Pandemi Covid-19 beserta pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala besar (PSBB) membuat banyak pertunjukan seni ditunda bahkan dibatalkan

oleh -38 views

https://slink.bigovideo.tv/EwfnLI

 

 

 

 

 

 

728×90 Leaderbord

 

 

Pandemi Covid-19 beserta pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala besar (PSBB) membuat banyak pertunjukan seni ditunda bahkan dibatalkan. Keadaan yang berlangsung relatif cukup lama ini mengakibatkan hilangnya panggung ruang kreasi bagi para pekerja seni.

Menurut Produser eksekutif #MusikaldiRumahAja Bayu Pontiagust dalam media gathering yang digelar secara virtual melalui aplikasi zoom pada Rabu (5/8/2020), kondisi pandemi tanpa disadari membuat banyak hal yang ditakutkan selama ini menjadi kenyataan. Disisi lain ungkap Bayu masyarakat dapat belajar untuk beradaptasi dengan situasi baru tersebut. Menerima segala kekurangan sehingga bisa mengasah kembali kelebihan yang dimiliki.

“Musikal ini menjadi salah satu wadah bagi para pekerja seni untuk tetap berkarya meski dibatasi ruang dan pertemuan fisik. Namun hal ini justru mendorong kreativitas para pekerja seni dan menghasilkan sebuah karya yang luar biasa,” papar Bayu.

Hal senada juga diungkapkan oleh Mhyajo selaku sutradara dongeng Timun Mas. Menurut sutradara yang sangat dikenal total dalam berkarya proses latihan yang dilakukan secara online tentu bukan tanpa kendala.

“Entah kenapa ketika saya mendapatkan tawaran dari Mas Bayu selaku produser eksekutif, saya langsung bersemangat. Hal itu ditandai dengan karya musikal tentang dongeng Indonesia dengan kemasan yang sangat baik,” ungkap Mhyajo.

Mhyajo bahkan mengaku sangat seru dimana sebagai orang yang menggeluti seni panggung, dongeng Timun Mas secara virtual membuatnya menemukan keseruan dan merasakan adrenalin ketika berada dipanggung.

Hal inilah yang kemudian mendorong Indonesiakaya.com untuk menyajikan ruang kreasi virtual bagi para pekerja seni untuk menampilkan karyanya. Bekerja sama dengan Boow Live, Indonesiakaya.com mempersembahkan pertunjukan #MusikaldiRumahAja yang ditampilkan dalam format online.

Selain #MusikaldiRumahAja, selama masa pandemi Covid-19, Indonesiakaya.com telah menggelar berbagai kegiatan seni bertema #DiRumahAja seperti nonton teater di rumah aja, puisi di rumah aja, prosa di rumah aja, workshop online di rumah aja hingga birthday konser di rumah aja.

Dalam media gathering secara virtual melalui aplikasi Zoom dengan sutradara, produser eksekutif serta para pemain dalam dongeng Timun Mas ada kisah tersendiri.

Dongeng negeri sendiri ini diadaptasi dalam balutan fantasi distopia yang sangat kental terlihat juga dalam visualnya yang sangat apik. Hingga berita ini dibuat viewer-nya mencapai lebih dari 188 ribu. Sebuah pencapaian yang sangat baik untuk ‘golongan’ tontonan dengan kemasan non-mainstream seperti ini: genre fantasi dystopia, format vertikal dan semua pemeran tidak lepas dari tempat duduk putih.

Timun Mas berkisah tentang Timun Mas yang lahir dari buah timun berwarna emas dan diasuh oleh seorang wanita bernama Mbok Srini. Namun sebenarnya ada perjanjian di balik itu. Konflik pun terjadi Ketika Mbok Srini tidak mematuhi kesepakatannya dengan raksasa sang pembuat sistem.

Tidak kalah seru sebenarnya adalah proses dibalik pembuatan Timun Mas ini. Pertama, proses shooting yang dilakukan dengan tetap mempertimbangkan PSBB. Hampir semua pemeran tidak bertemu satu sama lain.

Kedua, proses latihan yang dilakukan secara online tentu bukan tanpa kendala. Apalagi dengan pendekatan Mhyajo yang memang dikenal sangat total dalam berkarya. Bahkan Karina Salim, pemeran Timun Mas Besar 4371, mengakui bahwa proses latihan, terutama acting workshop merupakan satu fase yang berat.

Begitu juga dengan Tanayu pemeran Ratu Peri Hutan yang menyatakan bahwa seluruh proses Timun Mas ini adalah seperti sebuah langkah spiritual.

Namun dari proses yang penuh adaptasi ini justru lahir benih-benih cinta: cinta terhadap satu sama lain, cinta terhadap seni. Bagaimana Mhyajo dan Bona Palma, sang sutradara film, saling jatuh cinta dengan proyek ini.