Pengalaman bertemu dengan pemain bintang NBA merupakan hal yang sangat mahal bagi para fan basket di tanah air

oleh -319 views

Pengalaman bertemu dengan pemain bintang NBA merupakan hal yang sangat mahal bagi para fan basket di tanah air. Apalagi jika mendapatkan kesempatan untuk bisa bekerja sekaligus bertatap muka langsung dengan para pemain mega bintang tersebut.

Sebelumnya ada nama Thomas Teddy Kurniadi, eks pemain Kobatama dari tim Panasia Hadtex Bandung, yang dulu pernah bekerja di salah satu tim NBA yakni LA Clippers.

Kini pengalaman langka dialami putra Indonesia lainnya yang bernama Arief Ramadhani atau yang akrab disapa dengan panggilan kesehariannya Danny Duck. Ia pun pernah mendapatkan kesempatan bertemu langsung dengan bintang bola basket NBA asal Tiongkok yang pernah memperkuat klub Houston Rockets di era tahun 2002- 2010, Yao Ming.

Teristimewa lagi, Danny pun bisa menjadi volunteer sebagai salah satu staf pelatih di Yao Ming Foundation, organisasi non profit yang didirikan Yao Ming ditahun 2008 yang bertujuan mulia untuk membangun Tiongkok lewat pengenalan olahraga bola basket usia dini diseluruh Provinsi negara tersebut.

Kesempatan itu bermula saat Danny bekerja sebagai konsultan Business Management Boeing di kota Shanghai, Tiongkok, pada tahun 2011 silam, yang akhirnya kelak membawanya bertemu dengan Yao Ming salah satu pemain basket idolanya.

“Saya suka basket sejak masih SMP dan pernah ikut klub basket lokal di Jakarta pada era tahun 80-an, mulai dari berlatih di klub Lions, Merah Putih, Scorpio Jakarta dan terus bermain basket sampai saya bekerja melanglang buana di dunia penerbangan baik di Indonesia maupun di luar negeri. Singkatnya, saat saya di Shanghai, salah satu rekan kerja lokal yang juga suka bermain basket bersama saya, memberikan info kepada saya untuk menjadi volunteer pelatih basket di Yao Ming Foundation, tutur Danny.

Lewat bantuan teman, Danny kemudian melamar menjadi salah satu volunteer pelatih Yao Ming Foundation di district Shanghai dan berhasil lulus tes menjadi staf pelatih di sana.

 

“Mungkin yang membuat saya senang dan berkesan, saya adalah orang Indonesia pertama yang dipercaya dan ditunjuk langsung oleh Yao Ming Saya sebagai ‘Youth Development Program Manager’ selama hampir 3 tahun lamanya (2013-2016), sebelum akhirnya saya kembali lagi ke Indonesia di tahun 2016,” ujar Danny Duck yang juga aktif sebagai Sekjen di Komunitas Manusia Basket Indonesia (MBI).

Pria yang kini berusia 52 tahun itu pun menjelaskan lebih lanjut mengenai program Yao Ming Foundation yang merupakan gagasan Yao Ming langsung untuk mengenalkan olahraga basket di negerinya khususnya untuk pengenalan basket usia dini yang berjenjang mulai dari umur 8-16 tahun.

“Di negeri asalnya Yao Ming sangat dihormati dan menjadi salah satu pahlawan olahraga Tiongkok yang sangat dikagumi mulai dari anak-anak sampai dengan orang dewasa. Yao Ming Foundation ada diseluruh provinsi Tiongkok, saya melatih di district Shanghai setiap Sabtu Minggu (2 kali selama 1 bulan) dengan modul kepelatihan yang telah disusun oleh tim kepelatihan Yao Ming. Tidak ada latihan game, yang ada hanya latihan dasar, mulai dari passing, dribling, shooting dan fisik. Saya ditunjuk untuk melatih kelompok umur 12-16 putra putri, walau sesekali juga bersama staf pelatih lainnya melatih anak-anak usia dibawah 10 tahun,” lanjutnya.

Kenangan menjadi pelatih di Yao Ming Foundation sangat membekas dalam dirinya. Mulai dari persoalan bahasa, jarak tempat latihan yang lumayan jauh yang ia harus tempuh, (4 kali transit Subway), termasuk juga harus berkorban membagi waktu luang dengan keluarganya. Meski begitu ia menjalaninya dengan senang. Baginya bisa berbagi ilmu dengan melatih anak-anak muda Tiongkok sama halnya seperti ibadah, ditambah ia pun bisa bertemu langsung dengan Yao Ming menjadi salah satu kepuasan yang tidak terbayarkan.

“Tahun 2013 seluruh staff pelatih Yao Ming Foundation diseluruh provinsi China, diundang langsung oleh Yao Ming dalam acara Charity Fair di Kota Shanghai. Saya juga bisa mendapatkan ilmu darinya. Yang mengesankan bagi saya sosoknya sangat ramah dan juga menghargai setiap pelatih yang ikut andil di yayasannya. Selain itu, murid-murid di Yao Ming Foundation attitude-nya sangat baik, disiplin dan menghargai setiap pelatihnya,” ujar Danny.

Walaupun Yao Ming Foundation merupakan CSR non profit, tetapi keseriusan manajemennya patut diacungi jempol. Para murid mendapatkan rapot dan jika ada kekurangan dalam catatan para pelatih, mereka harus memperbaikinya.

Sejak kembali dari Tiongkok tahun 2016, ia berharap setidaknya bisa berbagi pengalaman kepada pelatih muda dan insan komunitas basket tanah air, terutama dalam hal pengembangan basket usia muda.

“Adanya DBL, Junior NBA, academy basket yang sekarang banyak bermunculan sebenarnya sudah sangat bagus untuk mengembangkan potensi basket usia muda di Indonesia. Tetapi perlu juga didukung dengan pemerataan program kepelatihan untuk para pelatih muda dan wasit di daerah-daerah. Indonesia sebenarnya punya potensi yang sangat besar di basket Asia, tapi penekanannya harus dititikberatkan pada basket usia dini yang harus ditangani secara serius. Asal pemerintah memberi perhatian dan dukungan serius kepada olahraga pembinaan usia dini diseluruh Indonesia (khususnya cabang basket), niscaya akan lahir talenta-talenta seperti Yao Ming dari Indonesia, sama halnya yang dilakukan Yao Ming dengan CSR basketnya,” pungkas Danny Duck.

No More Posts Available.

No more pages to load.