Pandemi Covid-19, Pemakaian Air Masyarakat Naik Tiga Kali Lipat

oleh -210 views

 

Kementerian PUPR Jakarta 11 Februari 2021 – Pandemi Covid-19 berdampak pada perubahan pola pemakaian air masyarakat berubah hingga lebih boros. Demikian hasil Studi Indonesia Water Institute (IWI) terkait Pola Konsumsi Air Bersih Masyarakat di Masa Pandemi Covid-19 yang disampaikan Pendiri dan Pimpinan Indonesia Water Institute (IWI) Firdaus Ali, PH.D dalam Webinar “Pola Konsumsi Air Masyarakat Selama Pandemi Covid-19” sekaligus peresmian logo baru di Auditorium Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kamis (11/2/2021).

Firdaus mengatakan hasil studi terhadap aktivitas mencuci tangan masyarakat di masa Pandemi Covid-19 ini lebih dari 5 sampai 10 kali per orang per hari hingga persentasenya sampai di angka 58%. Bahkan ada yang mencuci tangan lebih dari 10 kali sehari dengan persentase hampir 82%. Termasuk kebutuhan air untuk aktivitas mandi pun meningkat. Kegiatan mandi per orang yang semula dua kali di masa pandemi bisa lebih dari tiga kali sampai enam kali per orang. Karena yang terbangun itu ketakutan.

“Ïni mengejutkan kami sendiri. Memang ada masyarakat yang cuci tangan setiap jam sekali karena ketakutan,”ujar Firdaus Ali.

Firdaus mengungkapkan pihaknya merasa beruntung karena pernah melakukan penelitian tingkat konsumsi air bersih di masyarakat pada Tahun 2013 yang bisa dibandingkan di tahun 2020 ini di masa pandemi.

Hasil penelitian awal yang dilakukan IWI pada bulan Oktober-November 2020 ini menunjukkan adanya perubahan pola konsumsi air masyarakat di masa pandemi ini bahkan meningkat tiga kali lipat. Misalnya kebutuhan air untuk mencuci tangan bertambah 50 liter per hari bagi keluarga dengan lima anggota keluarga jika diasumsikan cuci tangan lebih dari lima kali dalam sehari. Ini hanya untuk mencuci tangan sesuai anjuran WHO selama 20 detik untuk mencegah terpapar Covid-19.

“Hampir sebagian dari mereka paranoid, dan ketakutan sehingga mencuci tangan lebih dari lima kali sehari,”ujar Firdaus Ali, PH.D.

728×90 Leaderbord

Dalam paparannya, Firdaus yang menjabat Staf Khusus Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat ini membandingkan data kebutuhan air hasil penelitiannya di tahun 2013 dengan studi awal ini yang menunjukkan peningkatan tiga kali lipat.

Misalnya, ia mencontohkan untuk mandi hanya membutuhkan 50 sampai 70 liter per orang per hari bertambah menjadi 150-210 liter per orang perhari di masa pandemi. Pola peningkatan yang sama pun dialami guna memenuhi kebutuhan mencuci tangan yang biasanya hanya 4-5 liter per orang per hari naik drastis menjadi 20-25 liter per orang per hari di masa pandemi.

Soal penelitian terbarunya ini, Firdaus memaparkan responden yang terlibat sebanyak 1.296 tersebar di seluruh Indonesia. Ia melanjutkan studi ini melakukan kajian dengan menelaah kebiasaan konsumsi air bersih masyarakat berdasarkan aktivitas dan penggunaan sumber air yang mereka miliki. Sebanyak 52% dari responden mendapatkan kebutuhan air perpipaan dan sisanya menggunakan sumber air dari alternatif lain.

“Ini menjadi masukan bagi pemerintah untuk mengatasi kebutuhan air bersih buat masyarakat,”ujarnya.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono mengapresiasi Indonesia Water Institue (IWI) yang telah melakukan studi tentang Pola Konsumsi Air Bersih bagi Masyarakat di Masa Pandemi Covid-19. Hasil studi ini akan menjadi masukan dalam rangka menentukan kebijakan dan juga Menyusun program prioritas penyediaan air bersih di Indonesia.

“Ini satu-satunya di Indonesia, ada hasil studi dan berani memberikan hasil study pada bulan Oktober dan November 2020 ini. Meskipun baru tahap awal,”ujar Basuki Hadimuljono sekaligus meresmikan logo baru IWI.

Pada sambutannya, Menteri Basuki memaparkan tiga hal permasalahan air di Indonesia. Yakni persoalan air baku yang secara hidrologis air itu tetap. Basuki mengutip ayat Quran yang artinya Kuturunkan air dalam jumlah tetap. Sehingga jika terjadi kekurangan atau berlebih, kata Menteri Basuki itu akibat manajemen kurang baik.

Kedua permasalahan non revenue water dan tentang tarif. Untuk masalah terakhir ini, Basuki membenarkan kalau air ini bukan sepenuhnya barang ekonomi, tapi mempunyai nilai sosial. Namun, kata dia perlu diingat mengaliri air bersih hingga ke rumah itu membutuhkan biaya yang harus dihitung.

“Makanya ke depan berharap IWI menjadi partner PUPR dalam berdiskusi. Karena dengan diskusi melibatkan para pakar, kebijakan yang dibuat menjadi research policy, bukan murni politik,”ujarnya.

Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas IR Josaphat Rizal Primana, MSc mengatakan penggunaan air di tingkat masyarakat ternyata masih lebih besar dari masyarakat negara maju, yakni 157 liter per orang per hari. Jauh leboh boros dari angka WHO yang menyebutkan 50 sampai 100 liter per orang per hari.

Hal tersebut menjadi PR bagaimana memberikan pemahaman agar bisa menghemat air dalam penggunaan sehari-hari di tengah Covid-19. Akan tetapi, lanjut Rizal yang paling penting itu adalah mempertebal niat dengan landasan tiga hal. Yakni Leadership (Kepemimpinan), Fokus dan Konsistensi Komitmen. “Leadership di setiap sektor harus kuat untuk membangun niat berjalan,”ujar IR Josaphat Rizal Primana. (*)