Pemblokiran konten berita di Australia oleh Facebook telah menimbulkan kekhawatiran penyebaran misinformasi di media sosial

oleh -411 views

Pemblokiran konten berita di Australia oleh Facebook telah menimbulkan kekhawatiran penyebaran misinformasi di media sosial semakin marak. Berita palsu dan teori konspirasi tidak ditangani, sementara sumber yang dapat dipercaya telah terputus.

Mulai Kamis (18/2/2021), warga Australia tidak dapat mengunggah tautan ke artikel berita atau melihat halaman Facebook outlet berita lokal maupun internasional, sedangkan media berita Australia menghilang dari situs tersebut di seluruh dunia.

Keputusan Facebook menghapus konten berita dari platformnya dipicu kebijakan Pemerintah Australia yang memaksa Facebook dan Google membayar untuk berita yang ditampilkan di platform mereka.

Beberapa lembaga pemerintah yang ditugaskan untuk menyampaikan berita darurat terkait Covid-19, kebakaran hutan, banjir, dan petunjuk topan awalnya terdampak pemblokiran. Namun kemudian Facebook mulai kembali menampilkan berita Australia.

Bermacam-macam Facebook page lainnya juga dibuat kosong, termasuk akun badan amal kanker dan tunawisma, bisnis-bisnis besar, bahkan akun satir populer.

Tetapi serangkaian halaman milik pemasok berita palsu dan teori konspirasi tidak terpengaruh oleh pemblokiran, meskipun mereka sering mengunggah hoax. Di antaranya adalah beberapa halaman yang diidentifikasi oleh tim pemeriksa fakta AFP pernah membagikan berita palsu kepada puluhan ribu pengguna.

Aliansi Media, Hiburan, dan Seni (MEAA) mengatakan mereka adalah kelompok jurnalis profesional yang bertugas mengecek misinformasi. Namun, pekerjaan mereka ikut terdampak pemblokiran.

728×90 Leaderbord

“Dengan membatasi berita independen yang diproduksi secara profesional di Australia, Facebook mengizinkan teori konspirasi, informasi yang salah, berita palsu, dan (penyebar teori konspirasi) menyebar di platform miliknya,” kata perwakilan MEAA Marcus Strom, Kamis (18/2/2021).

“Tindakan tidak bertanggung jawab oleh Facebook ini akan mendorong penyebaran berita palsu, yang berbahaya selama pandemi Covid-19, dan merupakan pengkhianatan terhadap para pengguna di Australia,” lanjutnya.

Seorang juru bicara Facebook menegaskan komitmen perusahaan untuk memerangi informasi yang salah di media sosial tersebut belum berubah.

“Kami mengarahkan orang-orang ke informasi kesehatan yang berwenang dan memberi tahu mereka tentang pembaruan melalui Pusat Informasi Covid-19 kami,” kata jubir Facebook. Facebook juga memiliki kemitraan untuk pengecekan fakta.

AFP adalah salah satu organisasi yang saat ini bekerja dengan program pengecekan fakta Facebook. Facebook membayar untuk menggunakan pemeriksaan fakta dari sekitar 60 organisasi semacam, termasuk outlet media dan pemeriksa fakta khusus.

Pemblokiran Facebook terjadi hanya beberapa hari sebelum peluncuran vaksin yang direncanakan Australia. Hal ini dikhawatirkan meningkatkan suara kelompok antivaksin yang dapat mengganggu program vaksinaasi.

“Saya akan mengatakan lagi ke Facebook, pikirkan lagi. Anda mungkin melakukannya demi uang, tetapi kita semua di sini untuk keselamatan, perlindungan, dan tanggung jawab,” kata Menteri Kesehatan Australia Greg Hunt.

“Ini adalah saat untuk kembali ke asal. Di mana Anda seharusnya, sebagai sebuah perusahaan, fokus pada komunitas, keterlibatan, bukan atas uang,” imbuhnya.

Facebook mengatakan telah menghasilkan pendapatan ratusan juta dolar untuk organisasi media Australia melalui jumlah klik.

Kritikus juga mengecam lambatnya Facebook dalam menghapus platform kekerasan, ujaran kebencian, dan informasi yang salah.

“Orang-orang bertanya-tanya mengapa ini tidak terjadi dengan kelompok-kelompok pembenci tertentu di bagian lain dunia, mengapa tidak ada upaya untuk menghapus konten itu sekaligus?” ungkap Lucie Krahulcova dari Digital Rights Watch kepada AFP.

“Karena saya pikir Facebook benar-benar tertinggal dan lengah dan akibatnya banyak gerakan sosial gagal,” ia menambahkan.