin (3/7/2023), Nadia menyatakan kemarahannya terhadap petugas yang membunuh cucunya, namun tidak terhadap polisi secara umum. Dia mempertahankan keyakinannya pada sistem peradilan di tengah kerusuhan sosial yang melanda Prancis.

Nahel, yang identitas lengkapnya belum diungkapkan, telah dimakamkan pada hari Sabtu (1/1/2023).

Meskipun saat ini telah terjadi penurunan kekerasan, Menteri Dalam Negeri Gerald Darmanin mengumumkan tetap akan mengerahkan 45.000 petugas polisi untuk menghadapi kemarahan terkait diskriminasi terhadap warga yang berasal dari bekas jajahan Prancis dan tinggal di daerah berpenghasilan rendah. Nahel adalah warga keturunan Aljazair dan ditembak di Nanterre, pinggiran Paris.

Video pembunuhan Nahel yang beredar di media sosial menampilkan dua petugas polisi menghentikan mobil dan salah satunya memegang pistol yang diarahkan ke pengemudi. Ketika remaja tersebut memajukan mobilnya, petugas menembak melalui kaca depan. Petugas yang diduga sebagai pelaku pembunuhan Nahel dikenai tuduhan awal pembunuhan spontan.

Tahun lalu, sebanyak 13 orang yang tidak mengikuti perintah berhenti ditembak mati oleh polisi Prancis. Insiden-insiden serupa dalam tiga tahun terakhir telah memicu tuntutan untuk lebih banyak pertanggungjawaban aparat keamanan.

Ibunda dari Nahel (17), remaja yang ditembak mati polisi Prancis, di atas truk selama pawai untuk Nahel, Kamis, 29 Juni 2023 di Nanterre, di luar Paris. Pembunuhan terhadap Nahel memicu kerusuhan di seluruh Prancis. Nahel dimakamkan Sabtu, 1 Juli 2023.

Surat kabar Le Monde dalam pernyataan redaksi menyatakan, “Kematian Nahel M pertama-tama mencerminkan aturan dan praktik penggunaan senjata oleh petugas polisi selama pemeriksaan di pinggir jalan, dan lebih luas lagi, hubungan yang cacat antara polisi dan generasi muda dari lingkungan kelas pekerja”.

Sementara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengadakan pertemuan keamanan khusus pada Minggu malam. Macron berencana untuk bertemu dengan dua kepala majelis parlemen serta wali kota dari 220 kota yang terkena dampak protes penembakan Nahel. Macron juga akan melakukan evaluasi jangka panjang yang mendalam mengenai penyebab kerusuhan tersebut.

Untuk menunjukkan seriusnya kerusuhan ini, Macron memutuskan untuk menunda kunjungan kenegaraan pertamanya ke Jerman dalam 23 tahun, yang seharusnya dimulai pada Minggu malam.

Kementerian Dalam Negeri melaporkan bahwa pada hari Minggu terjadi 78 penangkapan di seluruh Prancis. Sejauh ini, sudah lebih dari 3.000 orang ditahan sebagai hasil dari pengerahan keamanan massal.

Ratusan polisi dan petugas pemadam kebakaran dilaporkan nterluka dalam kerusuhan tersebut, namun jumlah pengunjuk rasa yang terluka belum diumumkan.

Pihak berwenang di Prancis juga terkejut setelah sebuah mobil yang terbakar menabrak rumah Wali Kota di L’Hay-les-Roses, Vincent Jeanburn, di pinggiran Paris. Dalam insiden itu, istri dan anak Jeanburn terluka.

Beberapa kantor polisi dan balai kota juga menjadi sasaran amuk massa berupa pembakaran atau vandalisme. Aksi penjarahan di sejumlah toko barang-barang mewah juga terjadi di sejumlah kota.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *