penggunaan obat kuat ini dapat berhubungan dengan masalah pada pembuluh darah dan tekanan darah

penggunaan obat kuat ini dapat berhubungan dengan masalah pada pembuluh darah dan tekanan darah

Tips151 Dilihat

Ketua Cluster Uronephrology RSCM Kencana, dr Widi Atmoko, SpU(K), FECMS, FICS, mengungkapkan bahwa penggunaan obat kuat tidak memiliki korelasi langsung dengan risiko terkena kanker prostat pada pria. Namun, penggunaan obat kuat ini dapat berhubungan dengan masalah pada pembuluh darah dan tekanan darah.

Oleh karena itu, dr Widi menyarankan pria yang mengalami gangguan ereksi dan berencana menggunakan obat kuat, untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan seorang dokter.

“Pemberian obat kuat harus melalui pertemuan dengan dokter, sehingga tidak dapat dibeli secara langsung di apotek tanpa resep medis,” ujarnya kepada media Jumat (22/9/2023).

Dijelaskan lebih lanjut, kanker prostat adalah jenis kanker yang tumbuh di dalam kelenjar prostat pada pria, yang memiliki peran dalam pembentukan cairan ejakulasi dan biasanya menunjukkan gejala kesulitan buang air kecil. Pada tahap awal, kanker prostat sering kali tidak menunjukkan gejala yang khas. Namun, gejala seperti nyeri tulang, fraktur patologis (patah tulang akibat penyakit), atau penekanan pada sumsum tulang dapat meningkatkan kecurigaan terhadap kanker prostat.

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko kanker prostat meliputi usia yang semakin tua, karena biasanya penyakit ini lebih sering didiagnosis setelah usia 50 tahun, riwayat keluarga, serta kondisi obesitas. Selain itu, diet dan gaya hidup juga memainkan peran penting dalam meningkatkan risiko ini, terutama diet tinggi lemak jenuh.

Dokter Widi memungkinkan pria dewasa muda untuk mengonsumsi obat kuat yang tersedia di pasaran, asalkan mereka mengikuti dosis yang direkomendasikan dan membelinya dari apotek resmi.

“Penelitian telah mengungkapkan bahwa banyak obat kuat palsu beredar di pasaran. Jadi membutuhkan kehati-hatian dalam membelinya,” ujarnya.

Dia juga menekankan pentingnya konsultasi dengan dokter dalam kasus gangguan ereksi. Dia menyebut contoh pasien berusia 30 tahunan dengan riwayat merokok berat dan obesitas yang mengalami gangguan ereksi. Menurutnya, pendekatan pengobatan melibatkan pemberian obat kuat seiring dengan evaluasi masalah kesehatan lain yang mungkin dihadapi pasien, seperti hipertensi, diabetes, dan obesitas.

Disfungsi ereksi merupakan salah satu gangguan seksual pada pria yang dapat menghambat individu untuk mencapai aktivitas seksual yang memuaskan. “Merujuk kepada data di RSCM yang menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga pria usia 20-80 tahun mengalami disfungsi ereksi,” tambahnya.

Dengan demikian, gangguan seksual pada pria dapat terjadi pada berbagai tahap respons seksual, seperti gangguan hasrat rendah, hipogonadisme (kadar testosteron rendah), disfungsi ereksi atau impotensi, gangguan ejakulasi dan orgasme, kelainan bentuk penis seperti kurvatur penis, kelainan ukuran penis, dismorfofobia, serta priapismus atau ereksi berkepanjangan tanpa rangsangan.

Dokter Widi juga menekankan bahwa penyebab gangguan seksual sangat beragam dan dapat mencakup masalah psikologis, organik (kelainan anatomi atau fungsi organ), maupun campuran. “Konsep gangguan seksual mencakup aspek yang lebih luas, termasuk masalah seksual, biologis, psikoseksual, sosiobudaya, dan hubungan interpersonal,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *